Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Akan Manjurkah Vaksin Covid-nya? Jerman dan Belanda Berencana Tunda Suntikan Dosis Kedua

Ama Farah
Terakhir diupdate: 7 Januari 2021 09:27 9:27 am
Ama Farah
Dipublikasikan 6 Januari 2021 16:11
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Jerman dan Belanda sedang mengkaji kemungkinan penundaan vaksinasi dosis kedua coronavirus dalam upaya menginokulasi lebih banyak orang.

Dilansir Euronews Selasa (5/1/2021) European Medicines Agency mengatakan dosis kedua harus diberikan dalam kurun enam pekan setelah suntikan pertama guna memastikan proteksi maksimum.

Namun, sejumlah negara bermaksud memperpanjang jeda itu. Mereka ingin dosis pertama diberikan ke sebanyak mungkin orang yang dianggap paling rentan.

Menteri Kesehatan Jerman mengatakan kepada Euronews bahwa pihaknya sudah bertanya kepada Robert Koch Institute untuk mendapatkan opini pakar tentang apakah dosis kedua vaksin coronavirus buatan Pfizer/BioNTech yang telah memperoleh izin bisa diberikan lebih dari tiga bulan setelah dosis pertama.

Belanda juga berusaha meminta opini para ahli tentang kemungkinan penundaan suntikan dosis kedua, kata Kementerian Kesehatan Belanda mengkonfirmasi kepada Euronews.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Pemikiran untuk menunda vaksinasi dosis kedua itu muncul setelah Inggris mengatakan akan menunda pemberian dosis kedua sampai 12 pekan setelah dosis pertama, dengan harapan akan ada lebih banyak orang yang bisa diberikan dosis pertama. Ide ini menyulut perdebatan di kalangan pakar.

Pfizer dan BioNTech memperingatkan bahwa keamanan dan keampuhan vaksin belum dites dalam jadwal pemberian dosis yang berbeda. Mereka mengatakan mayoritas partisipan dalam uji klinik diberikan vaksin dosis kedua dalam kurun waktu tiga pekan.

Dosis kedua vaksin buatan AstraZeneca/Oxford diberikan 28 hari setelah dosis pertama ketika uji klinik keampuhan vaksin dilakukan.

US Food and Drug Administration (FDA), Tidak sepakat dengan otoritas Inggris. FDA mengatakan diskusi tentang perubahan dosis atau jadwal vaksinasi itu didasarkan pada keyakinan bahwa perubahan itu akan dapat membantu menambah lebih banyak orang yang divaksin.

FDA menyimpulkan bahwa perubahan itu tidak didukung oleh bukti ilmiah yang memadai dan kemungkinan justru akan kontraproduktif bagi kesehatan publik.

Namun, para ilmuwan di Inggris mengatakan penundaan tersebut sepertinya tidak akan mengubah respon sistem imun.

Sebuah pernyataan dari British Society for Immunology menyebutkan bahwa kebanyakan

pakar imunologi akan sepakat penundaan sampai delapan pekan pemberian dosis kedua vaksin antigen itu sepertinya tidak akan berakibat negatif pada keseluruhan respon imun dari penyuntikan sebelumnya.

Kemudian pernyataan itu mengatakan, “dengan jumlah kasus dan kematian yang terus meningkat signifikan, kita perlu melindungi sebanyak mungkin orang dari penyakit Covid-19 parah dalam jangka pendek.”

Para pakar di Inggris mengatakan risiko penundaan suntikan vaksin kedua cukup kecil dan dengan penundaan itu akan ada lebih banyak orang yang terlindungi dari pandemi ini.

“Pemerintah bekerja dengan asumsi bahwa suplai vaksin akan bertambah dalam waktu tiga bulan mendatang, dengan demikian pemberian vaksin dosis kedua tidak akan menghalangi orang lain untuk mendapatkan vaksin dosis pertama,” kata Eleanor Riley, professor bidang imunologi dan penyakit menular di University of Edinburgh. 

Sebagaimana diketahui vaksin coronavirus buatan Pfizer/BioNTech dan Oxford/AstraZeneca mengharuskan setiap orang diberi dua dosis agar terlindung dari Covid-19. Apabila suntikan kedua ditunda dan diberikan terlebih dahulu kepada orang lain, maka akan semakin banyak orang yang tercakup vaksinasi pertama.

Namun,Riley mengakui penundaan vaksinasi kedua itu bukan tanpa risiko.

“Risiko utama dari penundaan itu adalah sebagian orang mungkin tidak akan datang  untuk suntikan dosis kedua. Semakin lama Anda menunda maka akan ada saja halangan –orang mungkin pindah rumah, dapat pekerjaan baru, mengalami sakit lain, kehilangan ponselnya dan tidak dapat dihubungi,” papar Riley, seraya menambahkan bahwa dalam keadaan normal jarak antara pemberian dosis pertama dan selanjutnya biasanya didasarkan pada pertimbangan kemanjuran vaksin dan cakupan terbaik vaksin.

Riley menegaskan, tak peduli apa masalahnya, yang harus dipastikan oleh pihak berwenang adalah setiap orang harus mendapatkan vaksinasi dosis kedua.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:coronaviruscovid-19vaksin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menghadapi Waswas di Akhir Zaman
Tulisan selanjutnya vaksin-covid-19-gaza Vaksinasi Covid-19 di Malaysia Gratis, Sukarela Tidak Diwajibkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?