Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Menjadi ‘Pahlawan’ dalam Kebaikan

Ahmad
Terakhir diupdate: 16 November 2024 07:23 7:23 am
Ahmad
Dipublikasikan 16 November 2024 09:30
Bagikan
Bagikan

Jadilah “pahlawan” yang banyak memberikan manfaat, merajut kebaikan, dan menebar manfaat untuk orang lain

Oleh: Imam Nur Suharno

Hidayatullah.com | BELUM lama ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional tanggal 10 November. Tema yang diusung pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2024 adalah Teladani Pahlawanmu Cintai Negerimu.

Melalui tema ini, masyarakat diajak untuk meneladani, menghormati, dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Spirit perjuangan dan pengorbanan para pahlawan hendaknya menjadi semangat seluruh anak bangsa untuk membangun Indonesia, apapun profesi dan latar belakangnya. Semangat kepahlawanan ini dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Intinya, memberikan manfaat seluas-luasnya untuk masyarakat, bangsa, dan negara, dengan semangat apa yang bisa kita berikan bukan apa yang kita dapatkan.

Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya ialah limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya, kebenaran dan ridha-Nya.

Kebenaran adalah segala sesuatu (baik berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ (wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu).

Pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks memperjuangkan kebenaran dan menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar. Dalam konteks makro, pahlawan Islam ialah orang Islam yang berjuang membela Tanah Air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara dari penindasan dan penjajahan.

Disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, dan untuk semesta alam (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi ﷺ, khair al-nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah, wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin.

Berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan banyak disebutkan dalam Al-Quran, antara lain dalam QS al-Baqarah [2] ayat 193; QS al-Anfal [8] ayat 39); dan QS an-Nisa [4] ayat 75.

Sebenarnya pahlawan itu tidak mati, karena jasanya selalu dikenang, kebaikannya tertabur dalam jiwa umat, tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan. Meski secara lahiriyah sudah tiada (QS al-Baqarah [2]: 154).

Banyak pahlawan yang tercatat dalam sejarah Islam baik pada zaman Nabi maupun pada masa sesudahnya yang tak terhingga jumlahnya. Ada juga pahlawan besar Islam yang coba mengobarkan semangat jihad Nabi dengan menggaungkan kembali Sirah Nabawiyah-nya, seperti Shalahuddin al-Ayyubi.

Shalahuddin al-Ayyubi telah terukir namanya dalam sejarah perjuangan umat Islam, karena ia mampu menumpas tentara multinasional Salib dari seluruh benua Eropa.

Guna membangkitkan kembali ruh perjuangan di kalangan umat Islam yang saat itu telah terlena dengan perjuangan yang telah diwariskan oleh Nabi ﷺ, Shalahuddin mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi ﷺ. Melalui media peringatan itu, diungkaplah sikap kesatria dan kepahlawanan Nabi Muhammad ﷺ.

Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan di kalangan umat Islam menghadapi serbuan tentara ke Tanah Suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan dan kemampuannya ia dan pasukannya dapat memukul mundur bala tentara yang dipimpin oleh Richard The Lionheart (Richard Si Hati Singa) dari Inggris.

Inilah satu contoh pahlawan besar Islam yang bisa disebut di sini, dari sekian pahlawan Islam yang lain itu, seperti Imam Bonjol, Tgk Chik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien dan lainnya di Serambi Makkah.

Di setiap penghujung Abad, selalu muncul pahlawan yang tegak memperjuangkan kebenaran di muka bumi.

Hanya yang perlu dipahami bahwa perjuangan yang ditegakkan atas nama Islam, tidak dimonopoli oleh sekelompok Islam itu sendiri. Ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam ketika memperjuangkan Islam, justru malah merugikan orang lain dan memerangi orang yang tidak bersalah, jika demikian itu tidak dibenarkan adanya.

Ketika Nabi ﷺ berjuang menegakkan Islam, yang ditegakkan adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal: keadilan, kesamaan, toleransi, dan hak-hak orang lain tetap diperhitungkan.

Sikap Nabi yang toleran dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang memang lahir dari ajaran Islam inilah yang kemudian memosisikan Islam sebagai agama rahmat.

Menghargai Pahlawan

Generasi awal Islam terkenal dengan ketangguhannya dalam membela agama, berkaca pada kehidupan Nabi ﷺ, kisah para sahabat dan Palawan Islam lainya. Mereka yang berperang di jalan Allah.

Mereka yang mati, meneteskan peluh dan darahnya untuk membela agama karena Allah. Dijanjikan atas mereka surga, bahkan orang-orang yang gugur dijalan-Nya dimuliakan dengan hidup di sisi Tuhannya.

”Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh; dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa [4]: 69).

Menjadi seorang pahlawan tidak harus selalu berperang secara gamblang -angkat senjata- dalam konteks kekinian yang secara kasat mata tidak ada lagi “perang” dan kedzaliman atau lainnya.

Akan tetapi, berperang dalam jihad fi sabilillah bisa dengan cara berperang melawan kebodohan, melawan kemaksiatan, berperang terhadap fitnah dan ideologi yang melawan Islam, mengajak kepada yang baik dan menjauhi yang buruk, semuanya ikhlas karena Allah semata.

Bagaimana cara menghargai jasa para pahlawan itu? Islam mengharuskan kita untuk senantiasa berdakwah, meneruskan perjuangan Nabi dan para pahlawan, menanamkan semangat untuk terus mengumandangkan ayat Allah, menyampaikan ilmu dalam kebaikan, dan saling menasihati untuk menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya.

Islam menganjurkan untuk meneladani sikap kepahlawanan mereka. Mereka bergembira dengan karunia Allah yang dilimpahkan kepadanya, mereka bergembira terhadap orang-orang yang masih tertinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa mereka tiada merasa takut dan tiada berduka.

Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari-Nya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang mukmin.

Semuanya itu diabadikan oleh Allah, semuanya tercatat dengan indah dalam Kitabullah, agar kita dapat mengambil hikmah di dalamnya.

“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, kamu beriman kepada Allah; dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).

Paling tidak semua di antara kita bisa menjadi “pahlawan” yang banyak memberikan manfaat, merajut kebaikan, dan menebar manfaat untuk orang lain.

`Semoga Allah membimbing kita agar mampu menjadi pahlawan yang dirindukan dan siap berjuang dengan memberikan manfaat untuk kebaikan masyarakat, bangsa, dan negara. Amin.*

Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekebaikanmanfaatpahlawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Riset: Ilmuwan Buktikan Rahasia Sujud dan Manfaatnya bagi Otak
Tulisan selanjutnya Perbankan Syariah,  Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Berita
29 Agustus 2026 14:04
Korban Meninggal Gempa NTT Capai 103 Orang, Sebagian Besar Perempuan dan Lansia
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?