Hidayatullah.com— Pada hari Selasa, Hamas mengumumkan bahwa ‘Israel’ telah gagal membunuh delegasi negosiasi mereka yang berada di Doha, ibu kota Qatar. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut bahwa ‘Israel’ gagal membunuh para anggota delegasi, meskipun beberapa orang yang mendampingi mereka gugur sebagai “syahid.”
“Kami menegaskan kegagalan musuh untuk membunuh saudara-saudara kami dalam delegasi negosiasi,” demikian pernyataan Hamas hari Selasa (9/9/2025).
Upaya ‘Israel’ untuk membunuh delegasi negosiasi Hamas di ibu kota Qatar, Doha, dinilai bukan hanya serangan keji, tetapi juga pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Qatar yang selama ini berperan penting dalam upaya mediasi gencatan senjata.
Hamas menegaskan, kegagalan operasi tersebut menjadi bukti nyata watak agresif pendudukan Zionis yang sengaja merusak peluang perdamaian dan mengabaikan hukum internasional.
“Upaya pengkhianatan pendudukan Zionis untuk membunuh delegasi negosiasi Hamas di ibu kota Qatar, Doha, hari ini merupakan kejahatan keji, agresi terang-terangan, dan pelanggaran nyata terhadap semua norma dan hukum internasional,” demikian pernyataan resmi Hamas pada Selasa (9/9/2025).
Gerakan perlawanan Palestina itu menyebut serangan tersebut merupakan pelanggaran langsung terhadap kedaulatan Qatar, negara yang bersama Mesir tengah memimpin mediasi untuk menghentikan agresi dan mewujudkan pertukaran tahanan.
Hamas menilai tindakan itu kembali memperlihatkan sifat kriminal pendudukan yang berupaya merusak setiap peluang tercapainya kesepakatan.
Menurut Hamas, serangan terhadap delegasi yang tengah membahas proposal terbaru Presiden AS Donald Trump menunjukkan bahwa Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu tidak pernah berniat mencapai kesepakatan. Hamas menuduh Netanyahu sengaja menggagalkan semua upaya internasional, bahkan mengabaikan keselamatan tawanan ‘Israel’ yang ditahan oleh pihak perlawanan.
Hamas juga menuding pemerintah Amerika Serikat turut bertanggung jawab karena memberi dukungan penuh terhadap kebijakan agresif ‘Israel’. Gerakan ini menyebut bahwa kejahatan tersebut membuktikan ancaman serius pendudukan bagi kawasan dan dunia, sekaligus bagian dari rencana lebih besar untuk melakukan genosida, pembersihan etnis, kelaparan, serta pengungsian paksa terhadap rakyat Palestina.
Dalam pernyataannya, Hamas menyerukan kepada masyarakat internasional, PBB, dan semua pihak yang memiliki nurani untuk mengecam agresi kriminal ‘Israel’ terhadap Qatar dan menekan pendudukan agar segera menghentikan perang, sekaligus mendukung hak sah bangsa Palestina atas kebebasan dan penentuan nasib sendiri.
Gerakan itu menegaskan bahwa upaya pembunuhan tidak akan mengubah posisi dan tuntutan Hamas, yaitu penghentian agresi, penarikan penuh tentara ‘Israel’ dari Jalur Gaza, pertukaran tahanan yang adil, serta dukungan rekonstruksi bagi rakyat Palestina.
Serangan Udara ‘Israel’ ke Qatar
Pada hari yang sama, Selasa (9/9/2025), militer penjajah ‘Israel’ melancarkan serangan udara ke Doha, Qatar, menargetkan pemimpin senior Hamas. Menurut laporan Al Jazeera dan Anadolu Agency, sejumlah ledakan terdengar di kawasan Leqtaifiya dekat kompleks perumahan yang dijaga ketat.
‘Israel’ mengklaim meluncurkan 12 rudal presisi untuk menghantam lokasi pertemuan Hamas yang tengah membahas proposal gencatan senjata.
Pemerintah Qatar mengecam keras serangan itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. PBB, Uni Eropa, serta sejumlah negara Teluk turut mengutuk tindakan ‘Israel’ dan memperingatkan bahwa serangan tersebut mengancam upaya mediasi gencatan senjata sekaligus kestabilan kawasan.
Gugurnya Para Syahid
Meski penjajah gagal membunuh delegasi utama Hamas, serangan tersebut menyebabkan gugurnya sejumlah mujahid yang disebut telah mencapai derajat syahid. Hamas merilis daftar nama mereka sebagai bentuk penghormatan terakhir:
- Syahid Jihad Labad (Abu Bilal) – Direktur Kantor Dr. Khalil Al-Hayya
- Syahid Humam Al-Hayya (Abu Yahya) – Putra Dr. Khalil Al-Hayya
- Syahid Abdullah Abdul Wahid (Abu Khalil) – pengawal
- Syahid Moamen Hassouna (Abu Omar) – pengawal
- Syahid Ahmed Al-Mamluk (Abu Malik) – pengawal
Hamas menilai bahwa penargetan delegasi negosiasi di saat mereka sedang membahas proposal terbaru dari Presiden AS Donald Trump membuktikan bahwa Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu dan pemerintahnya tidak menginginkan adanya kesepakatan. Hamas menganggap Netanyahu sengaja berusaha menggagalkan semua peluang dan upaya internasional, tanpa mempedulikan nyawa sandera ‘Israel’, kedaulatan negara lain, atau keamanan dan stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut juga menekankan bahwa upaya pembunuhan pengecut ini tidak akan mengubah sikap dan tuntutan jelas Hamas, yaitu: Penghentian segera agresi terhadap rakyat Palestina, penarikan penuh tentara penjajah ‘Israel’ dari Jalur Gaza, pertukaran sandera yang nyata, penyaluran bantuan untuk rakyat Palestina, dan rekonstruksi Gaza yang hancur.
Selain itu, Hamas juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Kopral Badr Saad Mohammed Al-Humaidi, anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri Qatar (Lekhwiya). “Kami memohon kepada Allah agar mengampuni mereka dan menganugerahkan mereka kedamaian abadi di surga,” tutup pernyataan Hamas.*




