Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Hamka Ditanya Makna Esa dan Orang Komunis Rajin Shalat, Ini Jawabanya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 September 2021 10:27 10:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Juli 2020 17:03
Bagikan
Buya Hamka
Bagikan

Hidayatullah.com | DALAM buku “Tanja Djawab” (1967) karya Prof. Dr. Hamka –yang merupakan kumpulan rubrik tanya jawab dalam majalah Gema Islam tahun (1962-1963). Ada dua soal menarik yang masih relevan jika diangkat pada era digital seperti saat ini, yaitu: tentang makna sila pertama dan paham komunis.

Terkait sila pertama, termaktub pada Majalah Gema Islam No. 22 tahun I, tanggal 15 Desember 1962). Isi pertanyaannya adalah tentang sila pertama yang terkhusus ditujukan pada makna “Esa” apakah dalam makna Islam, atau juga makna agama lain seperti: Kristen atau Hindu.

Setelah memberi prolog singkat bagaimana Pancasila menjadi kesepatan berbagai kalangan tokoh yang berbeda politik dan agama, beliau menjawab makna “Esa.”  Tulis Buya, “Ketuhanan Jang Maha Esa, dari segi manapun dilihat adalah lebih dekat kepada pendirian kita Ummat Islam Indonesia….Dan agama kitalah jang mengakui Kesatuan itu dengan mutlak.”

Untuk menguatkan argumentasinya, Hamka mengutip beberapa dalil dari al-Qur`an dan Hadits. Beliau menyebutkan surah Al-Ikhlas dan ungkapan (hadits):

لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ،يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

“Tidak ada Tuhan selain ALLAH, Jang berdiri sendiri-Nja, bagi-Nja seluruh kekuasaan dan Bagi-Nja seluruh pudjian2n. Dia Jang Menghidupkan dan Mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas tiap sesuatu.”

Setelah mengemukan dalil al-Qur`an dan hadits itu, ada catatan kesimpulan menarik dari beliau;

“Asal kita Kaum Muslimin sadar akan pendirian Tauhid kita, dan sadar pula akan lebih banjaknja bilangan kita, dengan mendjundjung tinggi Pantjasila jang mempunjai dasar pertama dan utama ,,Ketuhanan Jang Maha Esa”, kitalah jang akan lebih banjak dapat bergerak luas memadjukan agama kita dalam Negara Republik Indonesia ini. Tetapi kalau kita ber-malas2, ber-petjah-belah, maka Ketuhanan Jang Maha Esa akan tetap tertulis djuga mendjadi dasar Negara, tetapi akan ditafsirkan oleh jang memperserikatkan Allah dengan jang lain menurut tafsirannja masing2.”

Soal kedua adalah tentang paham komunis yang dimuat di majalah Gema Islam No. 32 tahun II, 15 Mei 1963. Ada penanya yang mempersoalkan kaum komunis di Indonesia. Kalau benar paham komunis anti Tuhan, lalu mengapa orang komunis di Indonesia masih melakukan shalat.

Oleh Hamka dijawab dengan lima paragraf singkat tapi padat. Pertama, komunis memang tidak mengakui adanya Tuhan alias Atheis. Bagi paham ini, Tuhan hanya ciptaan manusia belaka. Agama hanya satu lapisan atas saja dalam kehidupan manusia.

Kedua, jika ada orang komunis yang masih sembahyang atau shalat, maka disebut Hamka sebagai komunis yang belum baik atau belum matang. Bisa jadi, mereka pura-pura shalat agar citra mereka tidak dianggap Atheis sehingga bisa menarik simpati orang.

Ketiga, demikian pula orang Islam yang masuk komunis berarti Islamnya belum baik dan matang. Lebih baik diperjelas saja, mau komunis sekalian atau Islam yang kaffah.

Keempat, Hamka mengangkat bukti konkret tokoh komunis Chou-En-Lai (Pimpinan R.R.T) yang saat dalam konferensi di Bandung mengatakan, “Kami orang Komunis adalah orang2 Atheis.”  Ini semakin menguatkan bahwa komunis sejatinya Atheis.

Kelima, Hamka menyuruh pembaca untuk menelidiki dan mempelajari praktik-praktik penindasan agama yang dilaksanakan di negeri-negeri orang Komunis. Di U.U.D. Uni Soviet –kala itu—dibenarkan adanya propaganda anti agama. Jawaban Hamka ini tergolong blak-blakan dan berani. Sebab, jawaban itu ditulis pada tahun 1963 ketika PKI sedang kuat-kuatnya di rezim Orla.

(Sebagai tambahan mengenai poin kelima yang dikemukakan Hamka, penulis cuplikkan bagaimana bahaya komunis di seluruh negara menurut catatan penyair senior, Taufik Ismail dalam buku “Tiga Dusta Raksasa Palu Arit Indonesia” (IV/2007: 10) “Partai Marxis-Leninis-Stalinis-Maois (Partai Komunis) Sedunia Selama 74 tahun (1917-1991) membantai 120 juta manusia di 76 negara. Sehingga rata-rata 1.621.621 orang setahun, 135.135 orang sebulan, 4.504 orang perhari, 187,6 orang perjam, 3 orang permenit, 20 detik perorang. Selama 74 tahun di 76 negara.”)

Dari dua soal yang ditujukan kepada Hamka mengenai makna “Esa” dalam sila pertama dan orang komunis yang masih sembahyang, dapat disimpulkan bahwa menurut Buya sila pertama sangat identik dan dekat dengan ajaran Islam. Maka orang Islam harus semangat dan aktif dalam menjalankannya. Jika tidak, maka makna sila itu bisa ditafsirkan sesuai dengan kehendak kelompok lain.

Hal yang tidak kalah penting, sejatinya orang komunis kalau benar-benar menjalankan ideologinya, maka dia sudah pasti Atheis. Jika ada orang Islam yang berideologi komunis, atau orang komunis tapi Islam, maka Islam dan komunisnya belum matang.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:atheisHamkakomunispancasilaPartai Komunis IndonesiaSejarah PKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB: Masih ada 300 Pengungsi Rohingya Terombang-ambing di Lautan
Tulisan selanjutnya 60.000 Orang Meninggal akibat Covid-19 di Brazil, Jumlah Kedua Terbanyak di Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?