Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Pemimpin dan Pemenuhan Janji

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Juni 2019 06:03 6:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Juni 2019 06:03
Bagikan
Bagikan

JANJI bagi pemimpin muslim bukan sekadar urusan kontrak politik atau hanya masalah fundamental dalam menggapai kekuasaan. Keberadaannya sebagai “furqan” (pembeda) antara pemimpin mukmin sejati dengan pemimpin berciri khas munafik.

Dalam surah al-Ma`idah ayat 1 misalnya, perintah Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman adalah memenuhi ‘uqud’ (akad-akad/janji-janji):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَوۡفُواْ بِٱلۡعُقُودِۚ …….١

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al-Ma`idah [5]: 1)

Syeikh A. Hassan –ulama kenamaan Persis– dalam tafsir al-Furqan (1999: 207)  memaknai kata ‘uqud’ sebagai perjanjian yang ditujukan orang kepada Allah, sesama manusia bahkan untuk diri sendiri (seperti nazar).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Pemanggilan identitas mukmin sebelum perintah pemenuhan janji tentu bukan masalah biasa. Penulis mentadabburinya sebagai sebuah ciri dan komitmen keimanan. Orang yang mengaku beriman –apalagi sekelas pemimpin– di antara indikator fundamental adalah konsistensinya dalam memenuhi janji.

Tidak mengherankan, jika perbuatan sebaliknya justru menjauhkan mukmin dari  keimanannya dan menjerumuskannya pada jurang kemunafikan. Nabi sendiri pernah mewanti:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : ketika berbica, dia dusta; ketika berjanji dia menyalahi dan ketika diberi amanah, dia khianat.” (HR. Bukhari, Muslim)

Pada hadits ini, secara tegas dan jelas dikatakan bahwa  indikator orang munafik adalah ketika berjani, ia gemar menyalahinya. Itu artinya dia gampang obral janji; hal-hal manis yang disampaikan kepada publik sekadar menjadi polesan untuk mengangkat citra dirinya. Ketika citra dan kuasa didapat, maka janjinya menjadi basi.

Janji itu berat, sebagaimana hadits tersebut, mukmin sejati tak akan mengobral janji hanya untuk menggapai kekuasaan. Ketika dia berjanji, tentu dengan pertimbangan dan pemikiran yang matang. Ketika janji sudah disebutkan, maka pantang baginya menyalahi janji itu, kecuali ada uzur syar’i yang menghalanginya untuk menunaikannya.

Lebih dari itu, bagi muslim –apalagi pemimpin–, masalah pemenuhan janji bukan sekadar urusan duniawi yang ketika dia meninggal maka sudah selesai. Janji yang sudah terucap dari lisan seseorang, akan dipertanggung jawabkan hingga akhirat.

“Penuhilah janji kalian,” kata Allah dalam surah al-Isra ayat 34, “karena janji itu –kelak di akhirat– akan dipertanggung jawabkan.” Dari ayat ini juga bisa disarikan, pemimpin yang memenuhi janji adalah pemimpin yang bertanggung jawab dunia-akhirat.

Dari lembaran hayat sahabat Nabi, ada kisah menarik mengenai pemenuhan janji. Alkisah, Abdullah bin Amru bin Ash –sahabat yang dikenal ahli ibadah, banyak riwayat hadits– pernah berjanji pada seseorang yang bernama Harun bin Ri`ab untuk menikahkannya dengan perempuan putri orang Quraiys.

Menjelang wafatnya pun, janji itu dilaksanakannya, walau sebenarnya kondisinya tidak begitu memungkinkan. Bagi beliau janji adalah janji. Kalapun memiliki kesempatan mungkir, dengan berbagai alasan, tapi apa bisa mungkir kepada Allah kelak di akhirat? Maka dalam waktu sekritis apapun janji tetap harus dipenuhi.

Bersamaan dengan itu, ada statemen menarik dari beliau:

فَوَ اللهِ لَا أَلْقَى اللهَ –عزَّ وَجَلَّ—بِثُلُثِ النِّفَاقِ، اِشْهَدُوا أَنِّي قَدْ زَوَّجْتُهَا إِيَّاهُ

“Maka demi Allah! Aku tidak mau bertemu Allah –azza wajalla—dengan sepertiga kemunafikan, saksikanlah, bahwa aku telah menikahkan perempuan (Qurays itu) dengannya.”  (Riwayat Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir)

Sebuah teladan luar biasa dari sahabat besar sekaliber Abdullah bin Amru bin Ash. Menjelang kematian pun yang namanya janji harus ditunaikan. Dirinya tidak mau bertemu Allah dengan indikator kemunafikan. Lalu bagaimana dengan pemimpin yang pandai mengobral janji dan gemar menyalahinya? Na’udzu billah min dzalik.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:janjikemunafikanMunafikpemimpin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inilah Reaksi Internasional atas Meninggalnya Mantan Presiden Mesir Mohamad Morsi
Tulisan selanjutnya China Diduga ‘Memanen Organ-organ’ Para Tahanan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?