Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Turki Tegaskan Konstitusi Baru Demokratif dan Liberal, Analis: Barat Takut Bangkitnya Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Maret 2021 11:21 11:21 am
Ahmad
Dipublikasikan 5 Maret 2021 11:19
Bagikan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Bagikan

Hidayatullah.com–Turki akan memiliki konstitusi yang komprehensif, jelas, demokratis dan liberal untuk dipandu di abad mendatang, Presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan pada hari Kamis di tengah perdebatan untuk konstitusi sipil baru untuk Turki.

Hal ini disampaikan Erdogan selama pertemuan kepala provinsi Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) yang berkuasa melalui tautan video.

Ia menyatakan bahwa di antara reformasi terbaru, tawaran untuk konstitusi baru adalah yang paling signifikan.

“Kami akan mewujudkan konstitusi yang menyeluruh, eksplisit, demokratis, dan liberal yang akan memandu negara Turki hingga abad mendatang,” kata Presiden Recep Tayyip Erdogan selama rapat Partai AK, Kamis (5/3).

Erdogan mengatakan di antara reformasi Turki, konstitusi baru adalah hal yang paling krusial.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Bulan lalu, Erdogan mendesak semua partai politik untuk berpartisipasi dalam penyusunan konstitusi baru.

“Kami adalah pihak yang benar-benar mengubah wajah demokrasi dan ekonomi negara kami dengan banyak reformasi yang kami sebut revolusi sunyi,” katanya dikutip Anadolu Agency.

Namun seorang analis Turki, Mereve Şebnem Oruc mengatakan, pernyataan Erdogan hanya diplomasi di tengah kecemasan dunia pemimpin AKP itu akan menghidupkan kembali Kekhalifahan Ustmaniyah (Ottoman).

“Seperti yang telah saya bahas di kolom saya sebelumnya, tuduhan yang mengklaim bahwa Presiden Recep Tayyip Erdogan mencoba menghidupkan kembali Kekhilafahan Utsmaniyah –pernyataan yang selalu digaungkan kalangan analis politik Barat mengenai diskusi tentang kebijakan luar negeri Turki– tidak lagi memiliki bobot yang sama dengan kritik,” katanya dikutip Daily Sabah.

Menurutnya, Erdogan dan para pendukungnya tidak merasa ingin melawan argumen yang selalu mengarah pada tuduhan “neo-Ottomanisme.”

Sebaliknya, tuduhan ini membuat Erdogan lebih populer di mata banyak orang Turki, yang ingin berdamai dengan akar sejarah mereka, termasuk warisan Utsmaniyah mereka.

“Hampir setiap tautan ke masa lalu negara itu terputus setelah runtuhnya Kekhilafahan dan berdirinya negara Turki baru sejalan dengan prinsip-prinsip ketat pendirian, seperti laisisme garis keras dan nasionalisme Turki,” katanya.

Jejak Sekularisme

Sejak 1982, Konstitusi saat ini, yang dirancang setelah kudeta militer, telah mengalami sejumlah amandemen.  Kudeta berdarah 1980, menyebabkan penahanan ratusan ribu orang bersama dengan persidangan massal, penyiksaan dan eksekusi, masih menjadi noda hitam dalam sejarah politik Turki.

Namun saat Erdogan mengambil kekuasaan, Turki mulai memberikan hak-hak Muslim yang selama ini tidak diberikan saat sekularisme berkuasa.

Berkat perjuangan panjang pemerintahan Erdogan, akhirnya larangan jilbab di universitas Turki dicabut pada tahun 2010, menyusul tahun 2013 di institusi publik, tahun 2014 di sekolah, dan 2016 di kepolisian.

Erdogan juga mengembalikan fungsi Masjid Hagia Sophia pada 2020 yang selama era sekularisme sejak 1934 ditetapkan menjadi museum.

Erdogan pada 1 Februari telah mengumumkan, “Sudah waktunya bagi Turki untuk membahas konstitusi baru lagi.”  Proposal presiden datang empat tahun setelah referendum konstitusi 2017 meminta pemilih untuk memutuskan RUU 18 pasal untuk beralih dari sistem parlementer ke presidensial, di antara perubahan lainnya.

Amandemen Konstitusi pertama kali diperkenalkan bersama oleh Partai AK dan Partai Gerakan Nasionalis (MHP). Erdogan terpilih sebagai presiden di bawah sistem baru pada 2018.

Sejak Erdogan berkuasa, ia ingin Turki memiliki konstitusi yang dirancang sipil pada tahun 2023, bertepatan dengan ulang tahun keseratus berdirinya Republik Turki.  Pemimpin Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli juga menyuarakan kesepakatan.

Partai AK memiliki 289 kursi di 600 kursi parlemen, sedangkan MHP memiliki 48 kursi.  Saat ini masih dibutuhkan 360 suara untuk mengesahkan konstitusi baru.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:konstitusi baru turkiPresiden Recep Tayyip ErdoganPresiden Turki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Terkejut Enam Laskar FPI yang Meninggal Tersangka, Din Syamsuddin: Para Arwah Bisa Minta Allah sebagai Saksi
Tulisan selanjutnya LPPOM MUI halal Tinjau Kinerja LPPOM MUI di Masa Pandemi, Ketum MUI Beri Pesan Ini

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?