Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Hasan al Hudhaibi: Antara Negara Islam dan Penjara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Januari 2014 10:32 10:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Januari 2014 10:32
Bagikan
Aktivis perempuan Ikhwanul Muslimin ikut jadi sasaran pemenjaraan militer Mesir
Bagikan

Oleh: Muhammad Ihsan

PENJARA bukanlah hal asing dalam kisah heroik para pahawan. Penjara tidak selalu digunakan untuk memberikan efek jera bagi para penjahat. Seringkali orang-orang yang berani menyuarakan kebenaran dan berkonfrontatif dengan kezaliman akan dipenjarakan dan diasingkan.

Masalahnya, justru di balik jerujilah mati/hati mereka menunjukkan ketajamannya. Banyak di antara kisah mereka yang sangat masyhur seperti kisah Nabi Yusuf as, Imam Ahmad , Sa’id Bin Jubair, Sayyid Qutbh , Hasan al Hudhaibi, Pangeran Diponegoro dan pahlawan Cut Nyak Dien serta ulama Buya Hamka.

Sayyid Qutbh melahirkan karya fenomenal Tafsir Fi Zhilalil Qur’an justru ketika di penjara. Ada Buya Hamka yang menulis Tafsir Al Azharnya hingga 30 jilid.

Bagi para pejuang, penjara bukanlah belenggu yang dapat menghentikan perjuangan mereka. Di antara para pejuang yang memberikan keteladan di dalam penjara adalah Hasan al Hudhaibi.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Hasan al Hudhaibi adalah mursyid ‘am kedua Al-Ikhwan Al-Muslimun, yang kini menjadi tertuduh rezim militer Mesir.

Syeikh Hasan al Hudhaibi lahir di arab Ash-Shawa-lihah, distrik Syabin Al-Qnathir, pada tahun 1309 H, bertepatan dengan bulan Desember, tahun 1891 M.

Ia belajar al-Qur’an di sekolah desanya. Hasan al Hudhaibi sebelum bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin adalah seorang hakim penasihat di mahkamah kasasi.

Ia menjalani kepemimpinan Ikhwanul Muslimin di masa-masa yang cukup berat. Ia menjalanani kepemininan Setelah Imam Hasan al-Banna (Mursyid ‘am pertama Al-Ikhwan Al-Muslimun) dibunuh oleh rezim kerajaan yang zalim.

Pada masanya ia dihadapkan oleh rezim Jamal Abdul Naser yang mengkhianati serta menzalimi gerakan Ikhwanul Muslimin.

Karena pengkhianatan tersebut, Hasan al Hudhaibi harus mendekam di penjara sang rezim. Penjara bukanya menjadi momok bagi sang Imam, justru menjadi sarana tarbiyah kepada para kader ikhwan. Beliau memberikan keteladan bagaimana bersikap teguh, sabar, dan tegas dalam situasi penindasan rezim.

Antara Penjara dan Negara Islam

Kepada kader ikhwan di dalam penjara ia pernah berkata dalam pesan-pesan yang sangat dalam maknanya.
“Penjara adalah kondisi kejiwaan, bukan dinding dan rantai.”

Ia juga pernah menyampaikan pesan penting lain dengan mengatakan, “Dirikan Negara Islam di jiwa kalian, niscaya Negara Islam berdiri di negeri kalian.” [dalam “Memoir Imam Hasan al –Hudhaibi”, An Nadwah]

Hudhaibi memberikan penekanan kepada para kadernya bahwa, Negara Islam harus diawali dengan jiwa-jiwa lebih dahulu.
Hasan al  Hudhaibi sangat menekankan pemantapan jiwa bagi seorang kader dakwah. Karena sudah menjadi Sunatullah dalam perjalanan dakwah pasti akan mendapatkan tantangan, ancaman, dan gangguan dari para penopang kebathilan.

“Medan perang kalian yang pertama ialah jiwa kalian.Jika kalian berhasil mengalahkan jiwa kalian, maka kalian lebih sanggup mengalahkan medan lainya.”

Ia juga sangat menjunjung tinggi akhlak Islam dalam dakwahnya. Pernah suatu ketika sebelum ia dipenjarakan oleh rezim revolusioner Mesir. Rezim tersebut melakukan pengkhianatan dan penindasan sadis kepada jama’ah al Ikhwan al Muslimin, seperti layaknya saat ini.

Maka salah seorang pengikut Hasan Al Hudhaibi ingin pergi ke kantor Rezim Revolusioner, namun Hasan al Hudhaibi justru menasehati orang tersebut dengan mengatakan, ”Jika seluruh ikhwanati dan dakwah mempunyai pelindung,  maka itu lebih baik dari pada sampai di puncak kemenangan dengan jalan pengkhianatan. Kita orang Muslim  sebelum segalanya. Jika kita menguasai dunia dengan membunh akhlak Islam, maka kita rugi.”

Itulah segelintir kisah Imam Hasal al Hudhaibi. Kendati ia kini telah meninggal dunia, namun kisah perjuanganya telah memberikan kita teladan terindah tentang kesabaran saat bertemu musuh dan tegar di atas kebenaran.

Ia mengajarkan kepada kita tentang arti kebebasan yang sesungguhnya. Kebebasan yang tidak pernah bisa dihalang-halangi oleh tembok-tembok beton atau jeruji-jeruji besi yang mengekang fisik kita. Sebagaimana kalimatnya, “Penjara adalah kondisi kejiwaan, bukan dinding dan rantai.” *

Penulis Founder & CEO Penaaksi[dot]com. Tulisan diresume dari  “Memoir Imam Hasan al –Hudhaibi” (Penerbit An Nadwah)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al ikhwan al muslimun
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Zionis Lebih Takut Diserang Rudal Palestina daripada Diboikot Eropa
Tulisan selanjutnya Kebahagiaan Hakiki: Pilih Rumah, Kendaraan atau Istri Artis?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet

Berita
8 Juni 2026 18:30
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?