Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Perang Ain Jalut

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2023 09:57 9:57 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2023 10:30
Bagikan
Bagikan

Strategi jitu kaum Muslimin berhasil menaklukkan tentara Mongol yang dikenal hebat dan kejam, Perang Ain Jalut (The Bettle of Ain Jalut) terjadi pada 25 Ramadhan 658 H

Hidayatullah.com | KETIKA itu tiba kabar di Mesir bahwa pasukan Mongol telah menguasai Baghdad. Mereka kemudian dengan mudah menguasai Syam, dengan melakukan pembantaian, perampasan, serta penghancuran.

Saat itu Mesir dipimpin oleh seorang anak yang masih belia, dengan umur tidak lebih dari 15 tahun. Namanya al-Manshur Ali, sedangkan pelaksanaan roda pemerintahan ditangani oleh Saifuddin Qutuz.

Di tengah ancaman tentara Mongol, al-Manshur Ali ternyata tidak melakukan tindakan yang selayaknya dalam merespons situasi bahaya. Bahkan ia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan hiburan yang sia-sia semisal bermain burung merpati, ayam jantan, juga menunggang keledai. (as-Suluk, 1/406).

Datanglah utusan dari Syam yang bernama Kamaluddin al-Adim, hendak meminta batuan. Dalam waktu yang sama, beredar kabar pula bahwa Mongol akan menyerang Mesir.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Oleh karena itu, Saifuddin Qutuz segera menyusun persiapan untuk melakukan pertempuran. Diundanglah para pejabat dan ulama, termasuk Imam Izuddin bin  Abdissalam selaku mufti Mesir di benteng Shalahuddin al-Ayyubi di Kairo. (Badai’ az-Zuhur, 1/306).

Saifuddin Qutuz melihat bahwa ancaman Mongol tidak bisa dibiarkan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan Mesir. Keberadaan al-Manshur Ali di tampuk kepemimpinan dianggap tidak layak, apalagi ibu al-Manshur juga sering melakukan intervensi dalam urusan kenegaraan. Akhirnya pada tanggal 27 Dzulqa’dah 657 H, al-Manshur dan ibunya diamankan dalam sebuah rumah yang telah disiapkan. (as-Suluk, 1/417).

Pemimpin Mongol, Hulagu Khan, akhirnya benar-benar mengirimkan surat ke Saifuddin Qutuz. Isinya adalah ancaman jika mereka tidak menyerahkan negeri itu kepada pihak Mongol. (as-Suluk, 1/327-328).

Saifuddin Qutuz segera mengumpulkan para pejabat untuk membicarakan tentang ancaman itu. Hingga akhirnya mereka sepakat memilih untuk berjihad.

Qutuz mengumumkan, “Pendapatku, bahwa kita semua akan menghadapi dengan pertempuran. Kalau kita menang, itu yang kita harapkan. Tapi kalau kita kalah, kita tidak akan tercela di hadapan manusia.” (Jami’ at-Tawarikh, 1/312, 313).

Seruan Qutuz untuk melakukan jihad itu berhasil mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar. Mereka terdiri atas pasukan dari Mesir sendiri, juga pasukan yang tersisa dari Syam yang melarikan diri ke Mesir, setelah Damaskus dan Halab dikuasai Mongol. Ada lagi tambahan pasukan dari beberapa kabilah Arab di Syam. (Akhbar al-Ayubiyiin, hal 175).

Saifuddin Qutuz tidak menunggu hingga Mongol menyerang Mesir. Ia bahkan memilih untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu ke Syam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 3/ 220).

Adu Siasat

Di Syam, Hulagu Khan mempercayakan kekuasaan kepada Kitbugha. Pemimpin Mongol ini meninggalkan negeri itu untuk menuju ke Iran, pasca kematian saudaranya, Manku Khan.

Mengenai Kitbugha, Rasyiduddin al-Hamadani menggambarkan, “Ia seperti singa lapar, naga yang cerdik. Jika ia menyerang Mesir, maka tidak satupun yang mampu melawannya.” (Jami’ at-Tawarikh, 311).

Untuk menghadapi pasukan Mongol yang berjumlah besar dan dikenal bengis itu, Saifuddin Qutuz membagi pasukan menjadi dua bagian. Yang pertama adalah pasukan yang dipimpin oleh Dhahir Baibars.

Pasukan ini bertugas melakukan pengintaian terhadap pasukan Mongol yang telah menguasai Gaza yang dipimpin oleh Baidra. (as-Suluk, 1/430).

Mendengar kabar bahwa Gaza hendak diserang pasukan Muslim, Kitbugha memutuskan untuk mempersiapkan pasukan untuk berangkat menuju kota itu. Dhahir Baibars pun akhirnya memilih untuk menyerang Gaza terlebih dahulu, sebelum bala bantuan pasukan Mongol tiba. Serangan itu sendiri mengejutkan pasukan Mongol, sampai akhirnya Baidra dan sisa-sisa pasukannya melarikan diri menuju Kitbugha di Damaskus. (Jami’ at-Tawarikh, 1/313).

Setelah pasukan Mesir yang dipimpin Dhahir Baibars berhasil menghancurkan Mongol di Gaza, pasukan lain yang dipimpin oleh Saifuddin Qutuz memilih untuk mempercepat serangan terhadap pasukan Kitbugha di Damaskus.

Mereka menempuh jalan pintas, yakni melalui wilayah Akka yang saat itu dikuasai oleh pemerintahan Salib. Sebelumnya, Qutuz telah mengirimkan utusan dalam rangka meminta izin kepada penguasa Salib untuk melewati wilayah yang mereka kuasai.

Kitbugha marah ketika pasukannya di Gaza berhasil dihancurkan oleh Dhahir Baibars. Ia kemudian memutuskan untuk mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar guna menghadapi pasukan Qutuz.

Sebelum pertempuran berlangsung, Qutuz telah menyusun siasat jitu. Pasukan yang dipimpin oleh Dhahir Baibars yang terdiri dari 10 ribu penunggang kuda melakukan muslihat, seakan-akan pasukan itulah yang hendak berhadapan dengan pasukan Mongol.

Sedangkan sejatinya, pasukan dengan jumlah lebih besar bersembunyi di balik rerimbun dan hutan di sekitar Ain Jalut. Mereka bersiap untuk melakukan penyergapan. (as-Suluk, 1/43, 430).

Pada hari Jumat, 25 Ramadhan 658 H, setelah matahari terbit, pasukan Dhahir Baibars sudah berhadap-hadapan dengan Pasukan Kitbugha. Namun sesuai rencana, pasukan Dhahir Baibars mundur, sedangkan pasukan Mongol terkecoh. Mereka mengira bahwa pasukan Dhahir Baibars merupakan pasukan Mesir secara keseluruhan.

Mengetahui pasukan Dhahir Baibars mundur, mereka melakukan pengejaran. Pihak Mongol mengira akan dengan mudah menghancurkan pasukan itu.

Namun tiba-tiba pasukan Mesir dari tiga penjuru keluar untuk melakukan penyergapan, sehingga terjadi pertempuran sengit dari sejak matahari terbit hingga tengah hari. (Jami’ at-Tawarikh, 1/ 314).

Dalam pertempuran itu, pasukan Muslim sempat kewalahan menghadapi pasukan Mongol yang memang memiliki kemampuan dan pengalaman tempur. Sampai akhirnya, Qutuz melepas pelindung kepalanya dan mencampakkan dirinya ke tengah pasukan Mongol.

Para prajurit Muslim pun semangatnya berkobar. Akhirnya pasukan Mongol berhasil dikalahkan. Sang pimpinan, Kitbugha yang seperti singa lapar itu, berhasil dibunuh. Banyak pula dari mereka yang tertawan. (as-Suluk, 1/431).

Setelah pertempuran Ain Jalut usai, Daulah Mamalik berkuasa penuh atas wilayah Syam. Merekalah yang kemudian merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman pasukan Mongol. (Badai’ az-Zuhur, 1/307).*/Thoriq, artikel dimuat di Majalah Suara Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineMongolPerang Ain JalutPilihan RedaksiSaifuddin Qutuz
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tipu Daya Hawa Nafsu dan Kerusakan Ibadah
Tulisan selanjutnya ‘Israel’ Setujui Rencana Ekstemis Ben-Gvir Membentuk Garda Nasional yang Membahayakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Berita
30 Juni 2026 16:35
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Terbaru

  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?