Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Selamat Jalan Bang Arief Munandar Sang Mujahid Dakwah Kosmopolit

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Juli 2021 15:56 3:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Juli 2021 14:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | SEKITAR pukul 20.00 (14 Juli), kabar itu menyeruak di grup-grup media sosial, bahwa Dr. Arief Munandar telah dipanggil-Nya. Mengagetkan. Terakhir kontak beliau tanggal 26 Juni, tepatnya pukul 13.20. Ia mengabarkan bahwa dalam beberapa hari ini, ia berada dalam kondisi kurang sehat.

Setelah itu WA susulan yang saya kirim belum sempat dibacanya. Sampai akhirnya sebuah video yang sempat ia podcast di RSUD Pasar Minggu, mengabarkan kondisinya saat itu, ia positif Covid-19. Dengan memakai selang oksigen, ia tetap ingin bicara menyemangati kawan dan para viewers nya.

Perkenalan saya dengan Dr. Arief Munandar belum terlalu lama. Dan yang mengenalkan adalah Mas Hersubeno Arief, jurnalis senior Forum News Network (FNN). Meski belum terlalu lama, tapi persesuaian frekuensi tampaknya yang menjadikan semua jadi cair. Apa yang saya harap darinya mendapat respons dengan baik.

Kesan saya, bang Arief biasa dia dipanggil di podcast nya, adalah pribadi yang humble dan terbuka. Orangnya asyik, dan jika bicara runtut berisi, tidak meledak-ledak. Cenderung bisa mendengar lawan bicaranya dengan baik, tidak ingin “berbalapan” seakan menunjukkan kepintaran.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Itu bisa dilihat saat ia mewancarai Pak Anies Baswedan di rumahnya pada akhir pekan. Ia hanya menyodorkan beberapa pertanyaan, dan pertanyaan itu dijawab nara sumber dengan baik. Suasana yang dibangun menjadi asyik, itu karena ia tahu fungsinya dan tidak perlu harus mengemukakan pendapatnya, apalagi beradu argumen dengan nara sumber. Ia mampu membuat nyaman nara sumber menyampaikan apa yang ingin disampaikan.

Begitu pula saat ia mewancarai Tokoh Reformasi, Pak Amien Rais, ia pun melakukan hal yang sama. Menampilkan nara sumber selayaknya sebagai sumber untuk digali pendapatnya. Dan terkadang ia mencoba meluruskan meski halus tak terasa, dan itu pada kejadian ’98 yang beberapa bagian lepas dari ingatan Pak Amien. Dan Pak Amien pun senang diingatkan dengan perangai santunnya.

Tidak tampak dari sikapnya ingin menonjolkan kemampuan dihadapan nara sumber. Tampak pribadinya jauh dari sikap itu. Ia memposisikan diri lebih sebagai “murid” yang bertanya dan menikmati jawaban-jawaban dari nara sumber yang diwawancarai. Itu setidaknya yang terkesan, melihatnya memberi keleluasaan pada nara sumber untuk menyampaikan apa yang diinginkan tanpa memotong-motong pembicaraan.

Bang Arief, jika berbicara selalu dengan intonasi terjaga, tidak mendaki-daki, datar-datar saja, dan selalu dihias dengan sungging senyum. Dalam beberapa obrolan Bang Arief yang saya ikuti, ia menghidangkan daging semua, dan viewers nya bisa menikmatinya dengan lahap.

Bersama jurnalis senior, Mas Hersubeno Arief ia “berduet” dalam obrolan “Off the Record”. Duet maut yang membuat kita dimanjakan dengan informasi-informasi yang belum banyak diketahui publik. Perbincangan yang menunjukkan kelas sepadan di antara keduanya. Tidak ada yang ingin menonjolkan diri. Saling mengumpan, dan yang duumpan menggiring untuk memberikan infofmasi mencerahkan.

Sebuah “proyek kecil” sebenarnya sedang saya gagas dengan Bang Arief, tapi takdir berbicara lain. Tapi setidaknya niat baik darinya khususnya, sudah tercatat sebagai amal kebaikan. Niat saja untuk melakukan kebaikan, meski belum sampai terealisir, tetap akan diganjar sebagai amal kebaikan. Tidak ada rasa yang saya sesali, meski keinginan belum tersampai. Justru rasa kehilangan sosoknya yang bergayut di pikiran.

Memilih Hidup di Medan Dakwah

Bekal akhirat Bang Arief in Syaa Allah sangat cukup. Ia memilih hidup di jalan dakwah dan menyiapkan kader intelektual muslim yang kosmopolit.

Bang Arief ini masuk kategori Ustadz gaul dengan penguasaan dan pemahaman agamanya yang cukup, wawasan keilmuan terutama bidang sosiologi dan ekonomi juga mumpuni. Gaya hidupnya pun menarik. Lihat tampilannya dengan celana jeans dan kaos oblong yang dipakainya.

 

Rumahnya dibagi dua. Bagian belakang untuk asrama/pesantren mahasiswa. Ada 12 mahasiswa UI terpilih penghuninya. Ia seleksi, didik sendiri, dan beri beasiswa. Keren. Anak-anak ini ia siapkan sebagai pemimpin masa depan. Salah satu anak didiknya adalah Fajar, ketua BEM UI, sebelum yang sekarang, Leon.

Di rumahnya ada dua mobil, tapi kemana-mana ia memilih naik taxi online. Istrinya Doktor Akutansi, staf pengajar du FE UI, kemana-mana dengan sepeda motor. Saat ini tengah mengurus gelar Profesornya. Bang Arief memiliki putri tunggal, yang memberinya 3 orang cucu.

Secara ekonomi Bang Arief sangat berkecukupan, karena ia juga memiliki kantor konsultan SDM, sebuah dunia yang sangat ia cintai. Setiap Idul Adha selalu berkurban dengan 2 ekor sapi limousin, yang harganya ratusan juta. Masya Allah.

Perjalanan Bang Arief yang singkat 51 tahun, ia lahir 15 November 1971, penuh manfaat. Bukan saja untuk dirinya, tapi untuk orang lain, bangsa dan negara. Semua yang mengenalnya, khususnya rekan-rekannya di FNN, tentu berharap Bang Arief terus membersamainya. Tapi Allah yang memilikinya punya rencana lain, dan in Syaa Allah itu indah buatnya.

Selamat Jalan Bang Arief Munandar, jejak tapak perjalananmu terukir indah dan sulit untuk bisa dilupakan, khususnya mereka yang ingin negeri ini berada dalam bingkai keadilan, sebagaimana yang selalu engkau kumandangkan. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan, khususnya istri dan putri semata wayangnya, semoga Allah menguatkannya. Teriring doa syahdu mengiringi kepergianmu… (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arief Munandarmujahid dakwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Keutamaan Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijah (2)
Tulisan selanjutnya vaksin hibah Menkes: Vaksin Hibah Sinopharm dari UEA Tak Dijual, Khusus untuk Difabel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT

Berita
13 Juni 2026 11:14
BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia
Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?