Hidayatullah.com—Kamera stasiun televisi Al-Ghad pada Jumat pagi merekam pemandangan yang selama dua tahun terakhir nyaris mustahil terlihat di Jalur Gaza: ratusan keluarga Palestina berjalan pulang menuju Kota Gaza melalui Jalan Al-Rashid , jalur pesisir barat yang kini kembali terbuka setelah perjanjian gencatan senjata resmi diberlakukan.
Laporan dari jurnalis Al-Ghad menyebutkan, arus besar pengungsi yang kembali mulai tampak sejak dini hari. Mobil-mobil dan truk sarat dengan keluarga, anak-anak, serta tumpukan barang rumah tangga memenuhi jalan, sementara sebagian lainnya berjalan kaki menempuh jarak lebih dari delapan kilometer dari wilayah tengah Gaza.
“Banyak dari mereka berjalan di bawah terik matahari, membawa sedikit barang yang tersisa. Tapi wajah mereka penuh tekad—mereka ingin pulang, ingin hidup lagi,” lapor koresponden Al-Ghad dari lokasi.
Tanda Fase Baru Setelah Dua Tahun Perang
Kembalinya warga ini menjadi sinyal kuat dimulainya fase baru di Gaza , menyusul mulainya pelaksanaan perjanjian gencatan senjata yang disepakati antara ‘Israel’ dan faksi-faksi perlawanan Palestina , termasuk Hamas.
Menurut pernyataan resmi militer penjajah ‘Israel’, gencatan senjata mulai berlaku Jumat pukul 12.00 siang waktu setempat . Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa pasukan ‘Israel’ telah “menempatkan diri pada garis operasi baru” sesuai ketentuan perjanjian, yang juga mencakup pertukaran tahanan dan penarikan pasukan bertahap .
Sumber-sumber penjajah mengonfirmasi bahwa pemerintah Netanyahu menyetujui perjanjian tersebut secara resmi pada Jumat dini hari , dalam pertemuan tertutup yang juga dihadiri oleh dua penasihat utama Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff .
Isi Kesepakatan
Menurut laporan Kanal 12 ‘Israel’, tahap pertama kesepakatan ini mencakup:
- Pembebasan 20 tawanan ‘Israel’ yang masih hidup,
- Pemulangan jenazah tawanan yang telah gugur,
- Pembebasan 2.000 tahanan Palestina , dan
- Penerapan mekanisme 72 jam untuk implementasi penuh tanpa upacara seremonial.
Di Gaza, banyak yang menyambut kesepakatan ini sebagai kemenangan moral atas penderitaan panjang dan agresi militer yang telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina serta melukai hampir 170.000 orang lainnya , kebanyakan di antaranya perempuan dan anak-anak.
Tanpa Hambatan dari Pasukan ‘Israel’
Koresponden Al-Ghad melaporkan bahwa arus balik warga berlangsung tanpa gangguan dari pasukan ‘Israel’, sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan selama masa perang.
Tidak ada tembakan dari kapal perang atau tank di sepanjang pantai barat, dan jalan pesisir Al-Rashid —yang dahulu menjadi jalur evakuasi di bawah serangan udara—kini berubah menjadi jalur kepulangan .
Namun, militer penjajah ‘Israel’ tetap mengeluarkan peringatan keras agar warga tidak mendekati area militer yang masih aktif , terutama di wilayah Beit Hanoun, Beit Lahiya, dan Shuja’iya di utara, serta Khan Younis dan Rafah di selatan. Aktivitas perikanan, berenang, dan menyelam di sepanjang pantai Gaza juga disebut masih “berbahaya”.
Langit Gaza Tanpa Bom
Bagi banyak keluarga Gaza, Jumat ini menjadi hari pertama mereka menatap langit tanpa suara jet tempur . Anak-anak terlihat berlarian di antara reruntuhan rumah, sementara para ibu menggelar alas dan mengeluarkan roti pita dari kantong plastik—simbol sederhana dari kehidupan yang perlahan kembali.
“Kami tidak punya apa-apa lagi selain keyakinan bahwa kami akan membangun kembali, ” kata Um Ahmad, seorang ibu dari Shuja’iya, kepada kamera Al-Ghad sambil memeluk dua anaknya.
“Kami tidak takut lagi. Kami hanya ingin pulang. ”
Harapan Baru di Tengah Puing
Meski ancaman dan blokade masih membayangi, kembalinya warga Gaza melalui Jalan Al-Rashid menjadi simbol kuat bahwa kehidupan tidak bisa dihancurkan oleh perang.
Para analis menyebut pemandangan itu sebagai awal dari babak rekonstruksi dan kebangkitan , sekaligus bukti bahwa rakyat Palestina tetap bertahan meski menghadapi kehancuran total .
“Mereka mencoba memadamkan Gaza dengan api dan kelaparan, tapi Gaza selalu menyala kembali—dengan kehidupan, dengan harapan, dan dengan kehormatan,” seperti dikatakan oleh salah satu pejabat lokal Gaza.*




