Hidayatullah.com—Meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata, serangan penjajah terhadap Jalur Gaza masih terus berlangsung hingga Kamis malam (9 Oktober 2025). Akibatnya, sejak dini hari Kamis, 29 warga Gaza syahid dan jumlah korban syahid akibat agresi militer Zionis sejak awal genosida kini melebihi 67.000 jiwa.
Menurut laporan dari wartawan Alghad yang berada di medan genosida, tim medis dari Palang Merah Palestina berhasil mengevakuasi tiga jenazah dan satu korban luka dari wilayah yang baru saja dibombardir, kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit Al-Ahli di kota Gaza. Namun, evakuasi ini dilakukan dalam kondisi sangat berbahaya karena serangan udara kembali terjadi saat tim penyelamat beroperasi di lapangan.
Sumber medis menyatakan bahwa dari 29 korban yang syahid sejak pagi itu, sebanyak 15 di antaranya ditemukan di bawah reruntuhan bangunan dan empat lainnya meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita. Kementerian Kesehatan Gaza hingga Kamis malam melaporkan total korban syahid akibat agresi penjajah sejak 7 Oktober 2023 kini mencapai 67.194 orang, dengan 169.890 lainnya terluka. Data terbaru ini mencakup periode 18 Maret hingga 9 Oktober 2025, di mana terdapat tambahan 13.598 korban syahid dan 57.849 korban luka, termasuk lebih dari 2.600 pekerja bantuan kemanusiaan dan hampir 20.000 warga sipil yang menjadi korban.
Sejak awal hari Kamis, wilayah Gaza kembali dihujani serangan udara dan artileri berat oleh ‘Israel’. Situasi ini mengancam kelangsungan kesepakatan gencatan senjata yang diperantarai oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Warga Gaza tengah menanti pelaksanaan fase pertama dari kesepakatan tersebut, yang mencakup pemberian bantuan kemanusiaan, pembebasan tahanan, serta penarikan sebagian pasukan zionis dari wilayah tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan akan melakukan kunjungan ke Timur Tengah pada hari Minggu, setelah negosiasi mengenai kesepakatan gencatan senjata berhasil dicapai. “Pemberian tahanan akan dilakukan pada Senin atau Selasa, dan saya kemungkinan akan hadir di sana,” ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih. Ia menambahkan bahwa ia berencana pergi pada hari Minggu dan menyambut baik kesempatan tersebut.
Zionis dan Hamas telah menandatangani perjanjian pada hari yang sama untuk mengakhiri pertikaian bersenjata, dengan isi kesepakatan yang meliputi pembebasan tahanan dan pengurangan eskalasi genosida. Kesepakatan ini merupakan tahap awal dalam prakarsa perdamaian Trump yang bertujuan mengakhiri perang yang telah berlangsung dua tahun di wilayah Gaza, yang membawa perubahan signifikan dalam peta politik kawasan.
Trump juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Mesir untuk menghadiri upacara penandatanganan resmi perjanjian gencatan senjata itu. Hubungan erat antara Presiden Trump dan Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi menjadi faktor penting dalam upaya diplomasi ini, yang mendapat perhatian internasional luas selama beberapa hari terakhir.*




