Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Amnesty: Bunuh Warga Sipil di Afghanistan, Amerika Selalu Gagal Mengadili Tentaranya

Ama Farah
Terakhir diupdate: 12 Agustus 2014 07:00 7:00 am
Ama Farah
Dipublikasikan 12 Agustus 2014 07:00
Bagikan
Tentara Amerika Serikat di Afghanistan bersama tawanannya.
Bagikan

Hidayatullah.com–Tentara Amerika Serikat yang menyiksa atau membunuh warga sipil Afghanistan hingga saat ini belum ada yang diadili, karena kegagalan sistem peradilan militer AS, kata Amnesty International Senin (11/8/2014).

Sedikitnya 1.800 orang warga sipil Afghanistan dibunuh oleh pasukan koalisi antara tahun 2009 dan 2013, kata Amnesty dalam laporannya yang dirilis di ibukota Kabul. Tetapi, hanya ada 6 kasus dengan terdakwa personel militer AS yang diproses di pengadilan pada masa itu.

Sejumlah keluarga yang mencari keadilan dari pemerintah Amerika menghadiri sebuah konferensi di Kabul guna memberikan kesaksian dramatis mereka tentang pengalamannya malangnya. Termasuk di antara mereka adalah para wanita yang mengenakan burqa yang selamat dari serangan mematikan pasukan Amerika.

“Sistem peradilan militer AS hmapir selalu gagal menuntut tanggung jawab tentaranya atas pembunuhan di luar hukum dan pelanggaran lainnya,” kata Richard Bennett direktur Amnesty Internasional untuk wilayahAsia-Pasific dalam pernyataannya yang dikutip Reuters. Dalam pernyataan itu Amnesty menuntut sistem peradilan militer Amerika Serikat direformasi.

“Ribuan orang Afghanistan telah dibunuh atau dilukai oleh pasukan AS sejak invasi, tetapi korban dan keluarganya hanya punya peluang kecil untuk menuntut ganti rugi,” kata Amnesty.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sejumlah korban bersaksi dalam konferensi tersebut dan menceritakan tentang penyiksaan atau pembunuhan anggota keluarga mereka oleh pasukan Amerika Serikat.

Muhammad Saber dari Provinsi Paktia di timur Afghanistan mengenang saat tentara AS menahan dia dan tiga orang lainnya dalam sebuah serangan atas rumahnya usai pesta.

Istri Saber, saudara perempuannya dan keponakan perempuannya ditembak mati di tempat, sedangkan saudara laki-lakinya dan keponakan laki-lakinya dibiarkan mati merana akibat luka ditubuhnya, sementara Saber dibawa pergi bersama tiga orang pria lainnya untuk diinterogasi.

“Kita tidak boleh membiarkan ini begitu saja. Mereka yang membunuh keluarga saya harus dihukum,” kata Saber. “Orang Amerika menyebut Taliban teroris, tetapi mereka sendiri teroris dengan menggerebek rumah-rumah dan bertindak kejam,” imbuhnya.

Seorang korban lainnya menceritakan tentang dirinya bersama 18 orang yang disiksa, sebagian dibunuh, di Provinsi Wardak oleh tentara Amerika Serikat.

“Pakaian mereka dilucuti, kaki mereka direntangkan lalu mereka dipukuli,” kata Qand Agha seorang pria tua kurus, berjenggot putih dan mengenakan turban.

“Saya berada di sebuah ruangan di mana mereka semua dibunuh di depan saya lalu dimasukkan ke dalam kantong mayat hitam,” kata pak tua itu.

Qand Agha kemudian dibawa bersama beberapa orang lain yang masih hidup hari itu juga ke penjara Bagram, di mana dia dikurun selama satu tahun tanpa ada proses hukum.

Seorang wanita dengan burqa menutupi tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki ikut bersaksi dalam konferensi itu dan berusaha mencari keadilan atas apa yang dialaminya. Dia mengalami kebutaan akibat serangan udara Amerika Serikat dua tahun lalu, yang juga membunuh tujuh orang perempuan dan seorang bocah ketika mereka sedang mencari kayu bakar.

“Kami memohon kepada mereka agar meminta Amerika menghentikan pemboman karena orang-orang itu adalah para wanita dan bukan Taliban. Tetapi mereka tidak berhenti dan bahkan membom selama dua jam lamanya,” kata Baba Zahir Shah seorang wanita penduduk di daerah yang dibom Amerika.

“Bukti-bukti dugaan kejahatan perang dan pembunuhan di luar hukum kelihatan diabaikan,” kata Bennett, seraya menambahkan bahwa kalaupun kasusnya disidangkan namun pengadilan militer Amerika Serikat cenderung bersikap lunak dan berpihak kepada tentaranya, sementara orang-orang Afghanistan sangat jarang diminta kesaksiannya.

Menanggapi hal itu, seperti biasa lewat jurubicaranya Departemen Pertahanan AS mengajukan dalih. Komander AL (Letkol) Amy Derrick Frost mengatakan Amerika Serikat telah menyelidiki personel militer dan personel sipil, termasuk para kontraktor atas jatuhnya korban rakyat sipil akibat operasi militer atau kecelakaan.

Tentara Amerika, kata Frost, dilarang menyiksa orang di dalam penjara dan memberikan perlakuan tidak manusiawi kepada tahanan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Afghanistan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Beda Sikap Soal Khilafah ISIS, Eks JAT Dirikan JAS
Tulisan selanjutnya Menolak Tuntutan Mundur, PM Nuri Al-Maliki Kerahkan Pasukan di Baghdad

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?