Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pekerja Dokter Lintas Batas di Afrika Dikabarkan Menggunakan Jasa Pelacur

Ama Farah
Terakhir diupdate: 21 Juni 2018 19:48 7:48 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 21 Juni 2018 19:48
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Para pekerja organisasi bantuan kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (Dokter Tanpa Batas) menggunakan jasa pekerja seks komersial saat bertugas di Afrika.

Hal tersebut diungkapkan empat wanita mantan pekerja MSF dalam program acara BBC yang dipandu Victoria Derbyshire.

Salah seorang pekerja senior mengatakan bahwa perilaku seksual dengan menyewa pelacur itu merebak di kalangan pekerja MSF. Bahkan, katanya, layanan seks dibarter dengan obat.

Keempat wanita itu berbicara dengan menyembunyikan identitasnya, karena khawatir mereka akan dimasukkan daftar hitam oleh organisasi-organisasi amal lain dan mengundang kemarahan dari staf lainnya, lansir BBC Kamis (21/6/2018).

Tuduhan itu dilayangkan kepada staf-staf lokal, bukan dokter atau perawat di MSF, yang juga dikenal sebagai Doctors Without Borders (Dokter Lintas Batas).

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Salah sekorang pekerja wanita itu, yang bekerja untuk kantor MSF di London, mengatakan pernah melihat seorang staf senior membawa sejumlah gadis ke tempat akomodasi MSF di Kenya.

“Gadis-gadis itu masih belia dan konon katanya adalah pelacur,” kata wanita itu, seraya menambahkan bahwa tersirat keberadaan mereka di sana untuk melakukan hubungan seksual.

“Kolega saya, yang sudah tinggal di tempat yang sama dalam kurun waktu lama, merasakan bahwa hal tersebut kerap terjadi,” ujarnya.

Wanita ini mengklaim dia dan rekan lainnya merasa tidak berdaya untuk menegur staf pria itu “karena dia cukup senior.”

“Saya merasa, sebagian rekan pria yang berusia lebih tua ini, jelas-jelas menyalahgunakan kekuasaan. Mereka sudah berada di sana sejak lama dan mengambil keuntungan dari status mereka yang mulia sebagai seorang pekerja bantuan dari Barat,” imbuh wanita itu.

“Kami sering melihat pria-pria yang berusia lebih tua, paruh baya, berpesta pora dengan gadis-gadis lokal yang berusia jauh lebih muda. Nuansanya seksual.”

Seorang pekerja wanita lain, yang menangani pasien pengidap HIV di bagian tengah Afrika, mengklaim fenomena penggunaan jasa pelacur oleh pekerja MSF lokal itu merebak.

“Jelas sekali perempuan itu pelacur, tetapi dia (si pria) menyebutnya sebagai pacarnya dan dia (si gadis) akan menghabiskan waktu bersamanya dari malam ke malam,” kata perawat tersebut.

“Saya melihat salah satu kolega –yang berusia jauh lebih muda, masuk ke toilet bersama seorang pelacur lokal… Saya mengenalnya sebab dia juga bekerja di salah satu bar. Dia kemudian berkata kepada saya bahwa mereka melakukan hubungan seks dan pria itu membayarnya.”

Perawat wanita ini juga mengaku pernah mengalami pelecehan seksual dari sejumlah pria yang bekerja sama dengannya.

“Salah satu kolega sungguh membuat hidup saya merana,” kisahnya.

“Dia benar-benar menyiksa saya. Dia membawa sejumlah pelacur di depan mata saya…. Hal terburuk yang pernah saya alami ketika saya pergi selama beberapa minggu, lalu kembali ke kamar saya dan menemukan beberapa kondom bekas dipakai. Dia (si kolega pria) mengatakan kepada orang-orang bahwa dia sengaja meninggalkannya di sana. Saya merasa muak.”

Wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya pernah melaporkan masalah tersebut kepada atasannya, tetapi dia malah disuruh berdamai, bahkan diancam akan dipecat jika tidak berbaikan dengan koleganya tersebut.

Wanita ketiga menceritakan bahwa salah seorang kolega seniornya membarter obat dengan seks.

“Dia berkata, ‘Oh, mudah sekali membarter pengobatan dengan gadis-gadis di Liberia’,” cerita wanita itu menirukan kata-kata rekan kerjanya itu.

Kolega prianya itu mengatakan kepada dirinya bahwa gadis-gadis itu kebanyakan kehilangan orangtua akibat wabah Ebola dan mereka akan melakukan apapun yang sifatnya seksual agar mendapatkan pengobatan.

Tidak hanya itu, orang tersebut juga menceritakan hal serupa secara terang-terangan di depan tiga atau empat orang lain yang bekerja di Liberia bersama wanita ketiga pekerja MSF ini.

Begitu banyak cerita buruk perihal pekerja MSF di Afrika, tetapi BBC mengatakan pihaknya belum dapat memverifikasi tuduhan-tuduhan tersebut.

Sementara itu, MSF mengatakan memerlukan lebih banyak informasi sebelum pihaknya bisa melakukan investigasi.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Minta Audit Seluruh Pelayaran yang Dikelola Pemda
Tulisan selanjutnya Presidential Threshold Digugat, Ini Sembilan Alasannya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade

Berita
21 Juli 2026 18:02
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Wantim MUI Serukan Empat Agenda Strategis Umat Menuju Indonesia Emas 2045
MUI Gandeng 16 LAZ, Perkuat Sinergi Program Zakat untuk Pemberdayaan Umat
MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global

Terbaru

  • MUI Siapkan Fatwa ZIS untuk Pembayaran Iuran BPJS Kesehatan Pekerja Rentan
  • Fenomena “Ustaz AI”, MUI Serukan Jihad Digital di KUII VIII
  • MUI Gandeng 16 LAZ, Perkuat Sinergi Program Zakat untuk Pemberdayaan Umat
  • Pakar Hukum Tata Negara UGM Soroti Lemahnya Sistem Peradilan, MUI Didorong Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik
  • MUI dan UI Teken MoU Pengembangan AI dan Data Science di KUII VIII
  • Wantim MUI Serukan Empat Agenda Strategis Umat Menuju Indonesia Emas 2045
  • KUII VIII Bahas Naskah Akademik dan RUU Terkait LGBT, Akan Diserahkan ke Presiden dan DPR
  • Ahmad Muzani: Persatuan Umat Islam Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Bangsa
  • Tak Cukup Bermodal Cinta, Keluarga Harus Dibangun di Atas Maqasid Syariah
  • Krisis Identitas Berawal dari Cara Berpikir, Keluarga jadi Benteng Terakhir Peradaban

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?