Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mubahalah dan Etika Politik: Marzuki Alie dan Nasihat Bang Haji Rhoma

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Februari 2021 07:28 7:28 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Februari 2021 06:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Tidak main-main yang dilakukan Marzuki Alie, mantan Sekjen Partai Demokrat dan mantan Ketua DPR-RI, saat menantang Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bermubahalah.

Pak SBY, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, dan Presiden RI ke-6, bisa dipastikan tidak akan menerima tantangannya, mengomentari tantangannya pun tampaknya enggan.

Jadi dipastikan mubahalah itu mustahil bisa dilakukan. Tentu Pak Marzuki Alie sudah memperhitungkan, bahwa mustahil mantan Bosnya itu akan menyambut tantangannya.

Mubahalah yang dimaksud, adalah memohon kutukan dijatuhkan Allah kepada orang yang salah/dusta, sebagai bukti kebenaran atas salah satu pihak.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Baca juga: Cukup Dihadapi Geisz Chalifah Seorang Tampaknya

Pak Marzuki Alie nekat melakukan itu, bisa jadi karena dua kemungkinan. Ia memang tidak berbohong dengan apa yang diucapkannya. Atau ia berhitung, bahwa mustahil Pak SBY akan menerima tantangannya.

Pak SBY menolak tantangannya, itu pun bukan karena ia memang bicara sebagaimana yang dituduhkan Marzuki Alie, tapi lebih pada untuk apa nanggapi hal demikian, mubazir pikirnya.

Apa sih yang dikatakan Marzuki Alie itu? Bobot dari pernyataannya itu dampaknya sebesar apa? Dan apakah etis atau patutkah hal itu disampaikan pada publik?

Etika Politik dan Adu Domba

Marzuki Alie, sebagaimana penuturannya, entah disadari atau tidak, mempermasalahkan itu karena Partai Demokrat, yang di mana ia ikut membesarkan gak ada perhatian terhadap dirinya. Karena itu ia marah. Itu berkenaan dengan permintaan klarifikasi soal tuduhan fitnah, bahwa ia bagian dari mereka yang berencana mengkudeta Partai Demokrat.

Karena tidak ada jawaban, maka ia lalu membuka file lama yang tersimpan dalam ingatannya, dan lalu disebarkan ke publik. Itu terkait cerita di tahun 2004, ia pernah mendengar langsung, bahwa “SBY bilang Megawati kecolongan dua kali”.

Kecolongan pertama, saat dia pindah, mungkin yang dimaksud saat SBY memilih mundur dari kabinet Presiden Megawati. Dan kecolongan kedua, saat saya (SBY) akan berpasangan dengan JK. Itu penuturan SBY padanya.

Sebenarnya apa yang disampaikan Pak SBY itu bukan sesuatu, hal biasa saja. Tapi menjadi seolah luar biasa, karena disampaikan Marzuki Alie, dan tentu digoreng setidaknya oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristianto, berharap berkah bisa jadi konsumsi menghantam balik Partai Demokrat, yang akhir-akhir ini berada dalam tren positif.

Apa yang disampaikan Pak Marzuki itu tidaklah salah, tapi siapa yang mau percaya. Tidak ada saksi yang bisa menguatkan kebenaran bahwa SBY pernah mengatakan, sebagaimana yang disampaikannya itu. Makanya itu ia memakai mubahalah, sebagai sarana agar publik mempercayainya.

Baca juga: Kembalinya Iwan Fals dan Dendang Parau Densi

Pak Marzuki Alie ini tergolong jenis yang nekat, berani menyampaikan hal sensitif tanpa bukti penunjang, lalu mubahalah menjadi andalannya agar publik mempercayainya.

Apa yang dilakukannya, tentu itu laku tidak beretika. Tidak punya etika sebagai politisi. Sebagai mantan politisi senior Partai Demokrat, mestinya meski ia sudah meninggalkan partai itu, namun tetap bisa menjaga marwah partainya, bukan malah melakukan manuver yang, maaf, tidak jelas.

Lalu, bisa-bisanya Pak Marzuki Alie mengatakan, bahwa tidak ada niatan mengadu domba Partai Demokrat dan PDIP. Itu hal aneh. Bukankah apa yang disampaikan itu berimplikasi politik? Dan bahkan akan memunculkan ketegangan baru antara Partai Demokrat dan PDIP.

Ada penuturannya yang lebih aneh lagi dan menggelikan, katanya, “Itu kan urusan saya dengan beliau (SBY). Ngapain semua orang ikut campur,” ujarnya (19/2/2021).

Baca juga: GAR ITB Itu Ngelunjak

Bukankah yang ngajak orang lain untuk ikut turut campur, bukannya Pak Marzuki Alie sendiri. Jika itu urusan berdua dengan Pak SBY, lalu mengapa persoalan itu disebar ke publik?

Mestinya bisa mengingat saat masa bersama-sama dulu, berjuang dalam satu perahu. Dan ingat-ingat juga, bahwa ada jasa tidak kecil Pak SBY menjadikan Pak Marzuki Alie sebagai Ketua DPR-RI.

Meski tidak bermaksud mengadu domba, tapi apa yang dilakukan Pak Marzuki Alie, itu bentuk adu domba. Dalam bahasa agama biasa juga disebut namimah. Punya konsekuensi dosa besar.

Mungkin sesekali Pak Marzuki Alie baik juga jika sudi mendengarkan lagu karya Bang Haji Rhoma Irama. Sebuah lagu penuh nasihat, “Adu Domba” nama lagunya. Berharap setelah itu, Pak Marzuki, dan bahkan kita semua bisa berpikir bijak sebelum mengedepankan nafsu. Ini petikan syairnya…

Adu domba-adu domba… mengadu domba… domba dipertaruhkan

Adu domba-adu domba mengadu domba… domba dipertaruhkan…

Demi keuntungan domba jadi korban diadu domba

Demi keuntungan domba kesakitan diadu domba

Adu domba-adu domba domba dipertaruhkan

Adu domba-adu domba domba dipertaruhkan

Sayang-sayang seribu kali domba-domba tak menyadari

Kasihan aduh hai kasihan domba-domba pun bermusuhan

Hentikanlah hentikan itu kezoliman

Janganlah-janganlah engkau mengadu domba… (*)

 

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:etika politikMarzuki AlieMubahalahRhoma Irama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Melancarkan ASI Ala Rasulullah SAW
Tulisan selanjutnya Penjualan Ponsel Menurun, Huawei Melirik Peternakan Babi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?