Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Buya Hamka dan Pesan Ghīrah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Mei 2019 09:33 9:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Mei 2019 09:35
Bagikan
BUYA HAMKA
Bagikan

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi*

 

TUDUHAN demi tuduhan terhadap ummat Islam datang silih berganti. Dan, sepertinya enggan berhenti. Tuduhan sebagai penganut agama yang fanatik, tuduhan intoleran, bahkan tuduhan ‘garis keras’ datang bertubi-tubi. Tuduhan-tuduhan ini datang dari luar Islam (orang kafir, musyrik, atheis, dll) bahkan dari dalam (misal: kaum munafik, kaum liberal, sekular dan pluralis).

Jika tuduhan itu datang dari luar, tentu sangat wajar. Karena tugas mereka adalah menghancurkan umat Islam dan merusak agamanya. Tujuannya memurtadkan mereka atau, minimal, menghilangkan identitas mereka sebagai Muslim (QS. 2: 120, 217). Sehingga hilanglah kebanggaan mereka kepada Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna (QS. 3: 19, 85). Akhirnya, tidak lagi merasa terhina ketika Islam dihina. Tak lagi merasa malu ketika Islam dicela, difitnah, dan dituduh macam-macam. Ini namanya hilang Ghīrah, dalam bahasa Buya Hamka. Padahal Ghīrah terhadap agama inilah yang mampu bangkitkan kejayaan agama, bangsa dan negara.

Umat Islam, khususnya di Indonesia, seharusnya mulai sadar dan bangkit bergandengan tangan. Kenapa? Karena upaya menista Islam dan umatnya sudah mulai dikerjakan secara massif, terorganisir, bahkan brutal. Hebatnya lagi, dilakukan terang-terangan. Maka, umat Islam harus cepat sadar. Ayo, bangkitkan Ghīrah agamamu. Jangan diam! Sebagiamana dahulu para ulama dan tokoh umat ini tak rela Islam dinista dan dihina.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Tuanku Imam Bonjol bermaksud hendak mengundurkan dirinya dari medan perang. Tetapi setelah melihat masjid diambil menjadi kandang kuda beliau tidak jadi mengundurkan dirinya. Beliau menyentak pedangnya. Walaupun dia sudah tua! Tidak dihitungnya lagi apakah dia akan kalah atau akan menang. Apakah dia akan hidup atau akan mati. Tidak melawan itulah yang mati. Sebab tidak ada lagi Ghīrah! Yaitu tebal kuping dan tebal muka. Orang Islam bukanlah:

فطنا لكل مصيبة فى ماله #
وإذا يصاب بدينه لم يشعرى

“Sangat awaslah kalau harta bendanya tersinggung. Tetapi tidak ada perasaannya apabila agamanya kena musibah.”

Itulah bait syair pusaka Sayyidina Ali: ejekan kepada orang yang telah luntur rasa Ghīrah agamanya.

Semasa Belanda berkuasa dibuatlah propaganda bahwa orang Islam itu fanatik! Orang-orang yang terdidik dengan cara Belanda pun –lantaran cap– yang telah diberikan itu merasa dirinya rendah kalau kelihatan fanatik. Akhirnya anak Islam yang telah terdidik secara Barat tadi pun turut pula menuduh bangsanya dan kaumnya fanatik!

Diponegoro dengan niat hendak mendirikan Kerajaan Islam di tanah Jawa dan beliau “Amirul Mukminin” dituduh fanantik!

Perlawanan Imam Bonjol 16 tahun dengan gerakan Paderinya yang terkenal dituduh fanatik!

Perlawanan Cik Ditiro bahkan perlawanan rakyat Aceh selama 40 tahun, semuanya dituduh fanantik! Bahkan selama ummat Islam masih belum menerima penjajahan, selama itu pula mereka dituduh dan harus dicap fanantik.

Barulah akan hilang cap fanatik itu bila Ghīrah agamanya telah hilang. Baik dalam diri pribadinya ataupun dalam masyarakatnya. Barulah dia tidak dicap fanatik lagi setelah dia tak segan lagi makan babi, minum arak dan alkohol terang-terangan. Kalau dia duduk bersama-sama Belanda atau yang terdidik cara Barat di waktu Maghrib, malu dia hendak sembahyang, maka terpujilah ia sebagai orang yang “luas paham dan toleran”. Baru dipandang sebagai orang yang luas paham bila dia tidak datang ke mesjid lagi hari Jum’at. Padahal orang Belanda tetap ke gereja pada hari Minggu. Dan dia akan dicap fanantik kalau di rumahnya masih ada tikar sembahyang! Dan namanya akan dipopulerkan di mana-mana sebagai orang Islam yang maju, yang luas paham, yang progresif kalau ia telah turut pula memburuk-burukkan kiainya, mencela kehidupan santri, kaum santri itu kotor dan gudikan!

Tuan tahu apa sebabnya?
Sebab “Pesantren” itulah sumber tenaga kekuatan Islam di Indonesia selama ini. Maka pengaruhnya mesti dihilangkan; mesti ditimpakan kepadanya tuduhan-tuduhan dan cap fanatik. (Lihat, Buya Hamka, Ghirah dan Tantangan terhadap Umat Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), 10-11).

Selama ini memang begitu. Tak sedikit yang mengaku dirinya Muslim tapi hobi menuduh saudaranya fanatik, bahkan menuduhnya sebagai ‘Islam garis keras’. Inilah realita umat Islam, khususnya di Indonesia. Getir memang, tapi harus kita telan. Pahit, tapi harus dinikmati. Inilah realitanya.

Satu realita yang menuntut ketegasan sikap dan sifat. Jangan sampai musuh ramai-ramai menyerang, sementara kita kehilangan Ghīrah terhadap agama ini.

Padahal, sudah tiba masanya umat Islam mengamalkan firman Allah, ‘Muhammadur-Rasūlullāh wal-ladzīna ma‘ahū asyiddā’u ‘alā’l-kuffāri ruhamā’u bainahum’ (Qs. Al-Fath: 29).

Itulah ketegasan sikap, yang tercermin dalam dua hal: persatuan keyakinan dan persaudaraan yang rapat, kata Buya Hamka.

“Dia sesama sendiri, bersatu aqidah, bersatu pandangan hidup adalah cinta-mencintai, seberat seringan, sehina semalu, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing dengan sesama beriman. Di antara ‘awak sama awak’ yang sepaham tidak ada soal. Tidak ada yang kusut yang tidak terselesaikan, tidak ada keruh yang tidak terjernihkan. Itulah yang dinamai ukhuwwah Islamiyah.” (Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar: 8/406-407).

Karena dengan kesatuan aqidah, pandangan hidup dan ukhuwwah itu Ghīrah bisa dibangkitkan dan musuh bisa digentarkan. Jika tidak, yang lahir adalah para pengkhianat dan kaum munafik. Mereka berani jual bangsa bahkan agamanya demi dunia yang singkat dan fana. Mereka sudah tidak mikir ‘regenerasi’. Karena yang penting adalah “beras hari ini”. Ironis!

Seharusnya bangsa dan negara ini bersyukur punya penduduk mayoritas Muslim. Yang Ghīrah-nya untuk bangsa dan negara sudah teruji dan terpatri. Jangan lagi diragukan. Dan seharusnya malu menuduh umat Islam fanatik, intoleran dan garis keras. Padahal, sejak zaman penjajahan dan sampai kapanpun justru inilah modal bangsa Indonesia dalam mempertahankan marwahnya. Tanpa Ghīrah umat Islam, maka takkan pernah ada kemerdekaan. Meskipun kenyataannya, setelah merdeka umat Islam selalu “dikorbankan”.

Tapi, Ghīrah umat Islam untuk agama dan bangsanya takkan pernah padam. Karena, kata Buya Hamka, bila Ghīrah telah mulai hilang, jiwa akan menjadi gelisah. Kulit menghendaki Barat padahal badan masih berada di Timur.

Dan apabila Ghīrah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan.

Kalau masih ada pemuda Islam yang merasa bangga dibuang 15 tahun, karena Ghīrah akibat saudara perempuannya diganggu, alamat bahwa sesungguhnya Islam belum kalah. (Buya Hamka, Ghīrah, 8).

Maka, sepatutnyalah kita pertanyakan Ghīrah ini dalam dada. Masih adakah? Jika melihat ummat Islam Indonesia terpinggirkan, padahal mereka yang memperjuangkannya dahulu, dan merasa sedih lalu bangkit, itu alamat Islam belum kalah. Jika merasa aman-aman saja, damai-damai saja, itu alamat Ghīrah telah mati. Itu pula alamat bangsa ini segera mati. Jangan sampai Indonesia sebagai negara masih ada, tapi sebagai bangsa sudah mati. Kenapa? Karena matinya Ghīrah umat Islam. Karena hanya umat Islam yang berani mati untuk agama dan bangsanya.[]

*Aktivis Muslim dan penulis buku pemikiran

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya Hamkafanatikgaris kerasghirahIslam di Indonesiaizzah Islamradikal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aziz Qahhar Ajak Pasang Target Prestasi selama Ramadhan
Tulisan selanjutnya Komunitas Taman Baca NTT Berbagi Sembako Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Serangan rudal Iran di Tel Aviv Israel
Berita

Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’

Berita
8 Juni 2026 19:30
Suriah Buru Pelaku Kejahatan Perang, Eks Komandan Assad Ditangkap
PHK Tembus 23 Ribu Pekerja, DPR Desak Penguatan Perlindungan dan Percepatan Penyerapan Tenaga Kerja
Sedang Menangkap Ikan, Remaja Palestina Syahid Dihantam Tembakan Kapal ‘Israel’
Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia

Terbaru

  • Pasokan Avtur Saudi ke Eropa Melebihi Sebelum Penutupan Selat Hormuz
  • Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia
  • PHK Tembus 23 Ribu Pekerja, DPR Desak Penguatan Perlindungan dan Percepatan Penyerapan Tenaga Kerja
  • Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak
  • Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia
  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?