Hidayatullah.com — Bulan ini 21 tahun silam, saya diterbangkan dengan pesawat kargo Amerika Serikat (AS). Memakai pakaian oranye, kepala diberi tudung, mata ditutup, mulut dilakban, serta tangan dan kaki dirantai. Saya tidak tahu ke mana hendak dibawa, atau mengapa saya diangkut dengan pesawat itu.
Saya berasal dari Yaman. Ketika berusia 18 tahun (tahun 2001), saya “diserahkan” ke badan intelijen CIA, kemudian disebut sebagai “jenderal Al-Qaeda di Mesir”. Ketika itu AS telah menginvasi Afghanistan dalam proyek yang disebut sebagai “perang melawan terorisme”.
Saya ditangkap dan dipenjara selama sekitar tiga bulan di penjara militer Kandahar, Afghanistan. Itu adalah pangkalan udara yang berfungsi sebagai tempat transit menuju lokasi yang tidak diketahui. Ada banyak orang yang ditahan di tempat itu.
Ketika sebuah pesawat kargo besar mendarat di Kandahar, kami semua tahu bahwa sebagian dari kami akan “menghilang”. Dan benar, kami diseret ke pesawat dengan mata tertutup. Tanpa bisa melihat, mendengar, atau berbicara. Tubuh kami kemudian dirantai ke lantai pesawat. Menempuh perjalanan sekitar 40 jam, sungguh sakit dan menderita luar biasa.
Pesawat akhirnya mendarat di suatu tempat. Kami berharap itu akan menjadi akhir dari penderitaan. Namun ternyata tidak, sebab itu barulah awal dari perjalanan yang lebih panjang dan lebih brutal.
Di waktu-waktu selanjutnya, tentara sepertinya tidak pernah bosan menyiksa dan memukuli. Hal itu terus berlangsung hingga penerbangan kedua berakhir. Dan itu masih belum akhir dari perjalanan.
Marinir AS menyambar dan menyeret saya ke bus, lalu menyeret menuju ke sebuah kapal feri. Kemana saya pergi? Itu ada di lautan.
Seorang marinir berteriak dalam bahasa Inggris dan ada yang menerjemahkan dalam bahasa Arab, “Kamu berada di bawah kendali marinir AS!”
Mereka tak henti berteriak dan menyerang kami secara fisik selama sisa perjalanan itu.
Kapal feri akhirnya berlabuh. Sebuah bus kemudian membawa kami ke bagian akhir perjalanan. Kami diturunkan dengan cara ditarik paksa, satu demi satu.
Sejurus kemudian, saya dipaksa duduk berlutut selama berjam-jam. Lakban yang menutupi mulut menghalangi jeritan. Setiap sel di tubuh seperti berteriak, tetapi tidak ada yang bisa mendengarnya. Mereka mungkin bisa melihat rasa sakit itu, dan mungkin kemanusiaan mereka juga berteriak balik.
Kami kemudian dibawa ke pos pemeriksaan. Penghinaan dan pelecehan terus terjadi berulang kali.
Tentara kemudian menyeret tubuh saya yang telah ditelanjangi, di atas kerikil tajam, menuju tempat tentara reaksi cepat (IRF). Ada tentara yang kemudian menindih saya, lalu melepas rantai dengan kasar, tudung kepala, penutup telinga, dan lakban di mulut. Dia kemudian berteriak ke telinga saya, “Tahanan 441! Jangan melawan!”
Melawan? Bahkan saya hampir tidak bisa bernapas. Namun tanpa disadari, mereka telah memperkenalkan kata “lawan” ke dalam mental saya. Itulah yang seharusnya saya lakukan, namun saya belum tahu caranya.
Pada malam hari, butuh beberapa saat agar penglihatan saya kembali, tetapi masih buram. Yang bisa saya lihat hanyalah lautan dan sosok berpakaian oranye yang dikurung seperti saya juga. Terdengar suara gemerincing rantai, pintu dibanting, tentara berteriak dengan suara amat keras, “Jangan lihat saya! Lihat bawah! Jangan bicara!”
Di tempat itu banyak anjing, yang sering menggonggong dalam jarak yang amat dekat. Namun gonggongan itu kalah agresif dibanding aksi para tentara. Bisa jadi, gonggongan anjing-anjing itu sebenarnya memprotes perlakuan tidak manusiawi yang dilihatnya.
Bertahan Hidup
Pagi pertama saya di Penjara Guantanamo. Di sinilah saya berada. Kamp Tahanan Teluk Guantanamo atau Penjara Guantanamo adalah kompleks penjara militer yang menempati sebagian pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo, Kuba, sejak tahun 2002.
Saya memperhatikan situasi sekeliling. Tahulah akhirnya saya dikurung di tempat seperti sangkar berantai, yang mungkin hewan pun tidak akan bertahan hidup.
Ada banyak orang di sini. Kami semua terlihat serupa: wajahnya bengkak dan memar, mata hitam, kepala gundul, bibir pecah dan luka berdarah. Itu seperti “tanda tangan” para tentara, yang ingin membuktikan bahwa AS “memenangi” perang melawan “teror”. Kami diposisikan sebagai pihak terburuk di antara yang terburuk.
Kami yang diseret ke tempat tak dikenal ini berasal dari berbagai belahan dunia. Beberapa di antara kami dijual untuk mendapatkan hadiah, dan beberapa diserahkan ke CIA oleh pemerintah mereka sendiri. Ini pertama kalinya terjadi dalam sejarah: 800 pria dan anak-anak —ya, anak-anak— dari 50 negara, berbicara lebih dari 20 bahasa berbeda, memiliki pola pikir dan budaya berbeda, kemudian direnggut dan diterbangkan ke lubang gelap yang tersembunyi dari dunia. Kamp penjara AS ini bahkan tidak berada di Amerika.
Semua yang kami miliki dirampas, hanya tersisa tubuh berpakaian oranye dengan angka tercetak di gelang yang terkunci di pergelangan tangan. Kebebasan kami juga dirampas, tubuh kami dipenjara, mereka mengendalikan dan tidak mengakui harkat kemanusiaan kami. Mereka mengira dapat mengendalikan tubuh dan kebebasan kami, tetapi mereka tidak akan pernah mengendalikan hati dan jiwa kami.
Kami diisolasi dan diputus dari keluarga dan seluruh dunia. Di “lubang gelap Amerika” ini, kami harus mengkreasi dunia sendiri. Kami disiksa dan dilecehkan, tetapi kami juga berusaha bernyanyi, menari, melawan, dan selamat. Sesekali ada dermawan yang datang, yang menentang AS, untuk berbagi makanan dan mendengarkan keluhan kami. Sementara kami tiap hari hanya berteman dengan iguana, kucing, burung, dan tikus.
Kami melewati Camp X-Ray, Camp Delta, Camp 5, Camp 6, Camp Echo, dan lain-lain. Kami mengalami penyiksaan dan pelecehan. Kami sempat melakukan mogok makan untuk memprotes hal itu, namun kemudian disiksa lagi.
Setiap tahun kami bertambah tua dan pemenjaraan terasa semakin dalam. Para penculik semakin “kreatif” dalam teknik penyiksaan untuk menghancurkan kami dan mencoba mengubah kami menjadi pribadi yang berbeda.
Agar bertahan di “lubang gelap” itu, sesama tahanan berusaha saling memiliki, sebab hanya merekalah yang menjadikan kami manusia. Kami adalah ayah, suami, saudara, dan anak dari berbagai belahan dunia. Ada yang sebelumnya berprofesi sebagai guru, dokter, tentara, komandan, jurnalis, pengacara, tetua suku, mafia, penyair, profesor, dan beberapa adalah mata-mata. Sebelum di Guantanamo, kami tidak ada kesamaan.
Siklus kesulitan dan siksaan membentuk ikatan persaudaraan dan persahabatan yang kuat, yang membantu kami bertahan hidup. Kami mulai mengembangkan kehidupan bersama yang baru di Guantanamo.
Otak kami mulai membangun ingatan, hubungan, pengetahuan, dan pengalaman baru, semuanya dengan kehidupan Guantanamo. Hal itu melahirkan Guantanamo yang indah, di mana kami bisa menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa yang berbeda, menarikan tarian dari budaya yang berbeda, dan tertawa serta menangis bersama.
Guantanamo telah menjadi bagian dari hidup kami. Guantanamo terus tumbuh, berkembang dan berubah, memakan kehidupan dan kemanusiaan kami.
Amerika Tertawan
Sesungguhnya, kami bukan satu-satunya korban Guantanamo. Ada banyak orang AS yang datang untuk bekerja di penjara, dan mereka sebenarnya juga korban.
Mereka sejatinya menolak sikap buruk yang dilakukannya kepada kami. Yang terang-terangan menolak, maka bisa dihukum penjara. Ada pula yang dipecat atau diturunkan pangkatnya. Mereka adalah manusia dan juga korban, terlepas dari kebangsaan atau di pihak mana mereka berada. Ketidakadilan tidak memiliki batas, warna, atau kebangsaan.
Di kurun waktu yang gelap tahun 2002-2010, kami memprotes dan melakukan mogok makan selama bertahun-tahun. Kami melawan semampu yang kami bisa.
Di masa ada kelonggaran kebijakan, kami bisa belajar bahasa Inggris dan seni. Ada yang melukis, membuat kapal, lemari, semuanya dari sisa-sisa sampah dan kardus bekas.
Di Guantanamo, saya tumbuh, dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria yang dipenjara. Dunia saya adalah Guantanamo, dan di situlah setengah dari hidup saya diambil.
Akhirnya setelah sekitar 15 tahun, saya bisa meninggalkan Guantanamo. Seperti saat saya dibawa ke sana, kepala juga diberi tudung dan dirantai. Petugas mengatakan, “Kamu tidak punya pilihan.”
Seluruh dunia setuju bahwa Guantanamo adalah noda kemanusiaan dan salah satu pelanggaran HAM terbesar di abad ke-21. Namun ada orang-orang yang menyiksa dan melecehkan kami di Guantanamo, yang masih membual tentang apa yang mereka lakukan.
Kabarnya saat ini masih ada 34 pria di Guantanamo, 20 di antaranya telah dibebaskan. Ada banyak seruan untuk penutupan penjara hitam itu.
Bagi kami, menutup Guantanamo tidak hanya berarti menutup fasilitas tersebut, tetapi juga ada pertanggungjawaban penuh dari pemerintah AS atas apa yang terjadi di sana. Yakni pengakuan atas perlakuan kejam dan tidak manusiawi, permintaan maaf yang sesungguhnya, serta rehabilitasi bagi para korban.
Guantanamo melambangkan penindasan, ketidakadilan, penyiksaan, dan pelanggaran hukum. Yang ironis, meskipun kami adalah tawanan “perang melawan teror”, namun AS juga selalu tertawan dengan kekerasannya sendiri. Dan Guantanamo adalah bagian dari kekerasan ini, yang warisannya akan terus hidup lama meskipun penjara ditutup. Amerika Serikat sendiri adalah tawanan terbesar Guantanamo.*
Diolah dari tulisan Mansoor Adayfi di Middle East Monitor (23/02/2023). Pandangan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial.