Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Dakwah dan Proses Islamisasi di Lerang Merapi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Februari 2022 10:10 10:10 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Februari 2022 10:20
Bagikan
Ritual Tolak Balak di Kabupaten Purworejo Jateng/Detik
Bagikan

Hampir semua wujud kesenian dan tradisi yang ada di masyarakat sekitar Gunung Merapi adalah bentuk ritual tolak bala, ritual terhindar bencana Merapi. Hingga kini, proses dakwah masih berjalan dan perlu kesabaran

Oleh: Arif Wibowo

Hidayatullah.com | DILIHAT dari sejarah Islamisasi, kawasan lereng Merapi bisa dikatakan agak belakangan, terutama bila dibandingkan dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Ini terkait dengan topografinya yang relatif lebih sulit,  dibandingkan daerah lain.

Dalam catatan Kareel Steenbrink pada abad ke 17,  wilayah gunung Merapi masih merupakan wilayah Hindu. Ini terbukti dari naskah-naskah yang ditemukan di daerah tersebut. Dengan mengutip pendapat W. van der Molen, Steenbrink menjelaskan:

“Kebanyakan karangan Jawa kuno memang terkumpul di Pulau Bali sejak pertengahan abad ke 19. Satu-satunya koleksi besar yang lebih tua berasal dari pertapaan di lereng gunung Merbabu, dalam koleksi itu ditemukan sejumlah naskah, yang berasal dari abad ke 17. Pertapaan-pertapaan di Gunung Merapi pada waktu itu masih menganut agama Hindu. Pada periode terakhir abad ke 18, pertapaan tersebut memeluk agama Islam, sehingga koleksi Merbabu itu juga ditemukan karangan campuran Hindu – Islam dan karangan yang kurang lebih sudah murni keislamannya. (Kareel A Steenbrink, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat, Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia (Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga Press hal. 34-35), dikutip dari DW. van der Molen, Javaanse Tekskritiek, (Leiden :KITLV, 1983).

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Sejalan dengan Steenbrink, K.H. Muhammad Sholikhin, seorang penulis produktif tentang Islamisasi di Tanah Jawa, juga menjelaskan, bahwa rintisan dakwah di daerah lereng Merapi dimulai pada tahun 1700-an. Dalam wawancara dengan penulis, Kiai Sholikhin mencatat beberapa nama yang aktif merintis dakwah Islam di lereng Merapi, seperti Kiai Handoko Kusumo, Kiai Ragasari, Kiai Hasan Munadi dan Kiai Rohmadi. Nama yang terakhir ini populer  dikenal sebagai juru kunci Merapi.

Diperkirakan,  mereka adalah generasi kedua murid Sunan Kalijaga. Dari nama-nama tersebut,  yang paling legendaris adalah sosok Kiai Handoko Kusumo.

Dalam tradisi tutur penduduk setempat, Kiai Handoko disebut-sebut seorang keturunan Arab, berkulit putih kemerahan dan berhidung mancung. Gara-gara faktor hidung mancung inilah, masyarakat setempat menjulukinya sebagai Mbah Petruk.

Bahkan, Kiai Handoko Kusumo atau Mbah Petruk ini akhirnya dimitoskan oleh masyarakat sebagai penunggu Merapi, karena tidak diketahui dengan jelas kapan dan dimana meninggalnya. Beberapa kalangan menganggapnya moksa.

Proses peralihan dari Hindu yang bercorak Bhairawatantra ke Islam memang berjalan evolutif. Karena itu, meskipun Islam sudah diterima sebagai agama baru, tetapi sisa-sisa Hindu masih terlihat dari aneka kesenian rakyat dan ritus budaya penduduk seperti wayang orang,  jathilan, jalantur, seni pahat, seni lukis, jangkrik ngentir, kobro dan slawatan. (Yohannes Paryogo et al, 2006, Opera Zaman, Grafindo Litera Media, Yogyakarta).

Dari ragam kesenian tersebut, hanya tradisi sholawatan yang masih mencerminkan wujud kesenian Islam. Dalam seni jathilan dan kobro, masih dominan  corak sinkretisnya, terutama berkaitan dengan ritual ”kesurupan” yang menurut Paul Stange sebagai bentuk unsur Hindu dalam tradisi Jawa. Bahkan praktek mistik seperti ritual tari telanjang untuk menolak bala juga masih dilakukan. Ritus ini dilakukan selepas tengah malam pada setiap awal bulan Syuro di Candi Lumbung. Peserta ritus bertelanjang bulat mengelilingi candi lumbung sambil membaca mantra-mantra di bawah panduan seorang pemimpin upacara. (Paul Stange, Politik Perhatian, Rasa dalam Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: LkiS, 2009).

Hampir semua wujud kesenian dan tradisi yang ada di masyarakat sekitar Gunung Merapi adalah bentuk ritual tolak bala, yakni sebuah upaya spiritual supaya terhindar dari bencana Merapi. Ini bisa diahami, sebab Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Dari aneka budaya lokal tersebut,  ritual sedekah gunung merupakan bentuk ritual yang paling banyak diberitakan.

Namun bila ditelaah, tiap komunitas masyarakat mempunyai keyakinan dan bentuk yang berbeda dalam melaksanakan tradisi ini. Dalam pandangan masyarakat Desa Lencoh Boyolali, sedekah gunung dilakukan untuk menghormati leluhur mereka yakni Mbah Petruk yang diyakini telah moksa dan saat ini menjadi pelindung ghaib mereka dari ancaman gunung Merapi.

Bentuk tradisi di Lencoh ini bahkan mengalami modifikasi. Semula, tradisi ini sekedar hajatan sederhana dengan menanam kepala kerbau di Pasar Bubrah. Lalu, untuk kepentingan pariwisata, dibuat acar lebih menarik. Sebelum disembelih, kerbau terlebih dahulu dikirab keliling kampung.

Hingga kini, proses dakwah atau Islamisasi di lereng Merapi masih berjalan tiada henti. Beberapa ormas Islam terus melebarkan sayap dakwahnya. Sejumlah pondok pesantren juga telah berdiri di seputar Merapi seperti pondok pesantren At Tauhid dan Pondok Pesantren Gontor VI yang ada di Kecamatan Sawangan Magelang.

Ritual sedekah gunung yang selama ini dicitrakan sebagai wajah penduduk Merapi, menurut KH. Muhammad Sholikhin sebenarnya sudah mulai ditinggalkan masyarakat seiring meningkatnya pengetahuan dan keislaman masyarakat. Contoh, saat terjadi bencana Merapi pada 2006, masyarakat desa Pedhut masih melakukan ritual sesajen dengan menanam kepala kambing di tiap perempatan desa.

Namun pada bencana Merapi tahun 2010, masyarakat sudah tidak melakukan ritual sesajen,  tapi mujahadah di masjid kampung dengan jalan melakukan zikir bersama.

Dakwah memang memerlukan kesabaran. Mengubah nilai atau praktik amalan yang sudah menjadi tradisi perlu dilakukan dengan bijak, sehingga perubahan bisa dilakukan sebaik-baiknya. Wallahu A’lam bish-shawab.*

Koordinator Pusat Studi Peradaban Islam Surakarta. Artikel dimuat laman adianhusaini.id

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahGunung Merapiislamisasilereng gunung merapisedekah bumi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya muslim india Endemi Islamofobia dan Diskriminasi terhadap Muslim India
Tulisan selanjutnya Syeikh Jarrah Kembali Bergolak, Syeikh Ikrimah Sebut ‘Perang Pembersihan Etnis’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?