Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Mengingat Deklarasi Balfour, Awal Penjajahan Zionis di Palestina

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 8 November 2021 12:58 12:58 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 8 November 2021 13:00
Bagikan
The original letter from Balfour to Rothschild
Bagikan

Atas dukungan penuh Inggris, Deklarasi Balfour menjadi katalisator utama Nakba – pembersihan etnis Palestina pada 1948 – dan konflik yang terjadi dengan negara palsu Zionis ‘Israel’.

Hidayatullah.com | BERBICARA tentang sejarah penjajahan yang dialami bangsa Palestina, maka peristiwa deklarasi Balfour adalah salah satu hal yang paling krusial. Inilah tonggak sejarah awal kolonilisme kaum Zionis Yahudi di Palestina.

Deklarasi Balfoaur dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri inggris Arthur Balfour pada 2 November 1917 atau 104 tahun yang lalu. Percaya atau tidak, dokumen berisi 112 kata ini bisa mengubah nasib rakyat Palestina.

Deklarasi tersebut membuat tujuan Zionis mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina menjadi kenyataan, yakni ketika Inggris Raya secara terbuka berjanji untuk mendirikan “tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi” di sana.

Janji tersebut secara umum dipandang sebagai salah satu dari katalisator utama Nakba – pembersihan etnis Palestina pada 1948 – dan konflik yang terjadi dengan negara palsu Zionis ‘Israel’.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Deklarasi tersebut dianggap sebagai salah satu yang paling kontroversial dan dokumen yang ditentang dalam sejarah modern dunia Arab dan telah membingungkan para sejarawan selama beberapa dekade.

Awal Mula dan Kontroversi Deklarasi Balfour

Deklarasi Balfour adalah pernyataan terbuka yang dikeluarkan Pemerintah Inggris pada tahun 1917 semasa Perang Dunia I untuk mengumumkan dukungan bagi pembentukan sebuah “kediaman nasional bagi bangsa Yahudi” di Palestina.

Deklarasi Balfour tercantum di dalam sepucuk surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, kepada Lionle Walter Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris. Deklarasi Balfour kemudian disiarkan lewat media massa pada tanggal 9 November 1917.

Deklarasi ini dibuat saat Perang Dunia I (1914-1918) dan termasuk dalam syarat-syarat Mandat Inggris untuk Palestina setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyyah.

Sistem mandat, yang diatur oleh kekuatan sekutu itu, adalah bentuk terselubung kolonialisme dan penjajahan. Sistem tersebut mengalihkan kekuasaan dari wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai – Jerman, Austria-Hungaria, Kesultanan Utsmaniyyah dan Bulgaria – kepada pemenang perang.

Mereka mendeklarasikan tujuan dari sistem mandat adalah mengizinkan pemenang perang untuk mengelola negara yang baru berkembang hingga mereka menjadi mandiri.

Namun, kasus Palestina itu unik. Tidak seperti mandat pasca-perang lainnya, tujuan utama dari Mandat Inggris adalah menciptakan syarat untuk pendirian sebuah “tanah air nasional” Yahudi – dimana pada saat itu orang-orang Yahudi kurang dari 10 persen populasi.

Setelah dimulainya mandat, Inggris mulai memfasilitasi imigrasi orang-orang Yahudi Eropa ke Palestina. Antara tahun 1922 dan 1935, populasi Yahudi meningkat dari sembilan persen menjadi hampir 27 persen dari keseluruhan populasi.

Meskipun Deklarasi Balfour memasukkan peringatan bahwa “tidak ada yang akan dilakukan yang dapat merugikan hak-hak sipil dan agama masyarakat non-Yahudi yang berada di Palestina”, mandat Inggris memang disusun untuk melengkapi orang-orang Yahudi dengan perangkat guna menetapkan kekuasaan sendiri, dengan mengorbankan orang-orang Arab Palestina.

Deklarasi ini dianggap kontroversi, akademisi Palestina-Amerika Edward Said menyebut deklarasi ini, “dibuat oleh kekuatan Eropa … tentang wilayah non-Eropa … dengan sama sekali mengabaikan kehadiran dan keinginan warga mayoritas pribumi di wilayah itu”.

Pada dasarnya, Deklarasi Balfour menjanjikan orang-orang Yahudi sebuah negeri dimana pribumi terdiri lebih dari 90 persen dari populasi.

Kedua, deklarasi tersebut merupakan salah satu dari tiga janji semasa perang yang bertentangan yang dibuat oleh Inggris.

Ketika deklarasi tersebut dikeluarkan, Inggris telah menjanjikan kemerdekaan Arab dari Kesultanan Utsmaniyyah dalam korespondensi Hussein-McMahon pada 1915.

Inggris juga menjanjikan Prancis, dalam perjanjian terpisah yang dikenal dengan kesepakatan Sykes-Picot pada 1916, bahwa sebagian besar Palestina akan berada di bawah pemerintahan internasional, sementara wilayah yang tersisa akan dibagi antara dua kekuasaan kolonial setelah perang.

Namun, deklarasi tersebut berarti bahwa Palestina akan berada di bawah penjajahan Inggris dan bahwa orang-orang Arab Palestina yang tinggal di sana tidak akan memperoleh kemerdekaan.

Akhirnya, deklarasi tersebut memperkenalkan sebuah gagasan yang konon belum pernah ada sebelumnya dalam hukum internasional, yakni “tanah air nasional” itu.

Penggunaan istilah samar “tanah air nasional” bagi orang-orang Yahudi, sebagai lawan “negara”, membuat maknanya terbuka untuk interpretasi.

Rancangan awal dokumen tersebut menggunakan frasa “membentuk kembali Palestina sebagai sebuah Negara Yahudi”, tapi kemudian diganti.

Namun, dalam pertemuan dengan pemimpin Zionis Chaim Weizmann pada 1922, Arthur Balfour dan Perdana Menteri David Llyod George kabarnya menyatakan Deklarasi Balfour “selalu berarti negara Yahudi pada akhirnya”.

Pertanyaan mengapa Deklarasi Balfour dikeluarkan telah menjadi subyek perdebatan selama puluhan tahun, para sejarawan menggunakan sumber-sumber berbeda untuk menunjukkan berbagai penjelasan.

Ketika sebagian orang berpendapat bahwa banyak Zionis di pemerintahan Inggris saat itu, yang lainnya menyatakan deklarasi tersebut dikeluarkan karena pemikiran anti-Semit, bahwa memberikan Palestina kepada Yahudi akan menjadi solusi bagi “masalah Yahudi”.

Namun, di dunia akademis arus utama, ada rangkaian alasan dimana terdapat konsensus umum:

  • Menguasai Palestina merupakan kepentingan strategis kerajaan untuk menjaga Mesir dan Terusan Suez di dalam ruang lingkup pengaruh Inggris.
  • Inggris harus berpihak pada Zionis untuk menggalang dukungan di kalangan Yahudi di Amerika Serikat dan Rusia, berharap mereka bisa mendorong pemerintah mereka untuk tetap dalam perang hingga meraih kemenangan.
  • Lobi Zionis yang intens dan hubungan yang kuat antara komunitas Zionis di Inggris Raya dan pemerintah Inggris; sejumlah pejabat dalam pemerintahan merupakan Zionis.
  • Orang-orang Yahudi dianiaya di Eropa dan pemerintah Inggris bersimpati pada penderitaan mereka.

Deklarasi Balfour secara luas dilihat sebagai perintis jalan menuju Nakba Palestina 1948, yakni ketika kelompok-kelompok bersenjata Zionis, yang dilatih oleh Inggris, secara paksa mengusir lebih dari 750.000 warga Palestina dari tanah air mereka.

Ketika Inggris memutuskan untuk mengakhiri mandat mereka pada 1947 dan mengalihkan masalah Palestina kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), orang-orang Yahudi telah memiliki pasukan yang dibentuk dari kelompok-kelompok paramiliter bersenjata yang dilatih dan diciptakan untuk berperang berdampingan dengan Inggris pada Perang Dunia II.

Lebih penting lagi, Inggris membiarkan orang-orang Yahudi mendirikan lembaga-lembaga pemerintahan sendiri, seperti Lembaga Yahudi, untuk mempersiapkan diri mereka bagi sebuah negara ketika waktunya tiba, sementara warga Palestina tidak diizinkan melakukan hal serupa. Ini membuka jalan bagi pembersihan etnis Palestina pada tahun 1948.* Sumber: Sahabat Al-Aqsha dan berbagai sumber.

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Awal Penjajahan PalestinaDeklarasi BalfourpalestinasejarahZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya pcr Sejumlah Elemen Masyarakat Dorong dan Desak BPK Audit Bisnis PCR Pejabat Negara
Tulisan selanjutnya kuburan massal Libya Kembali Temukan 3 Kuburan Massal Di Bekas Benteng Haftar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?