Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kisah Syeikh Abu Bakar Syatha dan Ijazah Nama “Haji Achmad Dachlan”

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 11 Agustus 2020 14:57 2:57 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 11 Agustus 2020 14:57
Bagikan
KH Ahmad Dahlan - Kitab I’anah Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in
Bagikan

Hidayatullah.com | ULAMA adalah pewaris para Nabi. Hadits inilah yang dipegang kuat Muhammad Darwisy Syeikh Abu Bakar Syatha saat di Kota Suci Makkah al Mukarramah. Kepada Syeikh Bakar Syatha inilah, Darwisy ‘meminum telaga ilmu’ yang kelak mengamalkanya di Indonesia.

Mengenal Sayyid Bakri Syatha al-Masyhur

Sayyid Abu Bakar Syatha seorang tokoh ulama besar yang nama lengkapnya ialah al-‘Allamah Abu Bakar Utsman bin Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimyathi al-Bakri. Beliau lahir di Makkah tahun 1266 H/1849 M. Beliau berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya.

Sayyid Abu Bakar seorang ulama besar yang bermukim di Makkah, sekaligus gurunya ulama-ulama berdarah Melayu, India, Pakistan, dan sebagian besar orang Makkah dan Madinah. Bagi para santri Indonesia yang belajar di Makkah dan Madinah kala itu, nama beliau sangat mashur.

Sayyid Abu Bakar Syatha merupakan seorang ulama Madzhab Syafii yang mengajar di Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah pada permulaan abad ke 14 H. Beliau adalah salah satu dari ribuan tokoh ulama Ahlussunnah wal Jamaah ‘Asya’irah wal Maturidiyyah yang menjadi rujukan ulama berbagai belahan dunia, khususnya Nusantara.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Sayyid Abu Bakar Syatha meninggal dunia pada tanggal 13 Dzulhijjah tahun 1310 H/1892 M setelah menyelesaikan ibadah Haji. Usia beliau memang tidak panjang (hanya 44 tahun menurut hitungan Hijriyyah dan kurang dari 43 tahun menurut hitungan Masehi). Akan tetapi umur beliau penuh manfaat yang sangat dirasakan umat Muslim berbagai belahan dunia.

Jasanya begitu besar, dan peninggalan-peninggalannya, baik karya-karya, murid-murid, maupun anak keturunannya, menjadi saksi tak terbantahkan atas kebesaran ilmu beliau. Peninggalan tertulis yang menjadi “magnum opus” beliau ialah Kitab I’anah Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in.

Kitab I’anah Ath-Thalibin merupakan syarah kitab Fath Al-Mu’in. Kedua kitab ini termasuk kitab-kitab fiqih Syafi’i yang paling banyak dipelajari dan dijadikan pegangan dalam memahami dan memu¬tuskan masalah-masalah hukum.  Sedangkan peninggalan ideologis berupa “rijal” adalah seorang murid yang bernama KH Achmad Dachlan yang mencerahkan dunia melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

Kisah Thalabul Ilmi

Pada tahun 1889an, yaitu beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Mohammad Darwisy (nama asli KH Ahmad Dahlan) berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana. Tradisi ini sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu.

Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah. Salah satunya ialah Sayyid Abu Bakar Syatha.

Muhammad Darwisy bermulazamah dan mengambil banyak disiplin keilmuan termasuk qiraah al-Qur’an kepadanya, ta’dzim sebagai seorang murid sangat diperhatikan oleh beliau.  Muhammad Darwisy sangat dekat dan menjadikan beliau sebagai qudwahnya dalam berbagai hal baik manhaj beragama maupun akhlak hingga menjadi salah satu murid yang amat dicintainya.

Hal ini ditegaskan dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi yang ditulis oleh MPI PP Muhammadiyah halaman 4, bahwasannya KH Dahlan mendalami manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam Ilmu ‘Aqaid, kitab Madzhab Syafi’i dalam Ilmu Fiqh dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf.

Hal ini sesuai dengan gurunya tersebut karena kedekatannya inilah Muhammad Darwisy mendapat perintah gurunya tersebut untuk berganti nama baru, yaitu Haji Achmad Dachlan. Sebagai seorang murid tentunya Muhammad Darwisy menyetujuinya, karena sesuatu pemberian dari guru itu berbarokah. Dengan inilah beliau mendapatkan ijazah nama baru dari Sayyid Bakri Syatha.

Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Achmad Dachlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Beliau mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya.

Ba’da Ashar, beliau ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, beliau diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Achmad Dachlan pun dipanggil Kiai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kiai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kiai Haji Achmad Dachlan.

Dari kisah inilah kita pahami bahwasannya KH Achmad Dachlan begitu memahami nilai seorang guru dalam kehidupannya. Apapun beliau lakukan demi manggapai ridha gurunya hingga mengubah nama beliau taat dengannya.

Hal inilah yang beliau tanamkan kepada para murid-muridnya yang menjadi penerusnya dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Hal ini bukanlah berlebihan karena telah menjadi budaya yang dilakukan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai jumhur ulama yang merepresentasikan Islam secara umum yang musalsal hingga Rasulullah ﷺ.

Taklim seperti inilah yang diistilahkan oleh Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Ba’athiyah sebagai “taklim abawy”.
Sebagai penutup marilah merenungi perkataan Sayyiduna Ali Bin Abi Thalib dalam hal memuliakan guru dengan seksama, beliau berkata: ”Aku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba.” Wallahua’lam bishawab.*/ Muhammad Arsyad Arifi, Ketua PCIM Yaman

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KH Ahmad DahlanMuhammadiyahPersyarikatan MuhammadiyahSyeikh Abu Bakar Syartha
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengadilan AS Keluarkan Perintah Pemanggilan MBS dalam Kasus Percobaan Pembunuhan Saad Aljabri
Tulisan selanjutnya Meski Pandemi, Minat pada Pariwisata Halal Tetap Meningkat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI

Berita
13 Juni 2026 10:30
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase
Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang

Terbaru

  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada
  • MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
  • AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
  • AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?