Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Meneladani Panglima Shalahuddin al Ayyubi dan Nuruddin Zanki

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Desember 2012 11:22 11:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Desember 2012 11:22
Bagikan
Bagikan

Meneladani Panglima Shalahuddin al Ayyubi dan Nuruddin Zanki

MASIH ingat pernyataan mantan Presiden AS, George W Bush tiga bulan pasca tragedi 9/11 di WTC dengan menyatakan bahwa perang Salib akan berjalan lama. “This Crusade, this war on terrorism, is going to take a long time.” (Perang Salib dan perang melawan terorisme ini akan memakan waktu yang lama, BBC 16 September 2001).

Awalnya, ada yang berharap setelah terbunuhnya Usamah bin Ladin, Amerika akan menghentikan perangnya di Afghanistan. Bukankah alasan Amerika melakukan intervensi untuk membunuh Usamah? Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Obama menegaskan kembali bahwa perang ini belum juga berakhir.

Apalagi kalau memperhatikan pernyataan Tom Ridge mantan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Amerika dalam editorial The Washington Times (05/5/2011) saat mengomentari terbunuhnya Usamah bin Ladin dia mengatakan, “we killed the man but not the ideology.”

Artinya yang menjadi sasaran perang ini jelas adalah ideologi Islam yang berseberangan dengan nilai-nilai liberal yang dianut oleh Amerika Serikat. Menurutnya, ini adalah medan pertempuran, perang ide, way of life (cara pandang hidup) Islam dan Amerika yang tidak bisa berdamai dan hidup berdampingan.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Pernyataan mantan pejabat tinggi senior Amerika Serikat ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat dan bukan pula hal yang baru. Semua ini menunjukkan permusuhan abadi Barat terhadap dunia Islam bersifat agama dan peradaban yang telah berakar dalam hati dan pikiran Barat. Barat membangun semua hubungan ini atas dasar Perang Salib. Barat tak ingin umat Islam bangkit kembali.

Perang Salib sendiri berawal dari seruan Paus Urbanus II pada tahun 1095 di Clermont, Prancis, tepat pada bulan November. Seruannya membahana di seantero jagat wilayah Eropa. Masyarakat Eropa menyambut antusias dan dengan semangat yang telah membara mereka menyiapkan bekal sendiri guna keberangkatan ke medan laga dengan rela menjual barang-barang berharga miliknya.

Ceramah Paus Urbanus didasari permintaan bantun Byzantium (Romawi Timur) kepada Paus. Permintaan bantuan berupa kiriman pasukan perang dimaksudkan untuk menghadapi pasukan Turki yang sering menyerang wilayahnya. Permintaan inilah yang menjadi momentum mengumumkan perang total terhadap pasukan Islam demi merebut Al-Quds. Raymond of Saint-Gilles, Godfrey de Bouillon, Bohemond of Taranto, Baldwin, dan Tancred, merupakan sederet nama panglima perang pasukan Salib.

Setelah serangan bertubi-tubi ke jantung pasukan Islam, maka pada tahun 1099 atau 4 tahun setelah pengumuman perang Paus Urbanus II, Al-Quds jatuh ke tangan pasukan Kristen. Bersamaan dengan jatuhnya Al-Quds pula. Menurut sejarah, tidak kurang dari 70.000 orang Islam yang menghuni wilayah Al-Quds tewas dibantai.

Kekalahan ini membawa duka mendalam di hati umat Islam yang kala itu sibuk dengan debat dalam masalah mazhab, perebutan kekuasaan, yang menyebabkan saling berperang, saling bersaing, dan saling bermusuhan.

Panglima Shalahuddin dan Nuruddin Zanki

Usaha menyatukan umat Islam dimulai dari penguasa Mossul dan Halab (Aleppo), Imaduddin Zanki. Gerakan ke arah pembebesan yang lebih intensif dilakukan oleh putranya, Nuruddin Zanki.

Dalam sejarah Perang Salib, kaum Muslimin sangat mengenal sosok pejuang Shalahuddin al-Ayubi dibanding Nuruddin Mahmud Zanki ini. Namanya tak setenar Shalahuddin, sang pembebas kota Yerussalem dari kekuasan pasukan Salib. Meski demikian, Nuruddin-lah yang pertama kali menggelorakan semangat perjuangan itu.

Menurut penulis, Alwi Alatas, upaya Nuruddin Mahmud Zanki membuat umat Islam sadar atas kesalahan dan kelemahan dilakukan dengan menjauhkan pasukannya dari menenggak minuman keras, memerintahkan mereka untuk berkonsentrasi penuh dalam membebaskan Al-Quds dari cengkraman tentara Salib, menghindari konflik dengan sesama umat Islam, menyatukan wilayah-wilayah Islam yang tercecer di Suriah dengan lemah lembut sehingga menarik simpati publik secara luas, dan menerapkan pola kepemimpinan yang amanah, jujur, dan adil.

Seorang ulama Qutbuddin Annisaburi begitu khawatir akan keberanian Nuruddin dengan mengatakan, “Demi Allah, jangan gadaikan nyawamu dan Islam. Jika Anda gugur dalam peperangan, maka tidak seorang pun kaum Muslimin yang tersisa pasti akan terpenggal oleh pedang,” ujar Qutbuddin.

Maka ia pun menjawab, “Siapa Nuruddin itu, sehingga ia dikatakan demikian? Mudah-mudahan karena (kematian) ku, Allah memelihara negeri ini dan Islam. Itulah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah dengan hak melainkan Dia.”

Nuruddin adalah pemimpin yang selalu optimis. Pembebasan Baitul Maqdis di Yerusalem dari genggaman pasukan Salib adalah hal yang paling didambakannya. Hingga tahun 569 H/1173 M, kerja keras Nuruddin untuk menyatukan kekuatan umat Islam yang terkotak-kotak dalam kerajaan-kerajaan kecil mencapai puncaknya. Berbagai pertempuran dahsyat antara umat Islam yang dipimpinnya dengan pasukan Salib kerap terjadi. Berbagai serangan yang dilakukannya berhasil melemahkan pasukan Salib hingga terpecah belah.

Walhasil, sekitar 50 kota dan benteng yang sebelumnya dikuasai pasukan Salib berhasil direbut. Pada 570 H/1174 M, kekuatan Islam telah terbentang dari Iraq ke Suriah, Mesir, hingga Yaman. Saat yang dinanti-nanti untuk merebut Baitul Maqdis pun kian dekat. Namun takdir Allah SWT berkata lain. Nuruddin meninggal akibat penyakit penyempitan tenggorakan. Kepemimpinan kemudian dipikul muridnya, Shalahuddin al-Ayyubi.

Siapa Shalahuddin dan siapa Nuruddin Zanki?

Untuk melihat lebih jauh perjalanan mereka, kami mengundang rekan-rekan santri/mahasiswa/pelajar/seluruh kaum Muslimin mengikuti acara bedah buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” Ahad, 16 Desember 2012, pukul 08.00 sampai 11.00 WIB di Pondok Pesantren Daruttauhid, Jalan Gajayana – Sunan Ampel III no 10 Malang (Utara UIN Maliki Malang).

Bedah buku ini diharapkan dapat membuka wawasan dan menambah ilmu tentang sejarah masa lalu yang sarat dengan heroisme, pengorbanan, dan perjuangan. Raih Amal Saleh dengan ikut menyebarkan informasi ini. Semoga Allah membalas amal dengan balasan yang baik. *

Hubungi: Ustad Farid Muhammad 0852-3410-0084

Kiriman
Ali Akbar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-QudsPerang SalibShalahuddin al-Ayyubi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tentara Inggris Berencana Bantu Oposisi Suriah
Tulisan selanjutnya Agar Dapat Kerja Muslimah Inggris Lepas Jilbab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?