Konflik berdarah di Sweida menunjukkan bagaimana penjajah ‘Israel’ memanfaatkan hubungan historis dengan Druze untuk memperluas pengaruh militernya dan memecah-belahdi Suriah dengan dalih ‘perlindungan minoritas’
Hidayatullah.com | Lebih dari 300 warga Muslim Suriah, mayoritas dari suku Badui Sunni, dilaporkan tewas dalam bentrokan sektarian berdarah yang melibatkan milisi bersenjata Druze di provinsi Sweida. Konflik yang meletus sejak awal Juli 2025 ini disebut sebagai salah satu kekerasan antarkomunitas (antar-klan) terburuk di selatan Suriah sejak perang saudara pecah 2011 silam.
Menurut laporan Associated Press (19 Juli 2025), kekerasan dipicu oleh serangkaian serangan dan penculikan antara kelompok Druze dan Badui, yang kemudian berubah menjadi pertarungan terbuka. Beberapa rumah warga Sunni dibakar dan ratusan keluarga mengungsi. Pemerintah sementara Suriah menyebut jumlah korban tewas mencapai 321 orang, sementara sumber lokal mengklaim angka kematian melebihi 1.100 jiwa.
Reuters (21 Juli 2025) melaporkan lebih dari 1.500 warga Badui telah dievakuasi dari kota Sweida menuju provinsi Daraa melalui bantuan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Suriah. PBB memperkirakan konflik telah berdampak pada lebih dari 128.000 penduduk.
Situasi memanas ketika milisi Druze meminta bantuan dari Israel. Israel menanggapi dengan melancarkan sejumlah serangan udara terhadap instalasi militer pemerintah Suriah di Damaskus dan Sweida.
Namun, intervensi ini memicu reaksi keras dari Washington. Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, menyatakan bahwa “langkah Israel sangat tidak tepat dan justru membahayakan proses stabilisasi di Suriah” (AP, 20 Juli 2025).
Siapa Etnis Druze dan Apa Hubungannya dengan penjajah ‘Israel?’
Etnis Druze adalah kelompok minoritas Syiah-Ismailiyah yang berkembang menjadi entitas tersendiri sejak abad ke-10. Komunitas Druze terbesar berada di Suriah (sekitar 700.000 jiwa), Lebanon, dan Israel. Di mata dunia Arab, Druze dikenal karena kerahasiaan ajaran agama mereka serta sikap loyal terhadap negara tempat mereka tinggal.
Menurut laporan Sky News (20 Juli 2025), milisi Druze di Suriah memiliki jaringan bersenjata kuat dan telah lama mengelola keamanan komunitas mereka secara otonom, khususnya di wilayah Sweida.
Sementara itu, di ‘Israel’, sekitar 140.000 warga Druze memiliki status istimewa. Mereka adalah satu-satunya kelompok Arab yang wajib militer di IDF (Israel Defense Forces) dan sering disebut menjalin “perjanjian darah” dengan negara Yahudi itu (Wikipedia, “Druze in Israel”).
‘Israel’ dan Druze memiliki hubungan historis dan strategis. Sejak 1957, penjajah ‘Israel’ secara resmi mengakui Druze sebagai entitas agama dan etnis yang terpisah dari Islam.
Bahkan dalam beberapa pernyataan, para pejabat Israel mengklaim bahwa Druze adalah “sekutu alami” Israel di tengah dominasi Muslim di Timur Tengah.
Dalam konteks konflik Suriah, AP (19 Juli 2025) menyebut bahwa Syeikh Mowafaq Tarif—tokoh spiritual tertinggi Druze Israel—secara terbuka meminta perlindungan dari ‘Israel’ atas komunitas Druze di Sweida. Hal ini memicu serangan udara Israel, yang disebut PM Netanyahu sebagai “langkah kemanusiaan dan strategis.”
Konflik Ini Lebih dari Sekadar Sektarian
Menurut pengamat dari Carnegie Middle East Center, Dr. Lina Khatib, konflik di Sweida adalah “manifestasi dari krisis identitas nasional Suriah yang belum terselesaikan.” Ia menambahkan, “intervensi Israel memperumit keadaan karena membawa dimensi geopolitik ke dalam konflik lokal.”
Osama Al‑Sharif, kolumnis Arab News dari Amman, menyebut klaim Israel melindungi kaum Druze sebagai “smokescreen”—strategi untuk membagi dan melemahkan wilayah Arab, termasuk Suriah.
Sementara Walid Jumblatt, pemimpin Lebanon Druze, menegaskan lewat AFP bahwa Israel “berupaya melemahkan Suriah melalui komunitas Druze maupun kelompok lainnya” sebagai bagian dari “rencana lama untuk memecah-belah kawasan”.*




