Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Desember 2022 09:49 9:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Desember 2022 09:45
Bagikan
Aksara Jawi di Sekolah Dasar Sultan Hasanal Bolkiah
Bagikan

Walau aksara Jawi menurun sejak kedatangan penjajah Inggris, tetapi ia tetap digunakan dalam urusan resmi, korespondensi sampai dokumen kemederkaan Bangsa Brunei Darussalam sendiri

Hidayatullah.com | FENOMENA aksara Jawi termasuk unik. Selain dari katanya “Jawi” juga tempat dimana istilah ini tumbuh.

Jawi, saya kira berasal dari kata Jawa, yaitu sebuah pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar, yang menyebar di beberapa provinsi di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jogjakarta. Ternyata, sangkaan saya “kurang tepat”. Karena ada yang membedakan antara Jawi dan Jawa.

Istilah “Jawi” menyebar di Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam. Dan bentuk aksara Jawi adalah mirip aksara Pegon di Indonesia. Sedangkan tulisan Jawa yang kita kenal, adalah berupa Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀).

Aksara ini banyak digunakan di Nusantara, seperti Aksara Sunda, Sasak dan Bali. Dalam beberapa catatan, bahwa aksara Jawa berasal dari India dari Suku Shaka.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Terus, apa perbedaan aksara Jawi, Jawa dan Pegon?. Dalam beberapa pendapat, kata “Jawi” berasal dari bahasa Arab “Jawah”, dan dari beberapa catatan yang ada, bahwa kata ini pernah ditulis Ibnu Bathutah (Maroko) yang menyebut Sumatera dengan kata “Al-Jawah”.

Dan kata Jawi dari kata Javadwipa, yaitu merujuk pada daerah Asia Tenggara pada masa lalu. Maka Jawi (Java), tidak hanya orang-orang Jawa tetapi kawasan Asia Tenggara; Bangsa Melayu, Pattani, Filipina, Aceh, Sunda, Minangkabau, Bugis, dan lainnya.

Hal ini, dibuktikan dengan penyematan nama ulama, Syeikh Abdurrauf bin Al-Jawi Al-Fansuri dan beberapa nama ulama masyhur lainnya, yang bukan berasal dari kepulauan Jawa (sekarang).

Aksara Jawi, atau Abjad Jawi, ada pula yang menyebutnya dengan abjad Arab-Melayu, abjad Yawi, tulisan Melayu, adalah tulisan yang berbasis abjad  (aksara) Arab. Dan tulisan ini digunakan dalam penggunaan teks bahasa Melayu dan beberapa bahasa lainnya, seperti Palembang, Aceh, Minangkabau, Banjar, Betawi dan beberapa bahasa lainnya yang ada di Nusantara.

Aksara Jawi ini muncul sekitar tahun 1400-an di tanah Nusantara (dalam Kitab yang baru saya dapat dari UNiSSA, Al-Kitabah bil al-Huruf Al-Arabiyah). Dan hal ini dibuktikan dengan beberapa nisan yang bertuliskan aksara Jawi.

Sejak awal kemunculan Islam di Tanah Arab, barang-barang nusantara seperti rempah-rempah dan kapur barus mendapatkan perhatian istimewa pada waktu itu, orang Arab menyebut orang Melayu dengan Orang Jawi.

Sebelum aksara Arab dan kemudian menjadi nama tulisan “Jawi” diperkenalkan pada masyarakat Melayu. Terdapat bahasa Sanskrit (pallava) yang memainkan peranan penting terutama di kalangan bangsawan.

Tetapi, kemudian berjalannya waktu, aksara ini terkikis dan hilang. Di antara sebabnya karena penggunaan bahasa Sanskrit hanya digunakan kalangan bangsawan saja (M.Sahrin).

Masa keemasan aksara Jawi, pada tahun 1500-1800 orang-orang Nusantara (terutama Melayu), melihat bahwa tulisan Jawi sangat penting untuk digalakkan dan disiarkan, karena tulisan ini sebagai gerbang pada pemahaman Islam dan Al-Qur’an.

Dan aksara Jawi merupakan faktor utama yang memungkinkan bangkitnya Bahasa Melayu di samping penyebaran agama Islam. Dan tulisan Jawi digunakan secara luas di beberapa daerah, seperti Kesultanan Malaka, Johor, Brunei, Sulu, Pattani, Aceh dan Ternate pada awal Abad ke-15 untuk surat menyurat, titah diraja, pemerintahan, puisi (syair), komunikasi dalam dunia perdagangan dan hubungan diplomasi.

Aksara Jawi di Brunei

Tulisan Jawi di Brunei mengalami kemunduran di kalangan masyarakat umum, setelah datangnya penjajah Inggris pada abad ke-19, dan digantikan dengan tulisan Rumi (latin) yang banyak digunakan dalam diplomasi dan hubungan resmi pemerintahan.

Dan berjalannya waktu, aksara Jawi hanyalah dianggap tulisan agama. Dan ini juga mungkin yang terjadi di Indonesia, tulisan Pegon hanya dianggap tulisan untuk pengajaran di pesantren, sekolah agama, dan interaksi keagamaan Islam.

Dan dari sinilah, tulisan Jawi di Brunai mengalami kemunduran, karena masyarakat mulai berpaling pada tulisan Rumi. Bahasa Inggris mulai marak dan berkembang pesat. Sedangkan bahasa Arab, masih berjalan di tempat.

Menariknya, di Brunei Darussalam, walau aksara Jawi terus menurun sejak kedatangan Inggris, tetapi ia masih bertahan dan tetap digunakan dalam urusan resmi, dan tulisan Jawi sebagai korespondensi dalam membuka jalan kepada kemerdekaan Brunei.

Seperti Undang-undang Tafsiran 1959, Perintah Perlembagaan 1959 dan 1960, dan dalam teks kemerdekaan Brunei pada 1 Januari 1981 ditulis dengan tulisan Jawi, di samping tulisan rumi dan terjemahan dalam Inggris.

Dan sampai detik ini, tulisan Jawi menjadi tulisan resmi, baik dalam bidang kementerian dan jabatan kerajaan, acara adat, logi, surat-menyurat, nama jalan, nama sekolah, jabatan dan lainnya, dengan disertai tulisan Rumi.

Sementara tulisan Jawi, adalah sebuah keharusan di Brunei. Walau tulisan Rumi juga terus berkembang. 

“Kita tidak mahu untuk kehilangan tulisan Jawi sebab inilah satu-satunya yang agung dan besar dari warisan yang masih tinggal yang boleh kita banggakan. Kehilangan tulisan Jawi akan banyak menjejaskan kepentingan kita seperti pudarnya semangat nasional dan binasanya agama karena fungsi tulisan itu juga mendukung kedua-dua perkara tersebut” (dalam Pelita Brunei, tulisan Jawi Sebagai Khazanah dan Warisan Bangsa).

Sebelumnya, mantan Menteri Dalam Negeri Brunei Darussalam Haji Awang Abu Bakar pernah mengatakan aksara Jawi adalah bagian dari peradaban Melayu yang harus dilestarikan. Apalagi dan jejak sejarah termasuk surat-surat perjanjian awal Brunei dengan pihak asing, sebagai bukti sejarah menunjukkan adanya tulisan Jawi.

Menurut Haji Awang, aksara Jawi tidak pernah terpinggirkan dalam Sistem Pendidikan Nasional Brunei hingga saat ini. Bahkan perannya sebagai media dalam pendidikan pengajaran agama Islam semakin memperkuat posisi tulisan Jawi.

Secara administrasi, lanjutnya, posisi tulisan Jawi terus diperkuat dengan menjadikannya sebagai bagian dari peraturan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Departemen Perdana Menteri nomor 21/1988, yang mengatur tentang aturan penggunaan tulisan Jawi di pemerintahan dan swasta, termasuk urusan bisnis.

Dokumen proklamasi Brunei Darussalam menggunakan aksara Jawi

Bahkan dokumen Proklamasi Kemerdekaan Brunei Darussalam juga ditandatangani dalam dua versi bahasa Melayu dalam dua bentuk tulisan, yakni aksara Jawi dan aksara Rumi.

“Menyadari pentingnya keterampilan menulis Jawi sebagai dasar dalam membantu pembelajaran Al-Qur’an dan kehidupan seorang muslim di negeri ini, maka pengetahuan dasar menulis Jawi telah diperkenalkan dalam Kurikulum Bahasa dan Agama Melayu Sekolah Dasar. dengan harapan siswa Tahun 2 Pendidikan Umum masuk sekolah agama dengan keterampilan bahasa jawa untuk memudahkan belajar Al-Qur’an. Namun, dengan keterbatasan waktu di sekolah, orang tua dan wali perlu membantu siswa meningkatkan keterampilan tersebut di luar jam sekolah,” jelasnya dikutip Pelita Brunei.

***

Bagaimana dengan tulisan Pegon (Indonesia)?, Mengapa dinamakan Pegon, tidak Jawi? Dan mengapa nama tulisan “Jawi” lebih dikenal di luar kepulauan Jawa dari pada di Jawa (sekarang).?

Pegon yang berasal dari kata Jawa “Pego” yang berarti menyimpang, sudah sangat banyak dikaji, dan menarik untuk terus dilestarikan. Adakah perbedaan antara tulisan Jawi dan Pegon? Mungkin perlu artikel lagi unuk menuliskannya.*/Dr Halimy Zuhdi, Gadong, Negara Brunei Darussalam, 20 Desember 2022

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksara JawiBahasa MelayuBrunei DarussalamjawiMelayu Jawi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Minta 500 untuk Beli Makan Anak, Wanita India Disumbang Warganet 5,5 Juta Rupee
Tulisan selanjutnya Libatkan Polri, MUI Meminta Karyawan Tidak Dipaksa Gunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Berita
30 Juni 2026 16:35
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza

Terbaru

  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
benci islam
Kisah & Perjalanan

Kisah Mualaf: Dulu Islam Ia Benci, Kini Cinta Mati

24 November 2022 13:39
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?