Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Parpol Tampak Sibuk , Raja Malaysia: Jangan Berpolitik Semasa Pandemi Covid-19

Ama Farah
Terakhir diupdate: 19 Mei 2020 19:42 7:42 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 19 Mei 2020 14:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah hari Senin (18/5/2020) memperingatkan para politisi agar tidak menyeret negerinya ke dalam perselisihan politik lagi.

Menegaskan bahwa sekarang rakyat sedang mengalami kesusahan dan menghadapi masa depan yang sulit akibat pandemi Covid-19, Raja mengatakan para politisi seharusnya tidak menyulut api permusuhan dan perpecahan.

“Anggota parlemen yang terhormat hendaknya senantiasa menunjukkan kedewasaan dalam politik. Ini termasuk memahami penderitaan rakyat, mengutamakan kepentingan mereka, memegang prinsip-prinsip keadilan, mempraktikkan budaya politik bersih, dan menahan diri dari mengusik sensitivitas agama dan rasial serta kedaulatan dan posisi Penguasa-Penguasa Malaysia.”

“Itulah mengapa pemerintahan saya dalam masa rapat pertama hari ini hanya memiliki satu agenda, yaitu Pidato Kerajaan saya dalam kaitannya dengan pembukaan masa sidang baru parlemen,” kata Raja Malaysia itu yang disambut dengan tepukan meriah dari anggota-anggota Dewan Rakyat dan Dewan Negara (senat), seperti dilansir kantor berita Bernama.

Dalam pidato kenegaraan ketika membuka sidang ketiga Parlemen ke-14 di Bangunan Parlimen Malaysia, Al-Sultan Abdullah berpesan agar politisi tidak membiarkan perbedaan pendapat di antara mereka menyebabkan permusuhan dan pertengkaran, tetapi hendaknnya mengubahnya menjadi upaya untuk membangun dan mempersatukan bangsa.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Rakyat, ujar Raja, harus bekerja sama dengan pemerintah guna memastikan kesinambungan pembangunan nasional.

Pidato kenegaraan ini disampaikan ketika saat ini di berbagai daerah di Malaysia tampak dinamika politik yang cukup seru, di mana terjadi pula pergantian menteri besar (kepala pemerintahan wilayah negara bagian) dan hengkangnya ratusan politisi dari koalisi Pakatan Harapan. Suara-suara mantan PM Mahathir Mohamad pun kembali terdengar. Situasinya seolah mengingatkan orang akan gejolak politik “perebutan kursi PM antara Mahathir dan Anwar Ibrahim” pada awal tahun 2020, padahal Malaysia kala itu mulai menghadapi wabah Covid-19. 

Menjelaskan soal pergantian pimpinan pemerintahan bulan Februari lalu, Al-Sultan Abdullah mengatakan bahwa perdana menteri kedelapan Malaysia dipilih setelah partai-partai politik diberikan waktu yang cukup untuk melakukan kalkulasi politik, mempertimbangkan dan mengusulkan kandidat perdana menteri.

“Pada 24 Februari pukul 5 petang, saya beraudiensi dengan Tun Dr Mahathir Mohamad. Dalam pertemuan itu saya meminta Tun Dr Mahathir agar tidak mengundurkan diri. Namun, beliau bersikukuh pada keputusannya,” kata Raja Malaysia itu.

Menegaskan bahwa krisis politik tidak boleh dibiarkan berkepanjangan, Raja mengatakan dia bertanggung jawab untuk menunjuk perdana menteri baru sebagaimana digariskan dalam Konstitusi Federal.

Oleh karena itu, Raja menggelar pertemuan tatap muka satu per satu dengan setiap anggota parlemen guna mengevaluasi sikap mereka sendiri dan meminta perwakilan partai di Dewan Rakyat untuk menominasikan seorang anggota parlemen sebagai kandidat perdana menteri.

“Pasal 43 [Konstitusi Federal] memberikan kewenangan kepada saya untuk menunjuk seorang anggota parlemen yang menurut pertimbangan saya sepertinya akan mampu mendulang dukungan mayoritas dari kalangan anggota Dewan Rakyat.”

“Demikianlah, setelah melalui proses seksama dan sejalan dengan Konstitusi Federal, saya mendapati Tan Sri Muhyiddin Yassin mendapatkan kepercayaan dari mayoritas anggota parlemen dan layak untuk ditunjuk sebagai perdana menteri ke-8,” imbuh Raja, seraya menegaskan bahwa dia berusaha melakukan tugas dan kewenangannya itu dengan transparan dan sesuai koridor undang-undang dan demokrasi yang berlaku di Malaysia.

Dalam pidatonya, Raja Malaysia itu juga berpesan kepada PM Muhyiddin Yassin agar tidak mengabaikan amanah dan kepercayaan rakyat apalagi menyalahgunakannya.

Di bagian akhir pidatonya, Al-Sultan Abdullah menyatakan dukungannya untuk implementasi Rencana Aksi Persatuan Nasional yang diusung pemerintah dan menegaskan posisi Islam sebagai agama resmi negara, sebagaimana termaktub dalam Konstitusi Federal. Kedudukan Islam itu harus terus dikawal dan dijaga, dan pada saat yang sama orang yang memiliki kepercayaan lain harus diperbolehkan melaksanakan ajaran agamanya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al-Sultan Abdullahcoronaviruscovid-19Mahathir MohamadMalaysiapolitisi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Coronavirus: Pengadilan Prancis Bilang Rumah Ibadah Harus Dibuka
Tulisan selanjutnya Perempuan dalam Cengkraman Kapitalisme

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?