Hiadayatullah.com – Ramadhan bagi para pencinta sejati merupakan arena perlombaan menuju puncak spiritualitas. Di jantung bulan mulia ini, terselip satu permata yang dikejar oleh umat Islam: Lailatul Qadar. Akan tetapi, kemuliaan tersebut tidak diberikan cuma-cuma, melainkan menuntut proses memantaskan diri yang melibatkan estetika lahiriah, kesungguhan raga, dan ketulusan batin.
Langkah awal dimulai dari hati. Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam “Lathā’ifu al-Ma’ārif” (1999: 348) mengisyaratkan bahwa karunia agung ini hanya akan menemui jiwa yang haus dan fokus kepada Allah. Memantaskan batin berarti membangun tekad kuat dan rasa butuh mendalam kepada Allah.
Beliau mengingatkan: “Orang yang beriiktikaf telah menahan dirinya untuk taat kepada Allah dan mengingat-Nya, memutuskan segala hal yang dapat menyibukkannya dari Allah, dan menghadapkan hati serta raganya hanya kepada Rabb-nya dan apa yang mendekatkannya kepada-Nya. Maka tiada lagi baginya perhatian selain Allah dan apa yang diridai-Nya.”
Dengan sangat indah, sosok Dawud ath-Tha’i mengutarakan suasana batin seperti ini:
هَمُّكَ عَطَّلَ عَلَيَّ الهُمُومَ، وَحَالَفَ بَيْنِي وَبَيْنَ السُّهَادِ، وَشِدَّةُ الشَّفَقِ مِنْ لِقَائِكَ أَوْبَقَ.
“Perhatian hatiku kepada-Mu (Allah) telah memadamkan segala kegelisahan lain. Ia menjadikan aku bersahabat dengan begadang, dan kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan-Mu hampir melumpuhkan diriku.” (Ibnu Qutaibah, ‘Uyūn al-Akhbār, II/315)
Inilah persiapan esensial: menjadikan keridaan Tuhan sebagai satu-satunya kekhawatiran terbesar. Ketika seseorang takut kehilangan momentum ampunan, raga akan dengan sendirinya menjadi ringan untuk bersujud.
Selanjutnya, cahaya malam kemuliaan tak akan sudi masuk ke bejana hati yang kotor. Para pendahulu dari kalangan salaf saleh sangat menekankan detoksifikasi jiwa dari noda maksiat. Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa dosa adalah beban yang memberatkan langkah untuk bangun malam. Beliau mengutip pengakuan Iblis:
سَوَّلْتُ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ المعَاصِي، فَقَطَعُوا ظَهْرِي بِالاسْتِغْفَارِ
“Aku goda umat Muhammad dengan maksiat, namun mereka mematahkan punggungku melalui istighfar.” (Hannad bin as-Sarry, az-Zuhd, II/463)
Sebelum mengenakan busana terbaik, seorang hamba harus menanggalkan pakaian kesombongan, hasad, dan dendam serta penyakit hati lainnya. Jika batin masih menyimpan noktah hitam, ibadah akan terasa hambar. Pengakuan akan kehinaan diri adalah pintu masuk utama; sebagaimana kaum salaf yang selalu merasa sebagai pendosa meski telah terjaga sepanjang malam.
Setelah tertata, kemuliaan jiwa harus terpancar lewat penghormatan fisik. Ulama seperti Tamim ad-Dari memiliki kain sutra seharga seribu dirham yang hanya dikenakan pada malam-malam ganjil (Ismail al-Ishfahani, at-Targhīb wa at-Tarhīb, III/190). Begitu pula Anas bin Malik dan Ayyub as-Sikhtiyani yang mandi, memakai parfum, serta baju baru untuk menghidupkan malam-malam sepuluh hari Ramadhan (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 346).
Mereka memahami bahwa memantaskan diri berarti memberikan yang terbaik. Jika kita berdandan rapi untuk menemui pejabat, bukankah Rabb semesta alam jauh lebih berhak atas keindahan hamba-Nya? Estetika ini bukanlah untuk kesombongan, melainkan bentuk ta’zhim (pengagungan) saat bermunajat kepada Allah di waktu paling intim.
Selain itu, Rasulullah memberikan prototipe tentang grafik pengabdian yang terus menanjak. Aisyah RA menggambarkan totalitas tersebut: “Jika masuk sepuluh malam terakhir, Nabi mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarga.” (HR. Bukhari). Frasa mengencangkan ikat pinggang bukan sekadar kiasan fisik, tapi kesiapan batin memutus distraksi duniawi (iktikaf) menuju interaksi total dengan Khaliq.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesalahan umum yang menganggap perjuangan hanya terjadi saat gelap menyelimuti bumi. Padahal, batin yang terjaga di malam hari adalah hasil dari kewaspadaan di siang hari. Imam asy-Syafi’i berpesan:
أَسْتَحِبُّ أَنْ يَكُونَ اجْتِهَادُهُ فِي يَوْمِهَا كَاجْتِهَادِهِ فِي لَيْلَتِهَا.
“Aku menyukai (menganjurkan) agar kesungguhan (ibadah) seseorang di siang harinya (Jumat) sama seperti kesungguhannya di malam harinya.” (Imam Nawawi, al-Adzkār, 332)
Pernyataan ini diperkuat oleh Asy-Sya’bi yang menyatakan kemuliaan keduanya setara (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 368). Menjaga mata, lisan, dan pikiran dari hal sia-sia saat matahari bersinar adalah cara terbaik mengundang hidayah saat rembulan bertahta.
Puncak dari segala upaya adalah saat lidah melafalkan doa yang diajarkan Nabi:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai sikap memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi). Lantas, mengapa memohon maaf menjadi inti Lailatul Qadar? Yahya bin Mu’adz menjelaskan:
لَيْسَ بِعَارِفٍ مَنْ لَمْ يَكُنْ غَايَةُ أَمَلِهِ مِنَ اللهِ العَفْوَ
“Bukanlah orang yang mengenal Allah jika puncak harapannya bukan berupa ampunan.” (Ibnu Jauzi, Shifatu ash-Shafwah, II/293). Hamba yang matang batinnya menyadari bahwa kebutuhan primer mereka adalah pemutihan catatan amal. Sebagaimana nasihat indah dalam bait syair Ibnu Rajab:
يَا كَبِيرَ الذَّنْبِ، عَفْوُ اللهِ مِنْ ذَنْبِكَ أَكْبَرُ
أَكْبَرُ الأَوْزَارِ فِي جَنْبِ عَفْوِ اللهِ يَصْغُرُ
“Wahai orang yang memiliki dosa besar, ampunan Allah lebih besar daripada dosamu. Sebesar apa pun beban dosa, jika dibandingkan dengan ampunan Allah, ia akan menjadi kecil.” (Lathā’ifu al-Ma’ārif, 370). Memantaskan diri adalah datang dengan tangan kosong dan rasa fakir di hadapan Tuhan untuk memohon ampunan dan maaf-Nya.
Di sisi lain, pendorong batin paling kuat –untuk memantaskan diri mendapatkan Lailatul Qadar– adalah kesadaran akan singkatnya waktu. Istri Habib Abu Muhammad sering membangunkan suaminya dengan kalimat menyayat:
قَدْ ذَهَبَ اللَّيْلُ وَبَيْنَ أَيْدِينَا طَرِيقٌ بَعِيدٌ وَزَادُنَا قَلِيلٌ
“Malam telah berlalu, sementara di depan kita ada perjalanan panjang sedangkan bekal kita sedikit”. Ketika seseorang merasa ini mungkin menjadi Ramadhan pamungkasnya, proses transformasi akan terjadi secara dahsyat. Ia tidak akan membiarkan satu detik pun berlalu tanpa dzikir.
Terakhir, kemenangan umat Islam di Badar Kubra pada bulan Ramadhan menjadi bukti inspirasi kekuatan spiritual untuk menggapai kesuksesan dalam meraih Lailatul Qadar. Kita kini seakan sedang berada dalam Perang Badar pribadi melawan kantuk dan tarikan duniawi. Siapa yang berhasil menaklukkan batin sendiri, dialah yang layak mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Semuanya –atas izin Allah– bermula dari usaha sungguh-sungguh memantaskan diri meraih malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Sudahkah kita pantas mendapatkan Lailatul Qadar? (MBS)




