Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Hamas Umumkan Kesepakatan Konprehensif, Warga Israel Patah Hati di Tengah Peringatan Serangan 7 Oktober

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Oktober 2025 11:07 11:07 am
Ahmad
Dipublikasikan 9 Oktober 2025 11:05
Bagikan
Tim diplomasi Hamas di Mesir
Bagikan

Hidayatullah.com—Dalam perkembangan mengejutkan yang mengguncang kawasan Timur Tengah, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) hari Kamis (9/10/2025) mengumumkan telah mencapai kesepakatan komprehensif untuk menghentikan perang di Jalur Gaza, setelah hampir dua tahun konflik berdarah dengan Israel.

Kesepakatan itu dicapai dalam perundingan di Sharm el-Sheikh, Mesir, yang difasilitasi oleh Qatar, Turki, dan Mesir, dengan inisiatif diplomatik dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menyebut bahwa kesepakatan tersebut mencakup penghentian total operasi militer Israel di Gaza, penarikan penuh pasukan pendudukan dari seluruh wilayah, pembukaan koridor bantuan kemanusiaan, serta pertukaran tahanan antara penjajah Israel dan faksi-faksi perlawanan Palestina.

“Kami bernegosiasi dengan tanggung jawab dan keseriusan demi menghentikan perang pemusnahan terhadap rakyat kami,” tulis Hamas dalam pernyataannya yang disiarkan melalui saluran Al-Aqsa TV. “Kami menghargai peran penting saudara-saudara kami di Qatar, Mesir, dan Turki, serta upaya Presiden Trump yang memungkinkan lahirnya kesepakatan ini, ” sebagaimana dikutip Al Jazeera Bahasa Arab.

Pejuamh Hamas mendesak agar para penjamin internasional memastikan penjajah tidak melanggar atau menunda pelaksanaan perjanjian tersebut. Gerakan itu juga menyerukan dukungan luas dari dunia Arab dan Islam untuk menjamin implementasi poin-poin kesepakatan di lapangan.

Baca Juga

Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah
Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional
Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

Beberapa jam setelah pengumuman Hamas, Donald Trump, yang kini kembali aktif di panggung politik internasional, mengonfirmasi melalui platform Truth Social bahwa ‘Israel’ dan Hamas telah menandatangani tahap pertama dari “Rencana Perdamaian Sharm el-Sheikh.”

“Ini hari besar bagi dunia Arab dan Islam, bagi Israel, dan bagi Amerika Serikat,” tulis Trump. “Semua sandera akan segera dibebaskan, dan pasukan Israel akan ditarik ke garis-garis yang telah disepakati menuju perdamaian yang kuat dan langgeng.”

Respon ‘Israel’ dan Perpecahan Politik

Namun di ‘Israel’, kabar gencatan senjata justru disambut dengan campuran antara kelegaan dan kepedihan, bertepatan dengan peringatan dua tahun serangan 7 Oktober 2023, saat pejuang Hamas menembus perbatasan selatan ‘Israel’ dan menewaskan ratusan orang.

Penjajah menggelar upacara peringatan di Yerusalem dengan nuansa resmi dan penuh simbol militer. Namun di luar kompleks kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, ribuan keluarga sandera dan korban berkumpul dalam aksi protes menuntut implementasi segera perjanjian gencatan senjata dan pembebasan seluruh tawanan.

“Kami tidak ingin mendengar pidato kemenangan lagi. Kami ingin anak-anak kami pulang,” teriak salah satu ibu sandera dalam aksi yang dikawal ketat kepolisian.

Ketegangan juga terasa di Tel Aviv, di mana lebih dari 30 ribu warga menghadiri peringatan alternatif di Taman Yarkon. Acara itu dihadiri oleh tokoh oposisi seperti Benny Gantz, yang menuding pemerintahan Netanyahu “telah memutus hubungan dengan masyarakat Israel” dan gagal mempertanggungjawabkan kegagalan militer terbesar dalam sejarah negara itu.

Peringatan di Tengah Luka dan Isolasi

Meski pemerintah berusaha menampilkan citra kemenangan, data resmi Kementerian Pertahanan Israel menunjukkan lebih dari 1.150 tentara penjajah ‘Israel’ tewas sejak awal perang dan lebih dari 20.000 lainnya terluka, separuh di antaranya mengalami gangguan psikologis.

Pernyataan juru bicara militer pada Sabtu malam menegaskan bahwa 48 sandera masih berada di Gaza, bahkan setelah 729 hari pertempuran tanpa hasil yang jelas.

Di berbagai kota Israel, sirene peringatan dan nyala lilin menandai apa yang banyak warga sebut sebagai “hari paling gelap” dalam sejarah negara itu. Namun, di saat yang sama, langit Gaza kembali terang oleh suar-suar militer, menandakan bahwa situasi di lapangan belum sepenuhnya tenang meski pengumuman gencatan senjata telah dilakukan.

Dunia Menyambut, Israel Terpuruk

Kesepakatan gencatan senjata disambut positif oleh banyak negara dan organisasi internasional. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyebutnya “langkah menuju keadilan,” sementara Emir Qatar menegaskan pentingnya “implementasi nyata, bukan sekadar pernyataan politik.”

Di Eropa, Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen menyerukan agar perjanjian itu menjadi “landasan bagi perdamaian dua negara.”

Namun di dalam negeri ‘Israel’, suasana berbanding terbalik. Media-media utama menggambarkan “rasa patah hati nasional” di tengah kesadaran bahwa perang terpanjang dalam sejarah Israel berakhir tanpa kemenangan yang nyata.

Kolumnis Ben Caspit dari Maariv menulis, “Israel memenangkan pertempuran, tapi kehilangan jiwanya. Hamas tidak dihancurkan, dan Netanyahu akan dikenang sebagai perdana menteri yang membawa negara ini ke jurang paling dalam.”

Sementara itu, di Gaza, suara azan menggema di antara reruntuhan, disambut dengan air mata haru. Anak-anak keluar dari tempat perlindungan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.

Bagi mereka, gencatan senjata ini bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan napas pertama setelah dua tahun dalam neraka perang.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Donald Trumpgencatan senjataGerakan Perlawanan IslamHAMASHeadlineisraelJalur Gazakesepakatan komprehensifperjanjian damai
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hamas Sepakati Fase 1 Rencana Gencatan Senjata Usulan Donald Trump
Tulisan selanjutnya Palestina Mengubah Arah Sejarah Dunia Palestina Mengubah Arah Sejarah Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Palestina Terkini

Serangan Baru ‘Israel” Menunjukkan Penjajah Tak Peduli “Dewan Perdamaian”

1 Februari 2026 18:43
Palestina Terkini

Dosen Fakultas Ushuluddin Ungkap Kesaksian Akademik tentang Abu Ubaidah 

3 Januari 2026 19:52
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?