Hidayatullah.com — Negosiasi yang berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir, menandai perubahan arah pembahasan konflik Gaza. Sejumlah sumber menyebutkan, pertemuan tersebut menolak rencana agresif yang diusulkan oleh Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu dan mantan Presiden AS Donald Trump untuk menyingkirkan geraka pejuang Hamas serta mengambil kendali penuh atas Gaza.
Sebaliknya, hasil diskusi lebih menitikberatkan pada pengendalian senjata di lapangan, bukan pelucutan total kekuatan militer Hamas. Langkah ini dinilai sebagai bentuk kemenangan diplomasi dan perlawanan rakyat Palestina di tengah tekanan militer ‘Israel’ di Gaza, Tepi Barat, Suriah, dan Lebanon.
Menurut analisis Dr. Hasan Ayoub dan Dr. Muhannad Mustafa, pakar ilmu politik dari Universitas An-Najah Nasional yang berpusat di Nablus, Tepi Barat ini, dukungan kuat dari negara-negara Arab dan Islam membantah klaim keberhasilan militer penjajah ‘Israel’.
Dukungan regional terhadap perjuangan Palestina, khususnya terhadap pejuang Hamas, tetap solid meski serangan militer terus berlanjut.
Dalam negosiasi di Mesir, Hamas menegaskan bahwa setiap tahap pertukaran tahanan ‘Israel’ harus dikaitkan dengan penarikan penuh pasukan pendudukan dari Gaza, serta jaminan internasional atas penghentian konflik secara permanen.
Dr. Muhannad Mustafa menjelaskan, penjajah ‘Israel’ kini menghadapi krisis legitimasi dan isolasi internasional akibat operasi militer yang dituding telah mencapai tingkat genosida. Ia menilai, keberhasilan taktis di medan perang justru merusak posisi strategis ‘Israel’ di mata komunitas internasional, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa.
Sementara itu, Amerika Serikat disebut mulai mengarahkan jalannya negosiasi ke penyelesaian yang lebih adil, selaras dengan posisi Hamas dan dukungan dari delapan negara Arab dan Islam utama. Negara-negara seperti Turki, Iran, dan beberapa negara Teluk juga menegaskan dukungan terhadap perjuangan Palestina dan menolak dominasi ‘Israel’ di kawasan.
Mike Feifel, mantan penasihat keamanan nasional AS, menuturkan bahwa pemerintahan Trump kini menunjukkan kecenderungan untuk mengakhiri perang melalui tekanan regional, membuat rencana Netanyahu sulit diwujudkan sepenuhnya.
Pembahasan soal pelucutan senjata Hamas disebut telah bergeser menjadi penyisihan senjata sementara, yang membuka peluang bagi keberlanjutan perlawanan rakyat Palestina.
Perkembangan diplomasi dan tekanan internasional ini dinilai membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih berkeadilan bagi Palestina, serta memperkuat posisi politik dan moral bangsa tersebut di forum global.*




