Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Ramadhan yang Beradab

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 28 April 2020 10:56 10:56 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 28 April 2020 10:56
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | DIKISAHKAN  bahwa saat menjelang waktu berbuka puasa, Imam Malik Bin Anas menangis tersedu-sedu. Para muridnya keheranan dengan apa yang dilakukan oleh gurunya itu.

Kemudian mereka bertanya, “Wahai Guru,  kenapa anda menangis tersedu-sedu?”

“Aku malu kepada Rasulullah ﷺ Beliau adalah manusia terbaik yang menu berbuka puasanya hanya sedikit namun amalnya begitu banyak. Sedangkan aku adalah manusia yang hidangan berbuka puasanya sangat banyak namun amalku hanya sedikit.”

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Tentu kisah nyata tersebut bukan menggambarkan sosok Imam Malik sebagai orang yang doyan makan atau yang semisalnya.

Justru kisah itu menggambarkan betapa tawadhu’ dan kuatnya ikatan emosional beliau dengan sang manusia terbaik, Rasulullah ﷺ.

Imam Malik selama hidupnya dikisahkan tidak pernah mau buang hajat di wilayah kota Madinah karena demi menghormati jasad Nabi Muhammad ﷺ dikebumikan di Bumi Madinah. Beliau rela keluar Kota Madinah jika tuntutan buang hajat itu datang.

Bahkan beliau dikisahkan juga tidak pernah mau menaiki kuda atau kendaraan lainnya juga tidak pernah memakai sandal jika sudah berada di Madinah.

Lagi-lagi hal itu beliau lakukan karena rasa hormat, cinta dan takdhim kepada Rasulullah ﷺ.

Hari ini kita banyak saksikan contoh yang begitu berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh Imam Malik.

Jangankan mencontoh ketakdiman Imam Malik yang agak berat tersebut, untuk meniru cara berbuka puasa sajanya nampaknya kita masih kesulitan.

Imam Malik menangis karena malu kepada Nabi Muhammad ﷺ. Orang tak akan punya rasa malu manakala mereka tidak memiliki “cermin” untuk berkaca diri.

Sebaik-baik cermin adalah perihidup para kaum salaf solihin. Dan yang terbaik tentu saja bercermin kepada perihidup Rasulullah ﷺ sang cermin para kaum salafu sholeh.

Namun hari ini kita seolah kehilangan cermin. Atau bahkan mungkin salah memasang cermin.

Yang kita jadikan cermin bukan Rasulullah ﷺ dan para salaf sholeh namun para publik figur bentukan media. Kebanyakan orang tidak memahami adab dan ilmu melainkan hanya bermodal popularitas dan pengaruh di dunia media sosial.

Hingga apapun gaya hidup mereka kini kita tiru. Mulai cara ngabuburit hingga cara berbukanya kita jadikan kiblat. Di saat wabah pandemi yang makin memiskinkan rakyat tentu kita dituntut memiliki empati kepada sesama.

Apatah lagi di bulan Ramadhan yang memiliki misi edukasi berupa empati dan simpati sosial. Dan salah satu bentuk empati sederhana adalah berbuka puasa secara beradab.

Jika kita kesulitan untuk meniru kesederhanaan Rasulullah ﷺ dalam ihwal menu berbuka puasa yang hanya berupa air putih dan kurma saja, setidaknya ada adab yang masih bisa kita lakukan.

Berbagai menu berbuka yang variarif yang tersaji di meja makan baiknya dinikmati secara pribadi bersama keluarga saja.

Jangan lantas memfotonya dan membaginya di ruang publik media sosial demi berempati kepada mereka yang mungkin tak bisa menikmati hidangan berbuka puasa karena berbagai alasan yang menyertainya.

Ada satu wasiat penting dari Rasulullah ﷺ yang  patut kita renungi di zaman ini. Rasulullah ﷺ pernah berwasiat kepada sahabatnya, “Wahai Abu Dzar ! Jika kamu masak sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim)

Dan hadis yang serupa yang menyatakan, “Janganlah kamu menyakiti tetanggamu dengan bau masakan kuah yang direbus di dalam periukmu, kecuali kamu memberi kuah kepada tetanggamu sekedarnya.”

Di era media sosial ini tentu yang bisa “mengendus” bau hidangan kita bukan hanya tetangga dalam  lingkup sekampung namun seluruh dunia karena kita sudah hidup di zaman digital tanpa sekat fisik geografis.

Dan bagi kalangan yang kesulitan berbuka puasa, tentu unggahan foto atau video menu berbuka puasa lebih “menyakitkan” hati daripada sekedar bau masakan. Sebab unggahan itu lebih nyata dan lebih menggugah selera daripada sekedar bau masakan.

Maka menjadi manusia yang adil dan beradab tidak melulu lewat tindakan yang besar. Bahkan lewat cara sederhana semisal berbuka puasa pun kita bisa menerapkannya. Karena termasuk dikatakan adil manakala kita mampu menempatkan hak dari sesuatu sesuai kapasitas dan tempat yang layak bagi sesuatu itu.

Di saat pandemi wabah yang makin menyulitkan beban hidup rakyat itu kita harus bisa adil dalam menempatkan sikap dan laku kita.

Jaga empati dan simpati kepada sesama semisal dengan tidak melakukan swafoto hidangan berbuka kita adalah salah satu bentuk kita bisa berbuat adil karena mampu membaca keadaan zaman.

Mari jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah perubah diri agar bisa menjadi insan yang beradab. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BeradanRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perempuan itu Harus Pintar Karena Ia Madrasah Pertama Bagi Anaknya
Tulisan selanjutnya Populasi ‘Israel’ Sentuh 9,2 Juta termasuk 1,93 Juta Orang Arab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?