Hidayatullah.com – Kehadiran bulan suci Ramadhan di Tengah-tengah umat Islam selalu membawa pesan-pesan spiritual yang tidak pernah kering maknanya. Ibadah tahunan ini, tak sekadar menanamkan kesadaran disiplin menahan diri dari lapar, haus dan hubungan suami istri ‒dari sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari‒, tapi juga sebagai madrasah agung yang menempa hamba Allah mengaktualisasikan pengendalian diri yang lebih mendasar melampaui urusan fisik.
Pada bulan ini, jiwa hamba seakan diundang untuk terbang lebih tinggi, melepaskan sejenak ikatan-ikatan materi dan duniawi yang sering kali membelenggu hati serta pikiran sehari-hari. Kalau di luar Ramadhan kebanyakan orang lebih sibuk dengan urusan duniawi, maka inilah saatnya mengembalikan titik keseimbangan manusia agar mencapai titik jernih spiritualnya: menjadi hamba-Nya yang konsisten bertakwa selama hidup di dunia.
Inilah yang ditegaskan oleh Abu Bakar Asy-Syibli ‒seorang sufi besar yang pernah menjabat sebagai pejabat Abbasiyah, lalu meninggalkan jabatan demi mengabdikan diri pada ibadah hingga masyhur dalam kesalehan dan syairnya‒ ketika ditanya pendapatnya mengenai orang yang semangat ibadah dan amal salehnya hanya di bulan Ramadhan saja, beliau menandaskan: “Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak mengenal hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang yang saleh adalah yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathāʾif al-Maʿārif fīmā limawāsim al-ʿām min al-waẓāʾif, 390). Sebuah pesan yang langsung menusuk jantung kesadaran hamba: kesalehan itu sepanjang tahun bukan musiman.
Hanya saja, pada kenyataannya, masih sering dijumpai fenomena sebaliknya. Bulan puasa malah menjelma menjadi bulan “perayaan kuliner” yang melampau batas wajar. Meja makan saat berbuka puasa sering kali dipenuhi dengan berbagai hidangan yang jauh melebihi porsi makan di hari-hari biasa. Ibadah ini seakan jadi ajang balas dendam, membuat esensi puasa sebagai latihan menahan hawa nafsu perlahan tergerus oleh godaan duniawi. Maka tidak mengherankan jika melahirkan budaya konsumtif.
Oleh karena itu, untuk mengembalikan ruh Ramadhan di dalam jiwa umat Islam, penulis mengajak pembaca menelaah catatan emas sejarah umat Islam dan meneladani para ulama terdahulu (salafus shalih). Di antara sosok luar biasa yang sangat layak dijadikan cermin refleksi adalah Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi. Dalam kitab Ibn Abi Hatim “al-Jarḥ wa al-Taʿdīl” (VIII/33) diungkapkan bahwa beliau adalah seorang perawi yang dikenal dengan kezuhudan luar biasa .
Dari beliau banyak sekali yang bisa diambil pelajarannya, di antara yang terkait dengan bulan Ramadhan. Al-Hafizh Ibnu Jauzi dalam kitab “Shifatu ash-Shafwah” (II/449) menyampaikan data menarik terkait beliau. Ketangguhan spiritualnya sungguh berada jauh di atas rata-rata manusia pada umumnya. Ulama besar Abu Zur’ah pernah memberikan kesaksian yang mengagumkan tentang beliau. Abu Zur’ah menceritakan bahwa pernah berlalu delapan belas hari lamanya al-Ghazzi tidak merasakan makanan maupun minuman sedikit pun. Atas kedalaman spiritual dan ketakwaannya ini, Abu Zur’ah bahkan memujinya dengan mengatakan, “Aku tidak pernah melihat di Mesir orang yang lebih saleh daripadanya.”
Lebih dari itu, kedahsyatan spiritual al-Ghazzi ini terlihat sangat jelas ketika bulan Ramadhan tiba. Ibrahim bin Abi Ayyub meriwayatkan sebuah kebiasaan beliau yang amat menakjubkan: selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi hanya makan sebanyak dua kali saja. Beliau berbuka dan menyantap hidangan hanya sekali dalam kurun waktu lima belas hari, dan yang paling mengherankan, hal tersebut beliau lakukan tanpa merasa tersiksa atau memaksakan diri.
Sebagai catatan, penting untuk dipahami terlebih dahulu secara rasional bahwa praktik ekstrem ini bukanlah sebuah syariat untuk ditiru secara harfiah orang awam. Ini karena tubuh fisik kita memiliki hak untuk dipenuhi nutrisinya sebagaimana sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kemampuan luar biasa al-Ghazzi adalah bentuk karomah dan capaian maqam spiritual khusus yang Allah anugerahkan berkat kebersihan hatinya. Akan tetapi, hikmah utama yang harus kita ambil bukanlah meniru porsi makannya yang hanya dua kali sebulan, melainkan meneladani betapa kuatnya beliau mampu menundukkan hawa nafsunya demi meraih kedekatan dengan Allah SWT.
Di antara pelajaran terbesar dari kisah Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi bagi kita di zaman digital ini adalah tentang kesanggupan untuk mengendalikan syahwat perut. Jika beliau mampu bertahan dengan sedikit makanan tanpa keluh kesah demi fokus beribadah, sungguh menjadi teguran keras bagi kita jika masih menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan dan menyiapkan menu berbuka. Sejatinya orang berpuasa kesibukannya bukan lagi masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, tapi sudah meningkat ke pemberian nutrisi ruhani.
Untuk mewujudkannya, bisa dimulai dengan menyederhanakan hidangan, tidak makan berlebihan hingga kekenyangan yang membuat tubuh malas shalat Tarawih, dan mengalihkan energi kita untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Imam Al-Ghazali sejak berabad-abad silam telah mengingatkan bahaya kenyang, “Sesungguhnya rasa kenyang itu memperkuat syahwat, dan syahwat adalah senjata-senjata setan.” (Al-Ghazali, Ihyā ‘Ulūmiddīn, III/33).
Dalam kitab “Mawārid azh-Zham’ān” (IV/178) karya Abdul Aziz Salman dikatakan, “Sesungguhnya sumber munculnya segala bentuk kemaksiatan adalah syahwat dan kekuatan (tenaga berlebih), dan bahan bakar dari syahwat serta kekuatan itu tidak lain dan tidak bukan adalah makanan. Maka, menyedikitkannya (tidak sampai kenyang) akan melemahkan setiap syahwat dan kekuatan tersebut.”
Oleh karena itu, mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum kebangkitan spiritual kita yang sesungguhnya. Kisah ketabahan dan kezuhudan Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi bisa dijadikan sebagai cambuk penyemangat saat rasa malas mulai melanda di pertengahan bulan. Di bulan suci ini, kita terus berjuang membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu, dan keluar dari madrasah Ramadhan ini dengan predikat takwa yang sebenar-benarnya dan meraih ampunan-Nya. Meminjam kata-kata Qatadah sebagai penutup tulisan, “Jika tidak mendapat ampunan pada bulan Ramadhan, maka kapan lagi akan diampuni?” (Ibnu Rajab, Lathāʾif al-Maʿārif , 379). (MBS)




