Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Mustafa Kemal Ataturk: Pemeran Utama Sekularisasi di Kesultanan Utsmani

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2021 11:33 11:33 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 19 Oktober 2021 05:00
Bagikan
mustafa kemal
Foto Mustafa Kemal Ataturk dipajang di ruang kantor Ma'had Imam-Khatib Sultah Muhammad Al-Fatih di Istanbul, Turki (03/03/2016).*
Bagikan

Upaya sekularisasi dan menghapus Kekhalifahan Utsmani oleh Barat sebenarnya sudah berlangsung lama. Mustafa Kemal hadir dalam plot akhir sebagai pameran utama proses ini

Hidayatullah.com | PADA malam hari di Ankara, Turki 29 Oktober 1923 Musthafa Kemal Ataturk mengumpulkan para anggota Majelis Nasional Turki. Setelah pada siang harinya Mustafa Kemal mendeklarasikan kelahiran Republik Turki dan mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin pertama negara baru itu.

“Tuan-tuan! Kita akan mendeklarasikan republik besok,” ujar Mustafa Kemal kepada anggota Parlemen dalam acara makan malam 29 Oktober 1923. Besoknya dalam sidang Majelis Nasional Turki, anggota sidang secara resmi mensahkan republik Turki yang sekuler dan Mustafa Kemal  dinasbihkan sebagai Presiden pertama.

Hari itu Kesultanan Utsmani yang telah berusia 623 tahun resmi runtuh. Salah satu negara super-power yang berdiri dalam kurun 1299-1923 dan memiliki wiliyah yang terbentang dari Eropa Tenggara, Kaukasus sampai Afrika Utara dan semenanjung Afrika Timur ini dihapus.

Republik Turki sebenarnya telah berdiri secara de facto tiga tahun sebelumnya. Tepatnya sejak berdirinya Majelis Nasional Turki pada 23 April 1920.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Majelis nasional ini berdiri di Ankara ketika Istanbul ibukota Kesultanan Ustmani diduki oleh pasukan Sekutu.

Istanbul diduduki oleh Inggris, Prancis, Italia dan Yunani pada 13 November 1918. Pendudukan ini akibat kekalahan Kesultanan Utsmani dalam partisipasinya di perang dunia pertama.

Inggri secara resmi membekukan pemerintahan Utsmani di Istanbul dan memaksa Kesultanan Ustmani menandatangani Perjanjian Sevres pada 10 Agustus 1920. Di saat bersamaan pihak sekutu setuju untuk mengakui pemerintahan dari Majelis Nasional Turki dengan ketuanya Mustafa Kemal yang berpusat di Ankara.

Dalam proses peralihan yang dramatis dari model kesultanan ke republik ini, salah satu pameran utama adalah Mustafa Kemal. Ia berhasil mengkonsolidasikan kekuatan untuk memisahkan peran agama dalam pemerintahan dengan membangun identitas Turki baru yang sekuler.

Ia juga berhasil menuliskan namanya dalam lembaran sejarah Turki modern dan menasbihkan untuk dihormati sebagai bapak bangsa. Nama “Ataturk” secara harfiah berarti “bapak orang Turki”.

Mustafa Kemal lahir di Thessaloniki, Yunani –daerah yang saat ia dilahirkan masih di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmani. Nama aslinya Ali Reza Oglu Mustafa (Mustafa putra Ali Reza), ia juga dikenal sebagai Mustafa Kemal Pasha. Kehidupan awal Mustaga Kemal dipengaruhi oleh memudarnya kekuatan Utsmani di Eropa.

Ia juga banyak dipengaruhi oleh gerakan intelektual yang berpandangan wordview Barat.

Ada banyak perdebatan tentang etnis asal Mustafa Kemal. Ayahnya dianggap oleh beberapa orang berasal dari Albania, meskipun yang lain menyatakan bahwa dia adalah orang Turki.

Latar belakang ibunya juga menjadi bahan perdebatan sengit apakah dia orang Turki atau bukan.  Namun beberapa orang menyatakan bahwa asal Mustafa Kemal adalah dari Yahudi atau Bulgaria.

Rentetan upaya sekularisasi oleh Barat di Kesultanan Utsmani sebenarnya sudah berjalan panjang. Dimulai sejak abad ke 18 dari masa Sultan Salim III, kemudian berlanjut dari generasi ke generasi.

Upaya infiltrasi ini sempat mendapatkan perlawan yang kuat di masa Sultan Abdul Hamid II.  Dari proses itu Mustafa Kemal hadir dalam plot akhir sebagai pameran utama untuk menyempurnakan proses ini.

Mustafa Kemal berambisi memodernisasi Turki sesuai pandangan kelompok mereka. Modernisasi dalam pandangan mereka adalah pem-Baratan secara total dengan memutuskan antara Turki dan agamanya.

Adapun cara pertama yang dilakukan Mustafa Kemal adalah penghapusan Khalifah secara resmi. Pada tanggal 3 Maret 1924 Majelis Nasional Turki menyetujui tiga buah undang-undang yang telah dipersiapkan.

Pertama, menghapus Kekhalifahan, menurunkan Khalifah dan mengasingkannya beserta keluarga. Kedua, menghapus Kementrian Syariah dan Wakaf. Ketiga, menggabungkan sistem pendidikan di bawah Kementrian Pendidikan.

Bagi Mustafa Kemal dan kaum sekuler, agama dan ulama adalah penghalang kemajuan suatu negara. Sehingga Islam, simbol  dan tokoh-tokohnya harus dipisahkan dari masalah-masalah politik, sosial dan kebudayaan.

Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi menyebut dalam al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt, bahwa sebenarnya  pemikiran kaum sekuler Turki tentang agama penghalang kemajuan merupakan suatu pemikiran yang tidak mendasar. Bahkan berimplikasi pada perpecahan dalam kekuatan Turki sendiri serta mereka harus berkerjasama dengan Barat sehingga terjadi kemunduran.

“Adapun bentuk kerjasama dapat dilihat dari isi perjanjian antara Mustafa Kemal dengan Negara-negara Barat. Rancangan perjanjian itu dikenal sebagai syarat-syarat Carson, diambil dari nama ketua delegasi Inggris,” tulis Ash-Shalabi. Isi perjanjian tersebut antara lain;

Pertama, pemutusan semua hal yang berhubungan dengan Islam dari Turki. Kedua, penghapusan kekhalifahan Islam untuk selama-lamanya. Ketiga, mengeluarkan Khalifah, para pendukung Khalifah, dan Islam dari Turki serta mengambil harta Khalifah. Keempat, menjadikan undang-undang sipil sebagai pengganti dari undang-undang Turki yang lama.

Ali Hasun menjelaskan Mustafa Kemal menetapkan kebijakan sekularisasi secara total. Dalam ‘Awāmil Inhiyar al-Daulat al-‘Utsmāniyyah, Ali Hasun menyebut kebijakan tersebut, antara lain;

Pertama, menghapus Kesultanan Utsmani dan mendirikan negara yang mengadopsi hukum-hukum Barat.

Kedua, menutup seluruh lembaga-lembaga keagamaan serta melarang menulis dengan bahasa Arab dan diganti dengan bahasa Turki.

Ketiga, menghapus hukum-hukum syar’i dan menggantinya dengan undang-undang sekular.

Keempat, mengganti kelender Hijrah dengan Masehi.

Kelima, menghapus Kementrian Urusan Agama dan Waqaf.

Kelima, melarang memakai pakain-pakai Islami, seperti Hijab, Ṭarbūsy. Keenam, memerintahkan kepada para Khatib untuk memuji pemerintah sekular ketika khutbah Jum’at.

Ketujuh, membatasi masjid-masjid yang boleh digunakan untuk melaksanakan sholat, dan mengosongkan Masjid Aya Shofiyah dan Masjid Al-Fatih, kemudian dijadikannya sebagai meseum.

Kedelapan, menghapus rasa persaudaraan sesama agama dengan fanatik nasionalisme dengan jargon liberal (al-Hurriyah wa al-Musāwah).

Namun karena adanya kehadiran mayoritas Muslim di Turki dan praktik berislam yang kental, sangat bertentangan dengan gagasan Mustafa Kemal tentang negara sekuler. Saat itu, identitas Muslim Sunni menjadi bagian penting dalam menjadi orang Turki.

Sehingga pendekatan pemerintahan Mustafa Kemal adalah kepemimpinan otoriter. Ia mewariskan Republik Turki yang kental dipengaruhi oleh militer.

Bahkan dalam Undang Undang Dasar Turki, militer diberi peran sebagai penjaga sekularisme. Maka tak heran jika dalam sejarah Turki modern, sudah ada 5 kali kudeta militer.*/Rofi Munawwar

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kesultanan UtsmaniMustafa Kemal AtaturksekularisasiTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya prank Hukum ‘Nge – Prank’ dalam Islam
Tulisan selanjutnya Dulu Benci Islam, Sekarang Mualaf Berpengaruh Di Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023

Berita
20 Juni 2026 11:27
Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
Amerika Serikat Hentikan Pendanaan Program HIV di Afrika Selatan

Terbaru

  • Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
  • Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
  • Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
  • Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023
  • Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris
  • Amerika Serikat Hentikan Pendanaan Program HIV di Afrika Selatan
  • Hujan Hitam di Moskow Usai Ukraina Bombardir Pengilangan Minyak Rusia
  • Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
  • Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang
  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?