Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianRamadhan

Obati Jiwamu dengan Al-Quran

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 April 2022 14:20 2:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 April 2022 15:30
Bagikan
Bagikan

Membaca al-Quran memerlukan pengkodisian dan perenungan yang baik, maka obati jiwamu dengan Al-Quran

Oleh: Dr. Kholili Hasib

Hidayatullah.com | IBRAHIM bin al-Khawas berkata: “Obat hati itu ada lima; membaca Al-Quran dengan tadabur, kosongnya perut, qiyamul lail, munajat dengan penuh kerendahan di waktu sahur dan duduk bersama orang shalih” (al-Habib Zein bin Smith, Al-Manhaj as-Sawi, 170).

Tadabur maknanya memperhatikan atau merenungkan suatu perkataan dari awal hingga akhir kemudian mengulang-ulangi hal itu. Tadabur Al-Quran berarti merenungi secara mendalam dengan berulang-ulang ayat Al-Quran agar dapat menangkap pesan-pesan Al-Quran yang terdalam dan mencapai tujuan maknanya.

Jadi, membaca Al-Quran yang bisa menjadi obat jiwa adalah membaca dengan memahami makna yang terkandung di dalamnya dengan hati-hati dan pelan-pelan. Oleh sebab itu, membaca Al-Quran jangan lupakan tafsir-tafsirnya sebagaimana telah termaktub dalam kutubu at-tafasir.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Maka, tadabur tidak mungkin dilakukan dengan membacanya secara terburu-buru dan bercepat-cepat. Ibnu Abbas pernah mengatakan: “Aku lebih menyukai membaca surat “iza zulzilati” dan “al-qari’ah” dengan mentadaburi keduanya daripada membaca “al-baqarah” dan “Ali Imran” tetapi dengan terburu” (Imam al-Ghazali, Al-Arbain fi Ushuliddin, 35).

Banyak orang berlomba-lomba mengejar khatam Al-Quran dengan membaca super cepat. Sampai lepas kaidah-kaidah tajwid, makharijul huruf dan dipastikan lalai terhadap kandungannya. Kita membaca sebuah novel dengan cara baca cepat pasti berbeda pengaruhnya bila membacanya dengan pelan-pelan. Begitu pula al-Qur’an, membaca terlalu sangat cepat akan menghilangkan kekhusyu’an.

Oleh sebab itu, membaca al-Quran memerlukan pengkodisian yang baik. Pengkodisian yang baik itu dengan mengamalkan adab-adab dalam membaca al-Qur’an.

Al-Quran merupakan kitab yang paling istimewa, maka cara membacanya pun harus dengan cara istimewa. Al-Quran bukan kitab biasa, maka cara membacanya tidak boleh disamakan dengan membaca buku-buku biasa.

Di antara adab membaca Al-Quran dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Yaitu; Pertama, duduk dengan penuh hormat. Imam al-Ghazali menerangkan bahwa ada hubungan antara anggota badan dengan suasana hati.

Seseorang yang duduk membaca al-Quran dengan hormat pasti dalam hatinya akan tumbuh penghormatan pada kitab suci ini. Sebaliknya, jika membaca Al-Quran dengan sembarangan, berarti hati itu kurang hormat kepada Al-Qur’an.

Kedua, membaca Al-Quran dalam keadaan suci dari hadas, tenang, menghadap kiblat, tidak bersandar sebagaiman sandarnya orang yang duduk-duduk santai. Jangan membaca sambil badan tiduran.

Ketiga, Memilih waktu-waktu yang utama dalam membaca Al-Qur’an. Misalnya di antara waktu yang memiliki keutamaan membaca Al-Quran dimana kita diperintah untuk mengamalkan adalah membaca Al-Quran di malam hari yang sepi.

Menurut Imam al-Ghazali, hati itu cenderung lebih jernih di malam hari daripada suasana hati di siang hari biasanya banyak kotoran yang masuk. Membaca Al-Quran ketika sedang shalat memiliki pahala yang jauh lebih banyak daripada di luar shalat.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Barangsiapa yang membaca Al-Quran dalam shalat maka pahalanya setiap huruf adalah seratus kebaikan. Barangsiapa yang membaca Al-Quran di luar shalat dalam keadaan suci, maka pahalanya setiap huruf dua puluh lima kebaikan. Barangsiapa membaca al-Quran dalam keadaan tidak suci maka setiap huruf adalah sepuluh kebaikan (Imam al-Ghazali, Al-Arbain fi Ushuliddin, 36).

Pembacaan Al-Qurandengan cara demikian yang bisa menjadi obat bagi jiwa manusia. Jiwa manusia dalam perjalanan hidupnya dipenuhi dengan cobaan (fitnah). Iri hati, sombong, ujub, riya dan ragu terhadap agama merupakan penyakit-penyakit yang menempel pada hati manusia. Penyakit tersebut tidak berhenti berusaha menempel kepada hati manusia sampai manusia itu menemui ajal.

Penyakit jiwa paling serius tentu saja ragu-ragu terhadap agama. Imam al-Ghazali dalam al-Iqtishad fi al-I’tiqad menerangkan bahwa membacakan Al-Quran bisa menyembuhkan orang yang dalam hatinya ada syakk fid diin (keragu-raguan dalam agama). Jika masih belum sembuh, maka ditambah dosis, yaitu hujjah aqliyyah (argumentasi rasional).

Maka menarik apa yang dijelaskan oleh imam al-Ghazali bahwa membaca dengan mentadaburkan penuh dengan adab ditambah dengan penjelasan-penjelasan yang aqli bisa menjadi obat mujarab bagi orang yang jiwanya sakit.

Penyakit yang perlu ditambah dosis ini biasanya adalah penyakit-penyakit pemikiran dan keyakinan yang mencoba menyimpangkan makna kandungan ayat al-Qur’an. Penyakit jiwa yang demikian merupakan penyakit yang sangat serius.

Maka, penjelasan-penjelasan yang aqli tentang penyakit kejiwaan demikian ini dijelaskan oleh para ulama-ulama ahli kalam. Jika kita dapati para mutakallim menjelaskan suatu ayat al-Qur’an, maka di situ ada hujjah aqliyah yang sangat diperlukan sebagai formula obat orang yang ragu terhadap suatu perkara agama.

Sehingga, ketika kita mendalami penjelasan ahli kalam tentang suatu ayat al-Quran dalam kitab-kitab kalamnya, maka sejatinya kita sedang tadabur secara mendalam.*

Penulis peneliti InPAS dan dosen di INI-DALWA, Bangil

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al Qur’anmembaca al-Qur'antadabur al-Qur'an
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Inggris Serukan 4 Cara Solidaritas pada Palestina di Bulan Ramadhan
Tulisan selanjutnya BNPT Afghanistan BNPT Sebut 2.157 WNI Tercatat Berangkat ke Suriah Demi Gabung ISIS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Berita
29 Agustus 2026 14:04
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?