Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Umat Islam Indonesia dan Politik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Oktober 2019 14:33 2:33 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Oktober 2019 14:33
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | DALAM buku “Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965” (1996) karya Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif, ada fakta-fakta menarik mengenai umat Islam Indonesia dan politik.

Beliau secara khusus mengamati politik umat Islam pada masa Demokrasi Terpimpin. Pada kesempatan kali ini akan penulis bagikan tiga poin penting.

Pertama, umat Islam belum punya hubungan yang kokoh dalam hal politik. Meski sebelumnya mereka pernah bersama dalam wadah Masyumi, namun, pada akhirnya (seperti: PSII dan NU) memisahkan diri akibat alasan tertentu.

Kedua, pembelotan dari Masyumi akibat godaan-godaan politik atau dengan bahasa lain politik umat Islam terpecah belah akibat kepentingan.

Pada bulan Juli 1947 misalnya, unsur SI (PSII) dalam Masyumi melepaskan diri dari Masyumi. Setelah pisah, mereka mau diajak gabung dalam Kabinet Amir Hamzah. Waktu itu yang jadi wakil dalam kabinet bernama Wondoamiseno (Menteri Dalam Negeri), Sjahbudin Latief, (Menteri Muda Penerangan) dll.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Pada Mei 1952, NU menyusul PSII keluar dari Masyumi –sesuai keputusan kongres di Palembang– dan mendirikan partai sendiri. Pada Pemilu 1955 ia berhasil keluar sebagai salah satu partai besar setelah PNI dan Masyumi. Perwakilannya dalam Parlemen sebanyak 45 orang.

Sebab keluarnya NU di antaranya adalah perasaan tidak puas atas dominasi kelompok reformis (modernis) dalam dewan partai yang waktu itu diketuai oleh M. Natsir.

Menurut Syafii Ma’arif, “Godaan terhadap kekuasaan politik ini sebenarnya wajar-wajar saja. Yang disayangkan, pemimpin-pemimpin umat pada waktu itu tidak berusaha keras menciptakan islah politik berdasarkan semangat November di mana NU merupakan satu tulang punggung utamanya.” (39)

Akibatnya, waktu itu umat Islam Indonesia terpecah dalam empat partai: Masyumi, PSII, NU dan Perti (yang sejak awal memang tidak bergabung dengan Masyumi).

Ketiga, pendekatan berbeda antara Masyumi dan NU bersama partai sehaluan lain dalam Liga Muslimin dalam menghadapi Demokrasi Terpimpin.

Kalau Masyumi, menurut Istilah Prof. Syafi’i, menggunakan pendekatan Idealisme Martir. Rezim Soekarno (dalam Demokrasi Terimpin), 100 persen menyimpang sehingga harus dikritisi dan di lawan.

Sementara NU dkk, menggunakan pendekatan realistis dan pragmatis atau adaptatif. Dalil-dalil keagamaan pun diambil misalnya kaidah: “Ma La Yudraku Kulluhu, La Yutraku Ba’dhuhu” (yang tidak bisa didapat secara keseluruhan, maka tidak bisa ditinggalkan sebagian). Dalil-dalil lain pun dibuat untuk mengafirmasi rezim Soekarno. Jadi NU lebih akomodatif, sehingga bisa seirama dengan Demokrasi Terpimpin.

Akibat dari pembelahan ini amat besar bagi umat Islam. Yang pro dengan Soekarno, mereka mendapat akomodasi dan perlindungan. Sementara Masyumi dan para pendukungnya, mendapat represi dan banyak sekali yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Umat Islam pun terbelah.

Pemandangan ketika itu sangat miris. Umat Islam yang satu ditekan, sementara yang berada di dalam rezim mendapat keistimewaan. Bahkan NU pun tidak bisa membantu anggotanya Imron Rosjadi yang dari kalangan Sayap Pesantren yang kala itu dipenjara gara-gara tidak setuju dengan Demokrasi Terpimpin.

Itulah beberapa orientasi politik umat Islam Indonesia yang hingga kini belum benar-benar hilang, bahkan sering kali berulang.

PR-nya sekarang adalah bagaimana caranya agar politik umat Islam menjadi kuat atau setidaknya tidak terpolarisasi, tidak asal tergoda jabatan, dan benar-benar bekerja untuk kepentingan umat dan bangsa?

Kalau itu tidak dicarikan solusi, seberapapun banyaknya umat Islam di Indonesia, dalam bidang lautan politik hanya menjadi buih dan hanya mendapat peran pinggiran.*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Demokrasi Terpimpinislammasyumipolitikpolitik belah bambuumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Spanyol Terima Ratusan Ribu Yahudi sebagai Warga Negara
Tulisan selanjutnya Presiden Weah Enggan Membentuk Pengadilan Kejahatan Perang di Liberia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?