Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

AS dan Taliban akan Kembali Bahas Pembicaraan Damai di Afghanistan

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 9 Juni 2020 06:00 6:00 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 9 Juni 2020 06:00
Bagikan
[Ilustrasi] Pertemuan Taliban Afghanistan
Bagikan

Hidatayatullah.com–-Amerika Serikat (AS) akan kembali melakukan pembicaraan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung 18 tahun di Afghanistan mungkin bulan Juni ini. Sebuah sumber yang dikutip Reuters hari Senin (8/6/2020), mengatakan, kabar ini disampaikan sehari setelah utusan khusus Amerika Serikat mengunjungi Kabul dan bertemu para pemimpin Taliban di Qatar.

AS dan Taliban telah menandatangani perjanjian penarikan pasukan pada bulan Februari. Namun upayanya untuk mengantar kelompok milisi itu menuju pembicaraan damai dengan pemerintah Afghanistan telah mengalami kemunduran saat kekerasan melonjak pada Maret dan April.

Juru bicara Taliban Suhail Shaheen mengatakan bahwa utusan AS Zalmay Khalilzad telah membahas “dimulainya negosiasi intra-Afghanistan” di ibu kota politik kelompok itu, Doha, pada Ahad (7/6/2020).  Khalilzad sebelumnya telah bertemu kepala staf militer Pakistan, menurut pernyataan Kedutaan Besar AS di Islamabad.

“Kedua pihak memperhatikan kemajuan yang dicapai baru-baru ini lewat gencatan senjata pada saat Idul Fitri dan percepatan pembebasan tahanan serta mengurangi kekerasan menjelang negosiasi intra-Afghanistan. (Mereka) mendiskusikan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulai negosiasi intra-Afghanistan,” kata Kedubes AS pada Senin.

Perselisihan mengenai  permintaan Taliban untuk membebaskan 5.000 tahanan juga telah menghalangi kemajuan untuk menyelesaikan konflik, di mana Pakistan dianggap sebagai pemain utama di kawasan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Satu sumber istana presiden Afghanistan dan satu sumber diplomatik mengatakan kepada Reuters masalah-masalah itu secara bertahap diselesaikan dan momentum telah tumbuh dalam beberapa pekan terakhir untuk pembicaraan formal, yang diperkirakan akan dimulai bulan ini, kemungkinan di Doha. Namun sumber itu juga mengatakan kepada Reuters bahwa karena kerumitan akibat virus corona, beberapa negosiasi awal mungkin diadakan secara virtual.

“Gencatan senjata, pembebasan tahanan, dan pengurangan kekerasan telah menciptakan momentum untuk pembicaraan segera dimulai dan pemerintah sepenuhnya siap,” kata pejabat istana Afghanistan itu kepada Reuters, sambil menambahkan bahwa Presiden Ashraf Ghani optimistis.

Dalam perjanjian damai yang disepakati, Amerika setuju akan mengurangi jumlah pasukannya di negara itu dari sekitar 12.000 menjadi 8.600 tentara dalam 135 hari. Jika Taliban mengikuti komitmennya, semua pasukan AS dan pasukan asing lainnya akan meninggalkan Afghanistan dalam waktu empat belas bulan.

Para ahli memperingatkan, kesepakatan antara pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dan kepemimpinan Taliban dan penarikan pasukan adakh langkah pertama untuk mencapai perdamaian abadi.  Banyak warga Afghanistan yang kelelahan karena perang sejak invasi tentara AS dan sekutunya di negeri itu yang telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan orang melarikan diri sebagai pengungsi merasa khawatir.

Amerika Serikat menyerang Afghanistan setelah adanya serangan 9/11 di Menara Kembar WTC AS. Amerika menuduh kelompok Taliban, kelompok Islam yang sebagian besar etnis Pashtun yang telah memerintah Afghanistan dengan hukum Islam, sebagai pelindung al-Qaeda dan menolak menyerahkan pemimpinnya Osama bin Laden. Selama awal perang pada Oktober 2001, Presiden AS saat itu George W. Bush mengatakan misi AS adalah “merusak penggunaan Afghanistan sebagai basis operasi teroris dan menyerang kemampuan militer rezim Taliban.”

Peneliti untuk Costs of War Project di Brown University menyebutkan, lebih dari 157.000 orang telah tewas dalam perang Afghanistan sejak 2001. Sementara lebih dari 43.000 warga sipil telah tewas.

Pada 2018 terdapat hampir 2,5 juta pengungsi Afghanistan di seluruh dunia, menurut badan pengungsi PBB. Lebih dari 2.400 orang Amerika terbunuh dan 20.000 lainnya terluka. Sementara lebih dari 1.100 tentara NATO juga tewas. Sekitar 45.000 tentara dan petugas polisi Afghanistan terbunuh dalam lima tahun terakhir. Puluhan ribu pejuang Taliban diyakini telah terbunuh sejak 2001.

Perang Afghanistan diperkirakan telah menelan biaya sekitar 2 triliun AS Dolar dari pihak Amerika Serikat. Sementara rakyat Afghan yang paling banyak menderita kerugian lahir batin atas kehadiran tentara asing,  khususnya Amerika Serikat ini.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanAmerika Serikatinvasi ASperjanjian damaiTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Durasi shalat tarawih Arab Ibadah Haji akan Segera Dimulai, Angka Covid-19 di Saudi Malah Meningkat
Tulisan selanjutnya Abdul Mu’ti: Istilah The New Reality Lebih Netral

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?