Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

Mahmud
Terakhir diupdate: 11 Maret 2026 14:53 2:53 pm
Mahmud
Dipublikasikan 11 Maret 2026 16:00
Bagikan
Bagikan

Hiadayatullah.com – Ramadhan bagi para pencinta sejati merupakan arena perlombaan menuju puncak spiritualitas. Di jantung bulan mulia ini, terselip satu permata yang dikejar oleh umat Islam: Lailatul Qadar. Akan tetapi, kemuliaan tersebut tidak diberikan cuma-cuma, melainkan menuntut proses memantaskan diri yang melibatkan estetika lahiriah, kesungguhan raga, dan ketulusan batin.

Langkah awal dimulai dari hati. Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam “Lathā’ifu al-Ma’ārif” (1999: 348) mengisyaratkan bahwa karunia agung ini hanya akan menemui jiwa yang haus dan fokus kepada Allah. Memantaskan batin berarti membangun tekad kuat dan rasa butuh mendalam kepada Allah.

Beliau mengingatkan: “Orang yang beriiktikaf telah menahan dirinya untuk taat kepada Allah dan mengingat-Nya, memutuskan segala hal yang dapat menyibukkannya dari Allah, dan menghadapkan hati serta raganya hanya kepada Rabb-nya dan apa yang mendekatkannya kepada-Nya. Maka tiada lagi baginya perhatian selain Allah dan apa yang diridai-Nya.”

Dengan sangat indah, sosok Dawud ath-Tha’i mengutarakan suasana batin seperti ini:

هَمُّكَ عَطَّلَ عَلَيَّ الهُمُومَ، وَحَالَفَ بَيْنِي وَبَيْنَ السُّهَادِ، وَشِدَّةُ الشَّفَقِ مِنْ لِقَائِكَ أَوْبَقَ.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman

“Perhatian hatiku kepada-Mu (Allah) telah memadamkan segala kegelisahan lain. Ia menjadikan aku bersahabat dengan begadang, dan kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan-Mu hampir melumpuhkan diriku.” (Ibnu Qutaibah, ‘Uyūn al-Akhbār, II/315)

Inilah persiapan esensial: menjadikan keridaan Tuhan sebagai satu-satunya kekhawatiran terbesar. Ketika seseorang takut kehilangan momentum ampunan, raga akan dengan sendirinya menjadi ringan untuk bersujud.

Selanjutnya, cahaya malam kemuliaan tak akan sudi masuk ke bejana hati yang kotor. Para pendahulu dari kalangan salaf saleh sangat menekankan detoksifikasi jiwa dari noda maksiat. Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa dosa adalah beban yang memberatkan langkah untuk bangun malam. Beliau mengutip pengakuan Iblis:

سَوَّلْتُ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ المعَاصِي، فَقَطَعُوا ظَهْرِي بِالاسْتِغْفَارِ  

“Aku goda umat Muhammad dengan maksiat, namun mereka mematahkan punggungku melalui istighfar.” (Hannad bin as-Sarry, az-Zuhd, II/463)

Sebelum mengenakan busana terbaik, seorang hamba harus menanggalkan pakaian kesombongan, hasad, dan dendam serta penyakit hati lainnya. Jika batin masih menyimpan noktah hitam, ibadah akan terasa hambar. Pengakuan akan kehinaan diri adalah pintu masuk utama; sebagaimana kaum salaf yang selalu merasa sebagai pendosa meski telah terjaga sepanjang malam.

Setelah tertata, kemuliaan jiwa harus terpancar lewat penghormatan fisik. Ulama seperti Tamim ad-Dari memiliki kain sutra seharga seribu dirham yang hanya dikenakan pada malam-malam ganjil (Ismail al-Ishfahani, at-Targhīb wa at-Tarhīb, III/190). Begitu pula Anas bin Malik dan Ayyub as-Sikhtiyani yang mandi, memakai parfum, serta baju baru untuk menghidupkan malam-malam sepuluh hari Ramadhan (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 346).

Mereka memahami bahwa memantaskan diri berarti memberikan yang terbaik. Jika kita berdandan rapi untuk menemui pejabat, bukankah Rabb semesta alam jauh lebih berhak atas keindahan hamba-Nya? Estetika ini bukanlah untuk kesombongan, melainkan bentuk ta’zhim (pengagungan) saat bermunajat kepada Allah di waktu paling intim.

Selain itu, Rasulullah memberikan prototipe tentang grafik pengabdian yang terus menanjak. Aisyah RA menggambarkan totalitas tersebut: “Jika masuk sepuluh malam terakhir, Nabi mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarga.” (HR. Bukhari). Frasa mengencangkan ikat pinggang bukan sekadar kiasan fisik, tapi kesiapan batin memutus distraksi duniawi (iktikaf) menuju interaksi total dengan Khaliq.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesalahan umum yang menganggap perjuangan hanya terjadi saat gelap menyelimuti bumi. Padahal, batin yang terjaga di malam hari adalah hasil dari kewaspadaan di siang hari. Imam asy-Syafi’i berpesan:

أَسْتَحِبُّ ‌أَنْ ‌يَكُونَ ‌اجْتِهَادُهُ فِي يَوْمِهَا كَاجْتِهَادِهِ فِي لَيْلَتِهَا.

“Aku menyukai (menganjurkan) agar kesungguhan (ibadah) seseorang di siang harinya (Jumat) sama seperti kesungguhannya di malam harinya.” (Imam Nawawi, al-Adzkār, 332)

Pernyataan ini diperkuat oleh Asy-Sya’bi yang menyatakan kemuliaan keduanya setara (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 368). Menjaga mata, lisan, dan pikiran dari hal sia-sia saat matahari bersinar adalah cara terbaik mengundang hidayah saat rembulan bertahta.

Puncak dari segala upaya adalah saat lidah melafalkan doa yang diajarkan Nabi:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ ‌عَفُوٌّ ‌تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai sikap memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi). Lantas, mengapa memohon maaf menjadi inti Lailatul Qadar? Yahya bin Mu’adz menjelaskan:

 لَيْسَ بِعَارِفٍ مَنْ لَمْ يَكُنْ غَايَةُ أَمَلِهِ مِنَ اللهِ العَفْوَ  

“Bukanlah orang yang mengenal Allah jika puncak harapannya bukan berupa ampunan.” (Ibnu Jauzi, Shifatu ash-Shafwah, II/293). Hamba yang matang batinnya menyadari bahwa kebutuhan primer mereka adalah pemutihan catatan amal. Sebagaimana nasihat indah dalam bait syair Ibnu Rajab:

يَا ‌كَبِيرَ ‌الذَّنْبِ، عَفْوُ اللهِ مِنْ ذَنْبِكَ أَكْبَرُ

أَكْبَرُ الأَوْزَارِ فِي جَنْبِ عَفْوِ اللهِ يَصْغُرُ

“Wahai orang yang memiliki dosa besar, ampunan Allah lebih besar daripada dosamu. Sebesar apa pun beban dosa, jika dibandingkan dengan ampunan Allah, ia akan menjadi kecil.” (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 370). Memantaskan diri adalah datang dengan tangan kosong dan rasa fakir di hadapan Tuhan untuk memohon ampunan dan maaf-Nya.

Di sisi lain, pendorong batin paling kuat –untuk memantaskan diri mendapatkan Lailatul Qadar– adalah kesadaran akan singkatnya waktu. Istri Habib Abu Muhammad sering membangunkan suaminya dengan kalimat menyayat:

 قَدْ ذَهَبَ اللَّيْلُ وَبَيْنَ أَيْدِينَا طَرِيقٌ بَعِيدٌ وَزَادُنَا قَلِيلٌ  

“Malam telah berlalu, sementara di depan kita ada perjalanan panjang sedangkan bekal kita sedikit”. Ketika seseorang merasa ini mungkin menjadi Ramadhan pamungkasnya, proses transformasi akan terjadi secara dahsyat. Ia tidak akan membiarkan satu detik pun berlalu tanpa dzikir.

Terakhir, kemenangan umat Islam di Badar Kubra pada bulan Ramadhan menjadi bukti inspirasi kekuatan spiritual untuk menggapai kesuksesan dalam meraih Lailatul Qadar. Kita kini seakan sedang berada dalam Perang Badar pribadi melawan kantuk dan tarikan duniawi. Siapa yang berhasil menaklukkan batin sendiri, dialah yang layak mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Semuanya –atas izin Allah– bermula dari usaha sungguh-sungguh memantaskan diri meraih malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Sudahkah kita pantas mendapatkan Lailatul Qadar? (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:lailatul qadarRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya LP2M MUI Gelar Silaturahmi, Fokus pada Penguatan Pembinaan Mualaf di Indonesia
Tulisan selanjutnya KPAI Soroti Krisis Anak: Fatherless hingga Bunuh Diri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania

Berita
8 Juli 2026 16:20
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran

Terbaru

  • Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
  • Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
  • MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
  • MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
  • BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
  • Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
  • Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
  • Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM
  • Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien
  • TikTok Laporkan Penonaktifan 1,7 Juta Akun Anak ke Komdigi

Mungkin Anda Juga Suka

Inspirasi RamadhanRamadhan

Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana

16 Maret 2026 05:00
BeritaInspirasi Ramadhan

Dapur Ramadhan Hammad: 500 Ifthar Harian Plus 50.000 Dirham Lebaran

15 Maret 2026 17:00
Ramadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 8 : Saat Hitungan Sebulan Ramadhan Jadi 120 Hari

15 Maret 2026 11:30
KajianRamadhan

Selain yang Iktikaf, Siapa Saja yang Berpeluang Mendapat Lailatul Qadar?

15 Maret 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?