Hidayatullah.com–Presiden Suriah Bashar Assad telah meminta komunitas Druze di negara yang tengah bergolak itu untuk melakukan dinas militer, beberapa hari setelah anggota minoritas yang telah diculik kelompok DAESH Juli 2018 itu dibebaskan.
Provinsi Sweida adalah jantung dari minoritas Druze Suriah, yang mencakup sekitar tiga persen populasi usai -perang di negara itu – atau sekitar 700.000 orang.
Sejak konflik meletus pada tahun 2011, ribuan minoritas Druze, terutama yang berada di Sweida, telah menolak wajib militer, sebagai gantinya bergabung dengan milisi lokal yang berjanji untuk melindungi wilayah tersebut.
Damaskus sejauh ini menutup mata selama milisi Druze tidak bersekutu dengan kelompok oposisi.
Baca: 3 Fraksi dari 100 Ribu Kekuatan Bergabung untuk Memerangi Bashar
Berbicara kepada sekelompok mantan sandera dan keluarga mereka hari Selasa, Bashar al Assad berterima kasih kepada tentaranya, mengatakan bahwa tanpa mereka “orang yang diculik tidak akan dibebaskan.”
“Kami berhutang besar kepada (tentara) dan untuk Anda … tanggung jawab Anda bahkan lebih besar,” katanya dalam sebuah video yang diterbitkan di akun Telegram resmi Bashar dikutip Arabnews.
Cara utama komunitas Druze dapat mendukung tentara adalah untuk melakukan dinas militer, kata Assad menambahkan.
Druze, adalah kelompok minoritas terbesar ketiga di Surah dan oleh ISIS digolongkan sebagai orang-orang yang menyimpang.
Gerilyawan Daesh menculik sekitar 30 orang – sebagian besar wanita dan anak-anak – dari Sweida pada akhir Juli saat serangan mematikan terhadap Druze selama perang saudara Suriah.
Baca: ISIS Culik 36 Perempuan dan Anak-anak dari Sweida, Suriah
Beberapa sandera meninggal sementara yang lain dibebaskan bulan lalu dalam pertukaran tahanan. 19 sisanya, kebanyakan wanita dan anak-anak, dibebaskan minggu lalu.
Sebelum perang dimulai, pria Suriah yang berusia 18 dan lebih tua dari itu harus melayani hingga dua tahun di kemiliteran, setelah itu mereka menjadi cadangan yang tersedia untuk panggilan di saat krisis.
Dalam tujuh tahun terakhir, korban jiwa, cedera, dan pembelotan diperkirakan telah mengurangi separuh tentara yang sebelumnya berjumlah 300.000 orang.
Sebagai kompensasi, pasukan mengandalkan tentara cadangan dan milisi serta layanan militer tanpa batas untuk wajib militer.
Sebagaimana diketahui, Negara Suriah atau Suriah atau Republik Arab Suriah memiliki penduduk sekitar 22,5 juta jiwa (perkiraan Juli 2012): sekitar 75% Muslim (Ahlus Sunnah wal Jamaʼah/Sunni), 15% Nusairiyah-Alawiyah (Syiah), sekitar 10% Kristen dan Druze dan dalam jumlah yang sangat kecil Yahudi.
Di Suriah, Druze mendukung Rezim Bashar, sementara di Palestina, Druze justru mendukung penjajah Zionis.**