Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

China Bela Kebijakan Kekerasan di Xinjiang dalam ‘Buku Putih’

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Juli 2019 21:04 9:04 pm
Ahmad
Dipublikasikan 21 Juli 2019 21:04
Bagikan
Mulim Xinjiang selalu jadi sasaran dikriminasi pemerintah China
Bagikan

Hidayatullah.com–China hari Sabtu (20/7) membela kebijakan terkait wilayah Xinjiang, di mana penahanannya terhadap etnis Muslim Uighur telah menuai kritik dunia internasional dan negara-negara Barat lainnya.

Dalam Buku Putih itu China menyatakan Xinjiang adalah wilayah otonom itu diklaim tidak dapat dipisahkan dari Tiongkok, dan wilayah itu tidak pernah dikenal sebagai “Turkistan Timur“, kutip Bloomberg.

China menuduh kekuatan musuh internal dan eksternal termasuk separatis, ekstremis agama dan teroris mendistorsi sejarah dan fakta untuk memisahkan negara itu, kata kantor berita resmi Xinhua.

Ia menambahkan bahwa kelompok etnis Uighur ada di wilayah itu melalui proses migrasi dan integrasi lama. Dan, Xinjiang, lanjutnya, adalah bagian dari kesatuan Tiongkok dan kelompok multi-etnis.

Baca: 1 Juta Umat Islam Ditahan di Kamp Isolasi China 

Buku Putih juga menekankan bahwa Islam berakar pada budaya China dan bukan hanya kaum Uighur.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Awal bulan ini, lebih dari 20 negara menyerukan China segera menghentikan penahanan besar-besaran etnis Muslim Uighur di Xinjiang. Ini adalah langkah pertama yang diambil pada masalah tersebut di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), setelah Barat dan dunia mendesak China mengakhiri penahanan massal sebanyak satu juta Uighur, etnik minoritas Muslim.

Baca: Uighur dan Kisah Persekusi China

Kamp-kamp  “cuci otak” yang disebut China sebagai “kamp pendidikan ulang’ di wilayah paling barat Xinjiang telah mendorong seruan dunia pembela hak asasi manusia dan kelompok agama menekan China untuk segera mengakhiri kekerasan pada etnis minoritas Muslim.

Kamis lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menggambarkan cara China memperlakukan minoritas Uighur di Xinjiang sebagai “noda terburuk abad ini”.

Sebagai tanggapan, lebih dari 30 negara termasuk Arab Saudi dan Rusia menandatangani surat terbuka yang mendukung yayasan China di Xinjiang.

Baca: ‘Hilangnya’ Masjid-Masjid di Wilayah Xinjiang

Budaya etnis di Xinjiang secara historis mencerminkan unsur-unsur budaya China, dan peradaban Arab hanya memiliki pengaruh pada pergantian abad ke-9 dan ke-10 ketika Islam menyebar di wilayah itu, menurut makalah yang disebut “Sejarah Mengenai Masalah Xinjiang.”

“Masuknya Uighur ke Islam bukanlah pilihan sukarela yang dibuat oleh rakyat biasa, tetapi hasil dari perang agama dan pemaksaan oleh kelas yang berkuasa,” menurut surat kabar itu.

Agama Budha pernah menjadi agama utama di Xinjiang, katanya, menambahkan bahwa sekarang, sejumlah besar orang di Xinjiang tidak mengikuti agama apa pun, dan banyak warga Uighur mempraktikkan agama lain.

Xinjiang berkembang di masa lalu ketika ada lebih banyak keanekaragaman budaya, kata Xinhua mengutip bagian dari buku putih buatan China.

“Memiliki rasa identitas yang lebih kuat dengan budaya Tiongkok sangat penting bagi kemakmuran dan perkembangan budaya etnis di Xinjiang,” menurut surat kabar itu.

Etnis Uighur sempat mendirikan negara Turkistan Timur yang eksis hingga 10 abad sebelum akhirnya jatuh setelah digempur China pada tahun 1759.

Pada tahun 1863, bangsa Turkistan mampu mengusir orang-orang China dan mendirikan negara secara independen yang berlangsung selama 16 tahun.

Kondisi ini membuat Inggris khawatir kekaisaran Rusia bisa semakin luas di Asia Tengah. Khususnya ketika bagian utara dari Turkistan Timur dapat dikuasai.

Baca: Mengenal Muslim Uighur 

Karena itu, Inggris memberikan bantuan pada China untuk menjajah Turkistan Timur. Pada waktu itu sebagai panglima perangnya adalah Jendral Tang Gaozhong pada tahun 1878.

Penjajahan ini berjalan mulus. Sesudah itu, pemerintahan China menguasai Turkistan Timur, akhirnya  wilayah ini dijadikan sebagai bagian dari China. Pada bulan November 1884, Turkistan Timur dirubah menjadi Xinjiang.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaIslam di ChinakekerasanMuslim UighurTiongkokTurkistan Timuruighurxinjiang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rezim Al-Sisi Lakukan Lebih 1.000 Pelanggaran HAM di Mesir
Tulisan selanjutnya Feminisme dan Kontroversialnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?