Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul FikrTsaqafah

Tuhan dalam Teori

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Oktober 2022 11:41 11:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Oktober 2022 11:45
Bagikan
Bagikan

Sikap agnostic dan ragu wujud Tuhan dalam kehidupan intelektual Amerika dan Barat adalah wajar, karena negara itu negara sekuler liberal, dan tuhan hanya teori

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Hidayatullah.com | Seorang remaja Amerika suatu hari keluar rumah untuk jalan-jalan bersama tiga orang kawannya. Sewaktu pamitan, ibunya berpesan: “Semoga Tuhan bersama kalian”. Anaknya dengan ringan menjawab: “Tuhan boleh ikut asal mau di bagasi”.

Dalam perjalanan, mobil yang dinaiki anaknya mengalami kecelakaan hebat. Anak remaja itu meninggal dunia, mobilnya hancur, tapi bagasinya masih utuh.

Bagi seorang mukmin kisah ini sudah membuktikan adanya Tuhan. Tapi kisah kecelakaan maut itu hanya sekelumit dari jutaan kisah ateisme yang melanda masyarakat Barat.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri

Asalnya adalah buah pikiran para intelektual yang menjadi teori.  Buah pikiran itu lalu dipraktikkan dalam dunia pendidikan dan hasilnya adalah lahirnya pandangan hidup masyarakat.

Namun satu setengah dekade lalu, dosen dan  mahasiswa di beberapa universitas di Barat mulai siuman. Pada tahun 1990, Jeff, misalnya,  seorang mahasiswa pascasarjana program pendidikan matematika University of New York di Bufallo mengeluh.

Ia sering seminar di fakultasnya  tentang asas filosofis teori konstruksi dalam pendidikan matematika. Namun di situ worldview yang dominan adalah sikap agnostic (inkar Tuhan) dan faham relativisme postmodern (alias ragu pada kebenaran).

Sebagai seorang Katholik, Jeff terdorong untuk mengikuti saran Francis Schaeffer agar setiap komunitas intelektual melibatkan sudut pandang Kristen. Jeff lalu mencoba menawarkan ide dalam seminar itu. “Tuhan yang berwujud Trinitas, adanya berbagai macam bahasa dan kemampuan manusia berkomunikasi dengan bahasa perlu dipertimbangkan sebagai komponen kunci untuk memahami ide-ide matematis”, katanya.

Tak pelak lagi, kawan-kawan sekelasnya resisten alias menolak. Alasan mereka, karena agnostisisme adalah jawaban tepat perihal Tuhan.  Bagi mereka tidak mungkin aspek teologi bersatu dengan teori tentang konstruksi ‘ilmu pengetahuan manusia.

Di Northern Illinois University kasusnya mirip. Dave yang menyelesaikan dissertasinya di situ pun gelisah.

Pasalnya para mahasiswa dan dosen umumnya berfaham konstruksionisme yang didasari pada relativisme intelektual dan moral. Konstruksionisme adalah teori ‘ilmu pengetahuan dalam sosiologi dan teori komunikasi yang mengkaji perkembangan pemahaman yang tercipta secara bersama tentang dunia.

Kegelisahan ini dia tuangkan dalam bab pendahuluan dissertasinya.  Ia lalu diuji oleh empat orang Kristen dan seorang Yahudi Orthodok. Tapi herannya keempat penguji Kristen itu sepakat dengan Dave.  Sedangkan penguji Yahudi justru yang menganggap tidak ada masalah dan bahkan sepakat dengan relativisme intelektual dan moral.

Sikap agnostic atau inkar dan ragu akan wujud Tuhan dalam kehidupan intelektual Amerika adalah wajar. Karena negara itu adalah negara sekuler liberal dan bukan negara agama. Itulah masalahnya. Sekuler karena memisahkan agama dari ranah sosial, intelektual dan politik. Liberal karena semua orang bebas beragama dan juga bebas tidak beragama.

Namun, kerancuan ‘ilmu sekuler mulai disadari. Seorang pakar studi Islam dari Georgetown University, John L Esposito dalam Seminar Islamic Philosophy and Science di Penang Malaysia tahun 1989 mengakui hal itu.

John menyatakan bahwa Barat kini mengalami deadlock, karena telah menarik dua garis lurus dari makna dua realitas: empiris dan rasio. Dua garis lurus itu tidak akan pernah bertemu.

Dua garis itu ini dalam bahasa Descartes disebut extended substance dan rational substance. Artinya realitas itu ada dua yang empiris-nyata dan yang rasional. Esposito mungkin juga setuju bahwa deadlock itu karena dikotomi ‘ilmu dan agama, atau agama dan politik.

Kembali ke soal teori berfikir.  Dengan worldview ateis Lev Vygotsky, psikolog asal Rusia menggambarkan proses psikologis fikiran manusia. Ia memperkenalkan konsep zona perkembangan proximal (terdekat) atau proximal development.

Artinya, dalam proses pembelajaran seorang anak ada sebuah area di mana anak tersebut harus diberikan bantuan eksternal untuk dapat belajar. Ini merupakan pelengkap dari cara-cara tradisional yang disebut perkembangan aktual (actual development), yaitu proses mengetahui secara mandiri tanpa dibantu.

Teori Vygotsky ini bagi komunitas peneliti pendidikan matematika adalah upaya mengkaitkan ‘ilmu dengan interaksi sosial. Tapi ini juga merupakan kritik terhadap penganut aliran konstruksionis radikal yang mengklain bahwa ‘ilmu itu dapat muncul dari dalam fikiran seseorang ketika ia menafsirkan pengalaman dan lingkungannya.  (1978, pp. 88-91).

Pandangan Vygotsky berkembang di lingkungan budaya Marxist Soviet antara tahun 1915 dan 1935. Sudah barang terntu pandangan ini berasal dari sistim pemikiran dialektika Hegel. Hegel mengingkari hubungan agama wahyu , termasuk wujud Tuhan, dengan teori tentang perkembangan pemikiran dan ‘ilmu pengetahuan manusia. (Lihat McTaggart, J. M. E.. Studies in the Hegelian dialectic (2d reprinted ed.), Kitchener, Ontario: Batoche Books. 2000, 222-225).

Nampaknya yang disoal Jeff dan Dave adalah teori-teori semacam Vygotsky ini. Maka waja jika disana ada gugatan akademis terhadap konsep mengetahui yang dikotomis dan ateis itu.

Logikanya seperti sebuah premis jika-maka. Jika ‘ilmu pengetahuan bisa dikembangkan berdasarkan worldview sekuler, mengapa tidak bisa dikembangkan dengan worldview religius.

Begitu misi yang dibawa Jeff dan Dave. Jika agama menjanjikan kesalehan perilaku maka disana mesti ada kesalehan berfikir. Dengan kata lain jika teori konstruksionisme Vygotsky bisa diterima maka teori yang berbasis pada keyakinan suatu agama juga harus diterima.

Logika inilah yang ditangkap  Howell, R.W. dan Bradley, W.J. Keduanya lalu mengedit dan menerbitkan kumpulan makalah tentang proses berfikir yang ia beri judul  Mathematics in a Postmodern Age: A Christian Perspective, Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company (2001). Intinya buku ini menawarkan worldview Kristen untuk dipakai menguji berbagai sudut pandang yang secara epistemologis teapat. Misalnya untuk menguji bagaimana anak-anak mengetahui dengan merujuk informasi dari firman sang Pencipta.

Dalam Islam istilah ‘ilm telah memiliki konotasi dan denotasi iman. Iman memiliki konsekuensi amal.

Obyek ‘ilm adalah semua realitas wujud, baik empiris maupun non empiris. Karena luasnya makna ‘ilm maka obyek ‘ilm pun tidak terbatas. ‘ilm pun tidak terdefinisikan, meski dapat digambarkan. Tuhan berada di semua obyek ilmu, karena semua itu bagian dari ciptaannya. Maka dari itu pertanyaan dimana posisi Tuhan dalam epistemologi Islam adalah absurd, apalagi dalam kehidupan sosial.

Nampaknya kisah kecelakaan itu bisa bersifat metaforis. Maksudnya, jika “menaruh” tuhan di bagasi saja telah membawa maut, maka membuang “tuhan” dari fikiran, sekolahan, lembaga pendidikan dan masyarakat juga akan membawa kematian peradaban.

Mungkin, karena keprihatinan situasi itu maka Dogulas Haddows menulis essai berjudul Hipster: The Dead End of Western Civilization.*

Tulisan pernah dimuat di Jurnal Islamia Vol. IX No. 1 tahun 2014

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agnostiktuhantuhan barattuhan mati
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Putin Puji Erdogan: Pemimpin yang Kuat dan Dapat Diandalkan
Tulisan selanjutnya MAKI Desak KPK Usut Tuntas Skandal Kardus Durian, PBNU Mendukung

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?