Hidayatullah.com— Kehadiran Israel di Libya telah lolos dari sebagian besar sorotan, tetapi banyak laporan media mengungkapkan bahwa Tel Aviv secara diam-diam mendukung jenderal pembangkang Khalifa Haftar melawan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) pimpinan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj, yang diakui PBB.
Israel memandang dukungannya kepada Haftar sebagai alat untuk mencapai kepentingan keamanannya. Entitas Zionis yang memproklamirkan diri sebagai Negara Yahudi, bagaimanapun juga, ingin tetap merahasiakan hubunganya dengan Haftar agar sang jenderal tidak dipermalukan di depan opini publik Islam dan Arab, terutama pendukung nasionalis di Libya timur.
Namun, kerahasiaan ini terancam ketika media “Israel” dan Arab mengekspos hubungan antara Zionis dan pemimpin Tentara Nasional Libya (LNA).
Pertemuan Haftar dengan Mossad
Dalam sebuah rubrik opini yang diterbitkan oleh Middle East Eye yang berbasis di London, jurnalis “Israel” Yossi Melman mengatakan beberapa anggota dinas intelejen Zionis bertemu dengan Haftar di Kairo beberapa kali antara tahun 2017 dan 2019.
Menurutnya, Mossad melakukan pelatihan bagi para perwira senior LNA di Mesir mengenai taktik militer, pengumpulan dan analisis intelejen, prosedur kontrol dan komando serta mendapatkan peralatan penglihatan malam dan senapan penembak jitu.
Di sisi lain, surat kabar Israel The Jerusalem Post melaporkan bahwa para agen Zionis berada di daerah-daerah yang dikontrol LNA antara Agustus dan September 2019 untuk melatih para milisi Haftar tentang perang jalanan. Laporan itu menambahkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) memasok pasukan Haftar dengan sistem pertahanan rudal “Israel” untuk mengusir serangan pesawat tak berawak oleh tentara GNA.
Namun, surat kabar Prancis Monde d’Afrique mengatakan dalam sebuah laporan awal bulan ini bahwa hubungan Haftar dengan Zionis terjalin sejak 2015 ketika pemimpin LNA bertemu dengan agen Mossad di Yordania. Laporan itu mengungkapkan bahwa Angkatan Udara “Israel” mendukung Haftar dalam membom kota Sirte, yang terletak 450 km sebelah timur Tripoli, tanpa menyebutkan tanggal dan target serangannya.
Aliansi dengan musuh
Para pendukung Haftar sering memuji dia karena partisipasinya yang masih disangsikan dalam perang 1973 antara Mesir dan Zionis ketika dia masih seorang perwira muda di pasukan Libya. Terlepas dari keaslian klaim itu, Haftar sekarang berkolusi dengan mantan musuhnya untuk mendapatkan dukungan mereka untuk mencapai tujuannya memerintah Libya.
Meskipun berpangkat tinggi, para perwira Haftar kurang profesionalisme dan pelatihan, terutama dalam hal perencanaan dan perang kota, yang bersedia ditawarkan “Israel”. Lebih penting lagi, Haftar membutuhkan sistem pertahanan udara “Israel” untuk melawan drone Turki di Libya yang telah memainkan peran penting dalam kekalahan mereka di lingkungan selatan ibukota Tripoli, dan kehilangan berikutnya dari pangkalan udara strategis Al-Watiya di antara daerah lain ke tangan GNA.
Selain itu, Haftar mencari pengaruh lobi Yahudi di AS untuk mempengaruhi para pembuat keputusan di Gedung Putih untuk memihak LNA.
Bulan lalu, dalam sebuah wawancara dengan harian Makor Rishon yang berbasis di “Israel”, Abdul Salam al-Badri, wakil perdana menteri pemerintah yang berbasis di Libya timur berusaha untuk mencari dukungan Israel. Berbicara kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pejabat pro-Haftar itu mengatakan mereka “tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi musuh dengan Tel Aviv”, menambahkan bahwa mereka berharap untuk dukungan langsung “Israel”.
Al-Badri melanjutkan dengan mengundang “Israel” untuk bergabung dengan inisiatif politik baru dengan Yunani, Siprus, Mesir dan Libanon untuk mencapai kesepakatan maritim bersama untuk menantang perjanjian yang ditandatangani antara Turki dan GNA yang berbasis di Tripoli.
Pernyataan ini menyebabkan kegemparan di antara banyak orang Libya, mendorong al-Badri untuk menyangkal berita tersebut.
Mengapa Israel mendukung Haftar?
Kekhawatiran keamanan Zionis adalah dorongan utama untuk dukungannya kepada Haftar. Sejak jatuhnya rezim Muammar Gaddafi pada tahun 2011, ada laporan bahwa senjata yang datang dari Libya diselundupkan ke Jalur Gaza melalui Mesir, sesuatu yang menyebabkan masalah keamanan serius bagi “Israel”.
Selain itu, Tripoli juga menjadi perhatian keamanan bagi Tel Aviv selama periode awal era Gaddafi serta permulaan Musim Semi Arab di negara itu pada Februari 2011.
Kenaikan Haftar di teater politik Libya pada tahun 2014 dan pengambilalihan berikutnya atas bagian timur Libya memberikan kesempatan bagi “Israel” untuk membuat penyangga terhadap transfer senjata dari Libya ke Gaza serta memiliki pemerintahan “ramah” di Libya dengan membentuk sebuah aliansi dengan aktor politik baru.
Selain itu, Libya yang kaya minyak dapat menghadirkan pasar baru untuk industri “Israel” yang ekspor senjatanya merupakan pendapatan ekonomi yang penting.
Akankah Haftar meninggalkan Palestina?
Zionis telah mencari aliansi dengan UEA, Mesir dan Arab Saudi untuk menghadapi ancaman bersama dari Iran dan kelompok-kelompok Islam. Karena Haftar berbagi keprihatinan yang sama dengan “Israel” dalam hal ini, hubungannya dengan Tel Aviv diharapkan semakin kuat.
“Israel” mengadopsi kebijakan “teman dari teman saya adalah teman saya”, dan “musuh dari musuh saya adalah teman saya.” Dalam konteks ini, keterlibatan “Israel” di Libya kemungkinan akan meningkat meskipun secara diam-diam.
Zionis khawatir dengan peran Turki di Libya
Kemenangan oleh GNA dan Turki melawan milisi Haftar telah mengkhawatirkan “Israel”, yang percaya bahwa kemenangan ini akan memperkuat posisi Ankara dan GNA di wilayah tersebut mengenai ladang hidrokarbon di Mediterania Timur.
Turki dan GNA sebelumnya telah menandatangani perjanjian untuk demarkasi perbatasan maritim yang menurut Zionis tidak sesuai dengan “kepentingan”nya.
Dengan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan “Israel”, Haftar dapat membuat marah negara-negara lain yang bermusuhan dengan Tel Aviv di wilayah tersebut, seperti Aljazair dan Tunisia, serta nasionalis Arab di negara-negara yang saat ini mendukung Haftar.
Untuk menghindari terkikisnya basis dukungan Haftar di wilayah tersebut, keterlibatan “Israel” dengan Haftar dilakukan di belakang layar dan berkoordinasi dengan Kairo.*