Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tabayyun

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 11 Mei 2020 11:39 11:39 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 11 Mei 2020 11:38
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SETIAP jurnalis Muslim hendaknya memiliki rasa amat takut terhadap kemungkinan ia telah menyebarkan informasi yang salah. Sebab, kata Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat Alhujarat [49] ayat 6, informasi yang salah tersebut boleh jadi menimpakan musibah kepada suatu kaum.

Bahkan, bukan sekadar menimpa suatu kaum, juga menimpakan musibah kepada sang penyebar informasi di kelak kemudian hari. Ia akan menyesal, sebab ia akan memanen dosa atas kesalahan yang telah ia sebar. Karena itu, Allah Ta’ala menyebutkan dalam ayat tersebut, orang-orang yang beriman harus melakukan tabayyun manakala ia menerima khabar dari orang yang fasik.

Selengkapnya, ayat tersebut berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.”

Turunnya ayat ini, menurut Tafsir Ibnu Katsīr, dilatarbelakangi oleh peristiwa yang dialami oleh kepala suku Bani Mushthaliq bernama al-Hārits ibnu Dhirār al-Khuzā`i, dan salah seorang Sahabat bernama al-Walīd ibnu `Uqbah. Peristiwa ini diriwayatkan oleh banyak jalur, satu di antaranya dari Imam Ahmad.

Pada suatu hari Al-Hārits mendatangi Rasulullah ﷺ dan menyatakan ke-Islamannya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah ﷺ  “Wahai Rasulullah ﷺ  aku akan pulang untuk mengajak kaumku berislam lalu berzakat. Siapa yang menerima, akan aku kumpulkan zakatnya. Silahkan engkau kirimkan utusan kepadaku untuk membawa zakat itu kepadamu.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Setelah beberapa saat lamanya zakat dari masyarakat Bani Mushthaliq benar-benar terkumpul. Namun, pada tempo yang telah ditentukan, utusan Rasulullah ﷺ  yang seharusnya datang untuk mengambil zakat tersebut tak kunjung tampak.

Al-Hārits lalu mengira bahwa Allah Ta’ala dan Rasul-Nya marah.  Ia pun bergegas mengumpulkan kaumnya yang kaya dan berkata, “Dulu Rasulullah ﷺ pernah menentukan waktu untuk memerintahkan utusannya agar mengambil zakat yang ada padaku. (Sampai saat ini utusan tersebut tidak datang) sedangkan Rasulullah ﷺ  tak pernah menyelisihi janjinya. Tidak mungkin utusannya ditahan kecuali karena adanya kemarahan Allah dan Rasul-Nya. Maka dari itu, mari kita mendatangi Rasulullah ﷺ .”

Rupanya, pada saat yang bersamaan, Rasulullah ﷺ  telah mengutus al-Walīd ibnu `Uqbah untuk mengambil zakat Bani Mushthaliq. Tapi, di tengah jalan, al-Walīd ketakutan. Ia pun kembali kepada Rasulullah ﷺ  sembari mengatakan, “Wahai, Rasulullah! Al-Hārits menolak menyerahkan zakatnya, bahkan hendak membunuhku.”

Mendengar laporan ini marahlah Rasulullah ﷺ  dan langsung mengutus pasukan untuk memberi peringatan kepada al-Hārits. Sementara itu, al-Hārits telah berangkat bersama kaumnya.

Di suatu tempat, bertemulah dua pasukan itu dan terjadilah dialog. Pemimpin pasukan yang diutus Rasulullah ﷺ  berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ  pernah mengutus al-Walīd ibnu `Uqbah, dan ia melaporkan bahwa engkau menolak membayar zakat, bahkan ingin membunuhnya.”

Al-Hārits menyahut, “Tidak benar itu. Demi Allah yang telah mengutus Muhammad ﷺ dengan sesungguhnya aku tidak pernah melihatnya sama sekali, apalagi datang kepadaku.”

Setelah al-Hārits menghadap Rasulullah ﷺ  dan menjelaskan duduk persoalannya maka turunlah surat al-Hujurāt [49] ayat 6 ini.

Dari kisah ini kita bisa paham begitu pentingnya tabayyun. Apalagi bila informasi datang dari orang-orang fasik, yakni orang-orang yang suka berdusta, orang-orang yang masih diragukan integritas kepribadiannya, bahkan termasuk orang-orang kafir. Khusus kepada orang yang terakhir ini, jurnalis Muslim bahkan harus meningkatkan rasa skeptisnya. Sebab, kekafiran adalah puncak kefasikan.

Karena pentingnya tabayyun ini maka jurnalis Muslim harus memasukkan tindakan ini dalam kode etiknya. Selengkapnya, kode etik tersebut berbunyi: Jurnalis Muslim harus melakukan tabayyun jika akan mempublikasikan berita yang menyangkut kepentingan umum, harkat dan martabat umat Islam, dan informasi yang belum jelas kebenaannya.

Tabayyun berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Ath-Thabari menyatakan, tabayyun bermakna, “Endapkanlah dulu sampai kalian mengetahui kebenarannya, jangan terburu-buru menerimanya.” Sedangkan Syaikh al-Jazā`iri memaknainya dengan kalimat, “Telitilah kembali sebelum kalian berkata, berbuat, atau memvonis.”

Tabayyun, dalam bahasa Indonesia, berarti klarifikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), klarifikasi berarti penjernihan, penjelasan, dan pengembalian kepada apa yang sebenarnya. Jadi klarifikasi dalam pemberitaan adalah tindakan jurnalis untuk memastikan informasi atau memastikan kebenaran berita dengan menghubungi pihak-pihak bersangkutan hingga isinya dapat dipertanggungjawabkan.

Informasi yang perlu diklarifikasi adalah informasi-informasi penting (naba’) yang berpeluang menimpakan musibah kepada pihak lain. Adapun informasi-informasi tak penting, gosip, ghibah, dan fitnah, lebih baik tidak sama sekali dikhabarkan. Terhadap informasi seperti ini, jurnalis Muslim sebaiknya mengambil sikap diam. Wallahu a’lam.*/Mahladi Murni

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamjurnalismepers Islamtabayyun
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dr Mahathir Tidak Pernah Setuju Bersatu Keluar dari Pakatan, Kata Putranya
Tulisan selanjutnya Ramadhan yang Berharga

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?