Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Di Balik Niat Buruk Orientalis terhadap Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 18 Maret 2025 18:45 6:45 pm
Ahmad
Dipublikasikan 18 Maret 2025 18:44
Bagikan
Bagikan

Seperti Snouck Hurgronje, orientalis Arent Jan Wensinck mempelajari Islam, niatnya bukan untuk menjadi seorang Muslim, tetapi mencari ‘kelemahan Islam’

Hidayatullah.com | ORIENTALISME dan kolonialisme secara historis saling terkait erat, terutama dalam konteks negara-negara Muslim. Orientalisme, sebagai pendekatan ilmiah oleh Barat dijadikan untuk “mempelajari Islam” dan peradaban Timur, sering kali memberikan landasan intelektual bagi pemerintahan kolonial.

Kekuatan-kekuatan Eropa mengandalkan pengetahuan orientalis untuk lebih memahami dan mengendalikan masyarakat Muslim selama periode ekspansi dan kolonisasi mereka.

Dengan menggunakan cara pandang skeptis menilai Islam, banyak orientalis yang termotivasi bukan hanya oleh keingintahuan akademis tetapi juga oleh kepentingan politik dan strategis.

Banyak kebijakan kolonial dengan menggunakan penelitian orientalis untuk membenarkan penjajahan mereka atas tanah-tanah Muslim, menggambarkan Islam sebagai agama yang terbelakang dan tidak rasional yang membutuhkan bimbingan Barat.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir (1798): Napoleon membawa para sarjana untuk mempelajari budaya, bahasa, dan agama Mesir, yang membantu Prancis menegaskan kendali atas wilayah tersebut.

Pemerintahan Inggris di India: Inggris mengandalkan orientalis seperti William Jones untuk mempelajari hukum Islam, yang memungkinkan mereka untuk memanipulasi sistem hukum lokal demi keuntungan mereka.

Kolonisasi Belanda di Indonesia: Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda, mempelajari Islam di Indonesia untuk membantu pemerintah kolonial mengendalikan perlawanan Muslim, khususnya di Aceh.

Sarjana orientalis sering menggambarkan masyarakat Muslim sebagai masyarakat yang stagnan, lalim, dan tidak mampu memerintah diri sendiri.

Hal ini membenarkan intervensi Eropa dengan kedok “memperadabkan” penduduk asli. Gagasan tentang “Beban Orang Kulit Putih” memperkuat keyakinan bahwa Barat memiliki kewajiban moral untuk memerintah dan mereformasi masyarakat Muslim.

Para orientalis menerapkan berbagai teori dalam kajian Islam, seperti teori pengaruh, teori asal-usul, teori peminjaman, dan teori kritik sejarah, yang sering digunakan dalam karya-karya mereka.

Namun, pendekatan mereka sering kali bersifat akademis tanpa mengakui kebenaran Islam, seenaknya membagi Islam menjadi kategori-kategori seperti Islam klasik, Islam moderat, dan Islam radikal.

Arent Jan Wensinck Berniat Menjatuhkan Islam

Salah satu contoh menarik adalah seorang orientalis keturunan Yahudi asal Belanda, Arent Jan Wensinck. Wensinck lahir di Belanda pada tahun 1882 dan wafat pada tahun 1939.

Ia merupakan anak dari Johan Herman Wensinck, seorang menteri di Belanda, dan ibunya bernama Sarah Getrude Fermier. Sejak muda, Wensinck telah menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap studi keislaman, meskipun niatnya tentu saja bukan untuk menjadi seorang Muslim.

Sebagai seorang orientalis sejati, ia mempelajari berbagai bahasa dan budaya, termasuk bahasa Arab, Ibrani, dan Suriah. Ilmu ini digunakannya untuk mendalami hadis dan ajaran Islam.

Salah satu gurunya adalah Snouck Hurgronje, seorang orientalis terkenal yang menjadi konsultan Pemerintah Kolonial Belanda dan menjadikannya harus berpura-pura masuk Islam.

Niat Tersembunyi di Balik Studi Islam

Wensinck bukan sekadar akademisi biasa. Ia memiliki niat tersembunyi untuk melemahkan Islam dengan memutarbalikkan ajarannya.

Dengan bekal ilmu orientalisnya, ia menulis berbagai karya yang tampaknya ilmiah, tetapi di balik itu, ada upaya untuk menimbulkan keraguan di kalangan umat Islam.

Salah satu karya terkenalnya adalah tesis berjudul Mohammed and the Jews of Medina, yang menjadi rujukan utama dalam studi Islam di Universitas Leiden.

Karya ini membawanya meraih gelar akademik dengan predikat cum laude. Pada tahun 1912, ia diangkat menjadi pengajar bahasa Ibrani di universitas yang sama.

Dia banyak mempelajari hadis Nabi, dan menulis sebuah buku bahasa Inggris tentang kamus hadis Nabi, yang dia temukan dari 14 kitab Sunan dan Sirah.  

Dia telah menjadi Direktur Studi Islam pada tahun 1925 M di mana dia menerjemahkan esai dalam tiga bahasa sekaligus sampai dia menghasilkan sebuah buku yang memiliki 4 volume besar.

Dia juga menulis banyak tulisan dengan berbagai sumber. Di antaranya adalah buku-buku berbahasa Inggris tentang Islam dan penganutnya. (Dari buku الأعلام للزركلي tentang Wensinck).

Sebagai seorang Kristen anti-Islam, ia mencurahkan banyak waktunya untuk mempelajari Islam, terutama hadis yang dilakukan dengan maksud untuk merendahkan dan menghina Islam itu sendiri.

Itulah sebabnya dia dipecat dari pekerjaannya saat berada di Mesir karena tulisannya yang secara terbuka menyinggung umat Islam.

Terlepas dari niat jahatnya, ia juga menyusun sebuah karya besar yang kemudian digunakan oleh umat Islam untuk memfasilitasi pencarian kata-kata hadis, yaitu: “A Handbook Of Early Muhammadan Tradition” yang disusun berdasarkan abjad yang setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi “Miftah Kunuz As-sunnah” dan “al-Mu’jam al-Mufahrass li Alfazh al-Ahadis Al-Nabawi”.

Pada tahun 1913 hingga 1938, Wensinck juga terlibat dalam penyusunan Ensiklopedia Islam, sebuah proyek besar yang mendokumentasikan berbagai aspek agama Islam dan tradisinya.

Meskipun dalam beberapa bagian ia berusaha mengabaikan syariat Islam, ensiklopedia ini tetap menjadi sumber berharga bagi penelitian Islam.

Hikmah di Balik Niat Buruk

Apa yang dilakukan Wensinck menunjukkan bahwa terkadang, musuh Islam justru tanpa sadar terkadang justru menguatkan umat ini sendiri. Rasulullah ﷺ pernah bersabda yanga artinya; “Sesungguhnya Allah menguatkan agama dengan lelaki yang jahat (fajir).” (HR: al-Bukhari).*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arent Jan WensinckHeadlinekelemahan IslamorientalisPilihan RedaksiSnouck HurgronjeStudi Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Plov dan Iftar Jama’I:  Tradisi Ramadhan di Tatarstan
Tulisan selanjutnya Ahmad Dhani: Islamofobia Lahir karena Ada yang Tidak Ingin Islam Kembali Berkuasa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?