Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

WHO: Belum Ada Bukti Kuat Terapi Plasma Konvalesen Manjur untuk Covid-19

Ama Farah
Terakhir diupdate: 25 Agustus 2020 18:07 6:07 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 25 Agustus 2020 18:07
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hari Senin (24/8/2020) memperingatkan bahwa penggunaan plasma darah dari pasien sembuh Covid-19 untuk mengobati pasien lainnya masih dianggap terapi yang sifatnya eksperimental.

Hari Ahad, US Food and Drug Administration (FDA) –dengan wewenang khusus yang dimilikinya– memberikan izin apa yang disebut “penggunaan darurat” terapi plasma itu dalam rangka mempercepat ketersediaan obat yang dianggap menjanjikan di masa krisis kesehatan seperti sekarang ini. 

Patut dipahami tindakan itu tidak sama dengan atau bukan berarti memberikan stempel persetujuan bahwa terapi plasma itu aman dan efektif. Masih banyak studi yang harus dilakukan untuk membuktikan bahwa terapi itu benar-benar manjur untuk pengobatan Covid-19.

Sejauh ini, “Hasilnya belum konklusif,” kata kepala ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan saat memberikan keterangan pers seperti dilansir Associated Press. “Saat ini, itu masih berupa bukti berkualitas rendah.”

Terapi plasma konvalesen merupakan metode pengobatan yang sudah berusia seabad yang dulu dipakai untuk mengatasi wabah flu dan campak di era vaksin belum ditemukan. Terapi itu dicoba dipakai kembali ketika penyakit Ebola mewabah di Afrika. Ketika tubuh diserang bibit penyakit baru, tubuh bereaksi dengan menghasilkan protein yang disebut antibodi yang khusus untuk memerangi infeksi bibit penyakit tersebut. Antibodi mengapung dalam plasma, cairan berwarna kekuningan bagian dari darah. Plasma tersebut yang diambil pasien penyintas Covid-19 lalu diproses dan diberikan kepada pasien lain yang terinfeksi coronavirus.

Baca Juga

Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru
Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Swaminathan mengatakan WHO menganggap terapi plasma masih dalam tahap eksperimental dan masih harus terus dievaluasi. Dia mengatakan terapi itu sulit distandarisasi, karena plasma harus dikumpulkan secara individual dan setiap orang menghasilkan tingkat antibodi berbeda-beda.

Meskipun demikian, dia menyerahkan keputusan kepada masing-masing negara apakah mengizinkan penerapan terapi itu atau tidak, dengan mempertimbangkan risikonya masing-masing.

Tindakan FDA mengizinkan penggunaan terapi plasma itu diumumkan pada saat penjelasan pers hari Ahad (23/8/2020) oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang disebutnya sebagai sebuah “terobosan”.

Dalam surat yang memaparkan tindakan darurat FDA itu, Saminathan menegaskan bahwa terapi plasma konvalesen “hendaknya tidak dianggap sebagai standar perawatan baru” bagi kasus infeksi coronavirus, dan bahwa data yang lebih banyak lagi dari berbagai studi berkaitan dengan hal itu akan tersedia dalam bulan-bulan mendatang.

Sementara itu Martin Landray dari Universitas Oxford mengatakan sementara terapi plasma tampaknya “sangat menjanjikan” tetapi belum ada bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa terapi itu memang manjur untuk mengobati Covid-19.

Stephen Griffin, seorang associate professor bidang kedokteran di Universitas Leeds, mengatakan masih cukup banyak ketidakpastian tentang respon sistem imun terhadap Covid-19, sehingga potensi penggunaan terapi plasma konvalesen masih banyak tantangannya.

“Sepertinya pelajaran dari hydroxychloroquine belum benar-benar diresapi,” kata Griffin, merujuk pujian dan optimisme setinggi langit yang diberikan oleh Presiden Trump terhadap potensi obat malaria itu untuk menyembuhkan Covid-19.

FDA pernah memberikan izin darurat penggunaan hydroxychloroquine untuk pengobatan Covid-19, tetapi beberapa bulan kemudian menghentikan penggunaannya setelah berbagai uji coba dan studi menunjukkan obat itu tidak cocok untuk merawat pasien Covid-19 dan justru berdampak pada kerusakan jantung, ginjal, liver dan menimbulkan masalah lainnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:coronaviruscovid-19konvalesenplasmaterapiWHO
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dulu Ahok Bilang “Merem Saja Pertamina Untung Asal Diawasi”, Kini Pertamina Rugi, Apa Tidak Diawasi?
Tulisan selanjutnya Israel membatalkan pemungutan suara Turki Minta Interpol Tangkap Mohammad Dahlan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Kesehatan

Studi: Setiap Batang Rokok Merampas 20 Menit Kehidupan Perokok

5 Januari 2025 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?