Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Mungkinkan Cita-Cita Ikhwanul Muslimin akan Mati?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Mei 2014 09:34 9:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Mei 2014 09:34
Bagikan
Bagikan

Oleh: Teuku Zulkhairi, MA

PASCA kudeta berdarah di Mesir bulan Juli 2013  membuat militer mempersulit gerakan  Al Ikhwan al Muslimun (IM) Mesir. Kudeta ini mengawali tragedi mengerikan yang dialami aktivis-aktivis gerakan Islam Ikhwanul Muslimin, di mana ribuan orang menjadi korban berdarah.

Tak cukup itu, IM dibubarkan dan dimasukkan dalam organisasi teroris oleh pemerintah kudeta. Semua dilakukan dengan dengan alasan yang dibuat-buat, penuh rekayasa. Pada saat yang bersamaan, hampir semua pemimpinnya ditangkap, disiksa dan dipenjara.

Padahal, Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011 secara sah memenangkan Pemilu Legislatif  Mesir 2012. Kemenangan ini membuat  Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Dr Muhammad Mursi memenangkan Pemilu Presiden mengalahkan Ahmed Shafik,  Perdana Menteri terakhir di bawah kekuasaan Husni Mubarak.

Memang tidak mudah bagi mereka untuk menjalankan pemerintahan untuk membangun Mesir yang berjaya. Bahkan, bukan saja tidak bisa menjalankan pemerintahan, di usia pemerintahan IM di Mesir yang masih sangat muda, baru setahun, mereka telah dikudeta oleh Militer dengan dukungan Kristen Koptik, kalangan sekuler dan liberal.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Bahkan, terakhir,  para pemimpin IM dan 682 pendukung legitimasi Muhammad Mursy akan dihukum mati oleh pengadilan Mesir. Vonis hukuman mati terhadap para pemimpin IM dan pendukungnya tidak melewati jalur persidangan yang semestinya. Para hakim hanya butuh waktu dua jam untuk menjatuhi hukuman mati.

***

Kalau kita perhatikan catatan sejarah, pemberangusan terhadap gerakan Islam politik sesungguhnya telah seringkali terjadi. Tercatat dalam sejarah, setelah memenangkan Pemilu, Partai FIS di Aljazair dibubarkan rezim militer. Partai Refah di Turki juga dibubarkan militer tidak lama setelah mereka memenangkan pemilu di Turki.

Partai Hamas di Palestina juga bernasib serupa, meski sudah menang Pemilu dengan cara yang bersih tapi tetap tidak diakui oleh Negara-negara Barat dan sekutunya di Timur Tengah. Bahkan, mereka dimasukkan dalam daftar organisasi teroris. Dan banyak contoh lain lagi.

Di Indonesia, setelah menang Pemilu dengan meraih suara 20 persen lebih secara Nasional pada tahun 1955, Partai Masyumi yang berideologi Islam yang didirikan Mohammad Natsir juga dibubarkan Presiden Soerkarno. Nampaknya, inilah resiko jika umat Islam membangun gerakan Islam Politik. Seperti kata seorang ulama, “Umat Islam beribadah akan dibiarkan, umat Islam membangun kekuatan ekonomi akan diwaspadai, dan jika umat Islam membangun kekuatan politik maka akan dihancurkan”.

Tidak akan mati

Pertanyaannya, setelah gerakan-gerakan Islam politik itu dibubarkan, apakah kemudian cita-cita gerakan itu mati? Nampaknya tidak. Pemberangusan terhadap IM sebenarnya telah terjadi berulang-ulang. Sejak didirikan pada tahun 1928, IM sudah 3 kali dibubarkan oleh pemerintah Mesir yang didukung militer hingga saat ini.

Pertama pembubaran IM pada tahun 1948. Bahkan, saat itu seluruh tokoh pendirinya dihukum mati, termasuk juga pendirinya yaitu Hasan al-Banna. Namun segala macam pemberangusan tidak juga menghancurkan kekuatan dakwah Ikhwanul Muslimin. IM kemudian masih tetap hidup. Kedua, pembubaran IM pada tahun 1954, namun IM kemudian masih terus berkembang hingga sebelum proses kudeta.

Dan pada 29 September 2013 yang lalu, IM kembali dibubarkan dengan tuduhan dan akal busuk kaum sekuler-koptik-liberal.
Apakah IM akan mati? Nampaknya tidak,  aktivis IM boleh dihukum mati, namun cita-cita IM juga masih akan terus hidup dan berkembang.

Sejak Presiden Mursy dikudeta, seluruh elemen rakyat Mesir bangkit melawan. Demontrasi di jalanan untuk menolak kudeta terus berlangsung sampai saat ini. Mereka menolak pemerintahan kudeta dan mendukung kembali legitimasi Prsiden Muhammad Mursy yang telah mereka pilih secara sah dalam Pemilu yang jurdil dan tanpa tekanan.

Di Masa Presiden Mursy memimpin Mesir, mereka merasakan kebebasan berpendapat. Media massa dan Televisi yang meskipun kontra pemerintahan Mursy dan IM namun tapi tetap dibiarkan hidup, demontrasi menentang IM dan Presiden Mursy tidak ditanggapi dengan kekerasan, sesuatu yang tidak didapatkan lagi di era pemerintahan kudeta yang bahkan juga menindas kelompok Salafy yang pernah mendukung militer untuk mengkudeta Muhammad Mursy.

HAMKA dan cita-cita IM

Jika pada 11 Desember 1954 dulu dalam Majalah Hikmah rubrik Luar Negeri, HAMKA menulis catatannya yang berjudul: “Tjita-tjita Al-Ichwanul Muslimin Tetap Hidup” untuk merespon pembubarakan IM oleh pemerintah Mesir saat itu, maka barangkali saat ini kita juga akan memiliki penilaian yang sama, bahwa cita-cita IM untuk membebaskan umat Islam dari penjajahan akan terus hidup dan tidak akan pernah mati. Baik penjajahan ekonomi, politik, pendidikan, budaya, maupun penjajahan secara militer yang hari ini dirasakan umat Islam di berbagai negara.

Dalam tulisannya itu, HAMKA menulis bahwa di saat Ikhwanul Muslimin diberangus pada tahun 1949 di mana IM dibubarkan, kantornya di bakar, kekayaannya di bekukan, anggotanya dimasukan ke kam konentrasi dan para tokohnya dibunuh ditiang gantungan, rekasi penentangan dunia Islam terhadap rezim militer Mesir saat itu sangat luar biasa. Badan boleh saja mati, tetapi cita-cita tidak mati.

“Ingatlah bahwasanya bangunnya Ikhwan adalah sebagai gejala daripada kebangunan Islam kembali, beratus tahun Islam dan umat Islam jatuh tersungkur dihadapan pikiran-pikiran Barat dan penjajahan Barat. Sudah hampir putus asa umat muslimin melihara aliran ideologi yang simpang siur di dunia ini. Al Ikhwan Al Muslimun adalah pelopor daripada penggalian cita-cita itu kembali. Sebagai organisasi masa di Mesir, ia dapat dilumpuhkan oleh kekuatan senjata dan adikara dan diktator di Mesir. Tetapi, sebagai suatu cita-cita, dia telah tumbuh dan telah menjalar ke mana-mana ke pelosok dunia. Buah pikiran mereka telah dibaca ke seluruh dunia Islam,” demikian tulis HAMKA.

Hamka mengakhiri tulisannya dengan kalimat: “Umur satu cita, jauh lebih panjang daripada umur orang!.”

Penulis adalah alumnus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.Anggota Tim Peneliti pada Litbang Himpuna Ulama Dayah Aceh (HUDA)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al ikhwan al muslimunHamkaHusni MubarakIkhwanul MusliminIMKudeta MesirMesirmursy
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Capres dan Cawapres Harus miliki Visi Pengembangan Ekonomi Syariah
Tulisan selanjutnya Pemerintah Diminta Segera Dirikan Lembaga Keuangan Syariah BUMN

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?