Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Layar yang Retak di Bulan Santri

Ada luka yang tak berdarah, tapi terasa dalam: luka di layar televisi, yang menggores perasaan orang-orang yang hidup dengan adab.

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Oktober 2025 04:53 4:53 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Oktober 2025 22:39
Bagikan
Bagikan

oleh: Ady Amar, Kolumnis

Hidayatullah.com – MENJELANG Hari Santri Nasional, ketika bangsa mestinya menunduk hormat pada para penjaga ilmu, Trans7 justru menayangkan program yang memicu gelombang marah. Tayangan itu menggambarkan kehidupan pesantren dengan nada yang dianggap sinis dan merendahkan.

Nama besar Pondok Pesantren Lirboyo ikut terseret, juga sosok sepuh KH Anwar Manshur — ulama yang sederhana dan tulus mengajar hingga usia senja.

Di bulan yang seharusnya menjadi perayaan keteladanan, luka justru muncul dari layar kaca.

Di media sosial, seruan boikot dan kecaman bergema. Ada yang menangis karena sedih, ada yang menulis dengan getir, ada pula yang menuntut tanggung jawab moral dari stasiun televisi.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Semuanya lahir dari cinta: cinta pada guru, pada pesantren, pada kehormatan yang dijaga turun-temurun.

Namun di sisi lain, dunia media berdiri dengan argumen kebebasan pers. Bahwa jurnalisme tak boleh dibungkam oleh sentimen.

Di titik inilah dua nilai besar beradu — adab dan kebebasan, kehormatan dan kritik. Dan bangsa ini berdiri di antara keduanya, di persimpangan antara rasa hormat dan hak berekspresi.

Media sejatinya bukan hanya cermin yang memantulkan kenyataan, tapi juga tangan yang membentuknya. Satu kalimat bisa menjadi lentera, tapi bisa pula menjadi luka.

Dalam masyarakat yang tumbuh dari tradisi sopan santun, cara berbicara sering kali lebih bermakna dari isi pembicaraan.
Kata yang benar pun bisa menjadi pisau bila diucapkan dengan nada yang salah.

Pesantren bukan ruang glamor yang perlu disorot dengan eksotika. Ia rumah bagi nilai: kesederhanaan, ketulusan, dan penghormatan. Di sana, kiai bukan bintang televisi, melainkan mata air kebijaksanaan.

Maka, ketika sorotan kamera menampilkan sebaliknya — seolah ada kemewahan, seolah ada kepura-puraan — yang tersinggung bukan sekadar individu, tapi seluruh ekosistem moral yang menjaga keseimbangan batin bangsa.

Namun, marah karena cinta tetaplah marah. Dan bila cinta tidak dijaga oleh kebijaksanaan, ia bisa berubah menjadi api yang membakar semuanya.

Barangkali inilah ujian sejati di bulan santri: mampukah kita menenangkan amarah dengan kebeningan hati? Kemarahan publik adalah tanda cinta, tapi cinta yang tak disertai hikmah bisa kehilangan arah.

Media perlu belajar kembali makna empati. Kebebasan tidak berarti bebas dari tanggung jawab moral. Setiap tayangan yang lahir di negeri religius seperti Indonesia harus peka terhadap nilai dan perasaan umat.

Sementara dunia pesantren pun perlu terbuka, agar kritik yang jernih tak selalu terbaca sebagai penghinaan.

Sesungguhnya, kebebasan pers dan marwah pesantren tidak saling meniadakan. Keduanya justru dua tiang yang menopang rumah yang sama: rumah kebangsaan.

Media menjaga nalar publik, pesantren menjaga nurani bangsa. Bila keduanya saling menghormati, Indonesia akan berdiri di atas keseimbangan yang kokoh.

Permintaan maaf mungkin menjadi awal, tapi tidak cukup. Yang lebih penting adalah keberanian untuk memperbaiki.

Jika Trans7 berkenan menayangkan ulang kisah pesantren dengan riset, empati, dan penghormatan, luka ini bisa sembuh.

Dan bagi para santri, inilah waktu terbaik untuk menunjukkan kelas spiritualnya: menjawab hujatan dengan ketenangan, menegakkan kehormatan tanpa kehilangan adab.

Marwah pesantren tidak akan runtuh hanya karena satu tayangan. Ia telah berdiri berabad-abad di atas doa dan kesetiaan.

KH Anwar Manshur mungkin tak menonton tayangan itu. Tapi beliau “ditonton” setiap hari oleh murid-muridnya — lewat tutur lembut, lewat sabar yang panjang.

Barangkali, jika beliau bicara, kalimatnya hanya satu: “Biar mereka belajar tentang adab, seperti kita belajar tentang sabar.”

Media mungkin menguasai layar, tapi pesantren menguasai hati. Dan yang menguasai hati, tak akan kalah oleh gaduh dunia.

Maka di bulan santri ini, biarlah kita menatap layar yang retak itu bukan dengan amarah, melainkan dengan kebijaksanaan. Sebab retak tak selalu berarti hancur — kadang ia justru menjadi celah bagi cahaya untuk masuk.

Dan dari cahaya itulah, semoga lahir bangsa yang lebih matang: yang tahu cara menghormati, tahu cara berbicara, dan tahu kapan harus diam untuk menjaga martabat.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Studi: Remaja dengan Gangguan Mental Gunakan Media Sosial secara Berbeda
Tulisan selanjutnya Ketua PBNU Yahya Cholil Tsaquf PBNU Sebut Tayangan Trans7 Penghinaan terhadap Pesantren dan Kiai

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Syeikh Jarrah palestina
Berita

Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Berita
3 September 2026 19:12
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?