Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Cukupkah hanya dengan Pendidikan Karakter? (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 April 2014 16:56 4:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 April 2014 14:01
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh: Syahrial Zulkapadri

PENDIDIKAN karakter semakin hangat dibicarakan sebagai solusi atas merosotnya  kualitas pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang ada selama ini dianggap gagal dan banyak lulusan sekolah  (baca: sarjana) piawai hanya dalam menjawab soal ujian, namun mental dan moralnya lemah.  Banyak ilmu yang dimiliki, namun dipakai untuk mengambil keuntungan untuk diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain yang ada disekitarnya. Sementara orang-orang disekelilingnya banyak yang tersakiti akibat perbuatannya.

Bangsa China dinilai maju, karena mengklaim sebagai hasil pendidikan karakter. Bangsa Jepang juga dinilai berhasil dalam pengembangan teknologi karena pendidikan karakternya.

Lantas,  apa yang mebedakan orang komunis yang berkarakter dengan orang Muslim yang berkarater?

Orang Komunis, atau Ateis, dapat saja menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, berani, bertanggung jawab, mencintai kebersihan, dan sebagainya. Di Jepang, jika ketinggalan barang di taksi hampir pasti akan kembali. Di China, masyarakat ditanamkan disiplin yang sangat tinggi dalam soal sampah. Di jalan-jalan sulit ditemukan sampah. Bahkan, sampah selembar daun pun dapat mereka manfaatkan untuk bahan bakar.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Dalam soal pendidikan karakter bagi anak didik, berbagai agama dapat bertemu. Islam, Kristen dan berbagai agama lain dapat bertemu dalam penghormatan terhadap nilai-nilai keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap ksatria, tanggung jawab semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, dapat diakui sebagai nilai-nilai universal yang mulia. Boleh jadi, masing-masing pemeluk agama mendasarkan pendidikan karakter pada nilai agama masing-masing.

Bagi muslim, dia dapat juga dan bahkan harus berkarakter mulia. Tetapi, bagi muslim, berkarakter saja tidaklah cukup.

Artinya, karakter yang bagus dapat dibentuk pada setiap manusia, tanpa memandang agamanya. Jika orang non-Muslim dapat berkarakter, orang Muslim juga dapat seperti itu.

Konsep Adab dan Tauhid

Lalu, di mana perbedaan antara Muslim dan non-Muslim yang berkarakter?

Karakter berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Inggris: character dan Indonesia “karakter”, Yunani character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Dalam kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Sebagaimana juga didefinisikan oleh Thomas Lickona, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).  Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu sering kali dirangkum dalam sederet sifat-sifat baik.

Dengan demikian, maka pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar baku yang berlandaskan kepada nilai-nilai, norma-norma hidup dan kehidupan. Maka upaya ini menjadi jalan untuk menghargai persepsi dan nilai-nilai pribadi yang ditampilkan. Dan fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, tetapi praktiknya meliputi penguatan kecakapan-kecakapan yang penting yang mencakup perkembangan sosial siswa.  Sehingga tercapailah manusia yang baik di tengah-tengah masyarakat.

Beda antara muslim dengan non-muslim –meskipun sama-sama berkarater- adalah pada konsep adab. Yang diperlukan oleh kaum muslim Indonesia bukan hanya menjadi seorang yang berkarakter, tetapi harus menjadi seorang yang berkarakter dan beradab.  (“Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab”, Adian Husaini,  Kemunitas NuuN, 2011).*/bersambung “Siapa tak Beradab, tiadalah iman dan Tauhid padanya”  

Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) ISID Gontor angkatan V   

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabakhlakakhlaq
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ikhwanul Muslimin keluarkan Pernyataan Sikapi Aksi Mogok Makan
Tulisan selanjutnya Antara Makkah dan Madinah, Allah Mengajariku

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?