Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Sri Lanka Lakukan Kremasi Paksa Muslim yang Meninggal karena COVID-19

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 4 April 2020 17:45 5:45 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 4 April 2020 17:40
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com –Tindakan kremasi paksa dua Muslim yang meninggal karena terinfeksi virus corona di Sri Lanka mengejutkan umat Islam. Mereka menuduh pihak berwenang melanggar ritual penguburan Islam lapor Al Jazeera, Jum’at (3/4/2020).

Bishrul Hafi Mohammad Joonus, seorang pria berumur 73 tahun dari Ibu Kota Colombo meninggal karena COVID-19, Ia adalah Muslim kedua yang telah dikremasi di negara itu.

Anak laki-laki Bishrul, Fayaz Joonus, 46 tahun, mengatakan ayahnya yang memiliki kelainan ginjal dinyatakan positif terkena virus dua minggu yang lalu. Dia meninggal pada 1 April dan dikremasi pada hari berikutnya.

“Ayah saya dibawa dengan kendaraan di bawah pengawasan kepolisian dan dikremasi. Kami melakukan sholat di luar kamar mayat, tetapi itu bukan sholat jenazah yang biasanya dilakukan oleh kami yang Muslim,” kata Fayaz kepada Al Jazeera.

“Pemerintah perlu mengatur agar kami umat Islam dapat menguburkan orang-orang yang kami cintai sesuai dengan ritual penguburan Islam.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Jika ada pilihan untuk penguburan, pemerintah kami harus mengakomodasi. Kremasi bukanlah satu-satunya pilihan, kami ingin menguburkan orang yang kami cintai sesuai dengan cara Islam,” dia mengatakan pada Al Jazeera.

Kementrian Kesehatan Sri Lanka pada Selasa merilis pedoman COVID-19 yang mengatakan prosedur standar untuk korban meninggal karena virus ialah dengan kremasi. Ini membalikkan pedoman sebelumnya yang memperbolehkan penguburan dengan tata cara Islam.

Dikatakan juga jenazah tidak boleh dimandikan dan ditempatkan dalam kantong tertutup dan peti mati.

Amnesty mendesak pihak berwenang untuk menghentikan kremasi paksa. Para pemimpin dan aktivis Muslim telah menunjukkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membolehkan penguburan maupun kremasi bagi orang yang meninggal karena pandemi.

Pengacara terkemuka Ali Sabry mengatakan dalam sebuah posting di Facebook bahwa ia kecewa dengan keputusan pihak berwenang untuk mengkremasi tubuh Muslim, karena itu mengabaikan pedoman WHO, yang mengatakan bahwa tubuh dapat dikubur maupun dikremasi.

Dari total empat orang yang meninggal karena COVID-19 di Sri Lanka, dua adalah Muslim. Kremasi terhadap Muslim telah menyebabkan kesedihan mendalam di masyarakat.

Menurut Dewan Muslim Sri Lanka, Hilmy Ahamed, “Ini adalah agenda rasis dari pasukan ekstrimis Buddha” ujarnya kepada Al Jazeera.

“Pedoman yang dikeluarkan oleh WHO dipraktikkan oleh Inggris, sebagian besar negara-negara Eropa, Singapura, Hong Kong dan semua negara Muslim [kecuali untuk Sri Lanka],” katanya kepada Al Jazeera.

Amnesty International juga menyerukan kepada pihak berwenang untuk “menghormati hak minoritas agama untuk melaksanakan ritual terakhir” sesuai dengan tradisi mereka sendiri.

“Pada saat yang sulit ini, pihak berwenang seharusnya menyatukan masyarakat dan tidak memperdalam perpecahan di antara mereka,” Ujar Biraj Patnaik, direktur Amnesty International untuk Asia Selatan.

“Kerabat yang berduka dari orang-orang yang telah meninggal karena COVID-19 harus dapat mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang mereka cintai dengan cara yang mereka inginkan, terutama di mana hal ini diizinkan berdasarkan pedoman internasional.”

Muslim merupakan 10 persen dari 21 juta penduduk Sri Lanka. Tetapi hubungan mereka dengan mayoritas umat Buddha Sinhala memburuk pada tahun-tahun setelah berakhirnya perang saudara pada tahun 2009 di mana kelompok-kelompok Budha garis keras bertanggung jawab atas beberapa serangan terhadap bisnis dan tempat ibadah umat Islam.

Menyusul serangan mematikan pada April 2019 yang menewaskan lebih dari 250 orang, umat Islam menghadapi peningkatan permusuhan dari mayoritas Sinhala.

Sebuah organisasi Muslim yang kurang dikenal disalahkan atas serangan terburuk negara pulau itu sejak perang saudara antara pasukan pemerintah dan pejuang separatis Tamil.

“Ini hanya melukai perasaan minoritas,” Azath Salley, pemimpin partai politik Persatuan Nasional dan mantan gubernur provinsi Barat, mengatakan kepada Al Jazeera.

‘Sentimen anti-Islam’

Metode pemakaman telah menjadi pokok pembicaraan besar di negara itu, dengan sebagian besar media dituduh melakukan “histeria anti-Muslim” dan menuduh Muslim sebagai penyebab penyebaran virus.

Nalaka Gunawadenne, seorang analis media mengatakan di tengah pandemi COVID-19, sangat mengganggu dan mengecewakan melihat sentimen anti-Islam dan pidato kebencian anti-Muslim.

“Ini adalah kedaruratan nasional dan global yang dimiliki oleh semua manusia, dan bukan waktu untuk menyoroti perpecahan budaya kita. Virus corona tidak peduli dengan perbedaan etnis atau agama kita. Kita perlu takut virus – tidak pada satu sama lain – dan bersatu dalam menahan dan melawan penyakit,” katanya kepada Al Jazeera.

Pejabat pemerintah dari departemen layanan kesehatan tidak menanggapi panggilan berulang dari Al Jazeera untuk memberikan komentar.

Sementara itu, Fayaz, yang berada di pusat karantina darurat di Punani di provinsi timur, mengatakan dia tidak memberi tahu ibunya tentang kematian dan kremasi ayahnya.

“Dia memiliki penyakit jantung dan kami tidak ingin mengambil risiko. Dia tidak akan sanggup menanggungnya.”

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kremasi. RasisSri Lanka
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Karantina Penuntut Ilmu di Mesir
Tulisan selanjutnya Pulang dari London Dokter Jerman OPD Covid-19 yang Menolak Isolasi Meninggal di Rumah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?