Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu

Mahmud
Terakhir diupdate: 17 Maret 2026 17:11 5:11 pm
Mahmud
Dipublikasikan 17 Maret 2026 18:00
Bagikan
Bagikan

Ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah amanah besar yang dititipkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Sebagai amanah, puasa menuntut kejujuran spiritual karena hanya Allah dan orang yang berpuasa yang mengetahui apakah ia benar-benar menjaga puasanya atau tidak.

Hidayatullah.com | SUATU ketika, ada seorang lelaki menitipkan sebuah botol minyak wangi zanbaq kepada seorang imam. Namun ketika ia meminta kembali titipannya, sang imam mengingkari dan tidak mau mengakuinya.

Kebetulan imam itu menjadi pemimpin shalat tarawih sepanjang bulan Ramadhan. Suatu malam, saat membaca Al-Qur’an, ia berulang kali melafalkan ayat:

قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ

“Mereka berkata, dan menghadapkan diri kepada mereka: Apa yang kalian kehilangan?” (QS. Yūsuf [12]: 71)

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan
Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana

Entah lupa atau mau menyindir, ayat itu diulang-ulang terus, sampai suasana jadi janggal. Hingga akhirnya, lelaki yang menitipkan barang itu tak tahan lagi, dan di tengah jamaah ia langsung menjawab lantang:

“Botol minyak zanbaq!” (al-Ḥusharī al-Qayrawānī, Jam‘u al-Jawāhir fī al-Malah wa al-Nawādir, 47).

Sekejap suasana tarawih pun pecah. Sang imam yang tadinya tenang membaca ayat, langsung “mati kutu” karena terbongkar di depan jamaah.

*****

Amanah dalam Islam merupakan terminologi komprehensif yang mencakup segala bentuk hak, baik hak Allah maupun hak sesama hamba. Di bulan Ramadhan, esensi amanah ini menjadi kian berlipat ganda karena seorang yang berpuasa sejatinya sedang merepresentasikan nilai-nilai luhur agamanya. Ini sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,” (QS. An-Nisa [4]: 58). Ayat ini menegaskan bahwa amanah bukan sekadar pilihan moral, melainkan perintah ketuhanan yang wajib ditegakkan dalam kondisi apa pun, termasuk saat sedang memimpin ibadah.

Dalam konteks praktis, penunaian amanah tidak terbatas pada mengembalikan titipan harta atau barang semata, melainkan mencakup amanah terhadap waktu dan tenaga. Seorang Muslim yang sedang berpuasa namun mencuri waktu kerja untuk sekadar bersantai, atau menunda-nunda urusan masyarakat dengan alasan lemas karena lapar, sejatinya telah mencederai amanah puasanya.

Padahal, integritas profesional adalah bentuk ibadah badaniyah yang seharusnya menyempurnakan ibadah ruhaniyah (puasa). Jika keduanya menyatu dalam diri seorang hamba, ia layak menyandang gelar al-qawiyy al-amīn (sosok yang kuat lagi tepercaya) sebagaimana kriteria pemimpin dalam Al-Qur’an.

Ketidakjujuran sang imam dalam kisah di atas memberikan pelajaran pahit bahwa kesalehan ritual (memimpin tarawih dan menghafal ayat) tidak otomatis mencerminkan kesalehan sosial. Amanah adalah ujian karakter yang paling nyata. Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab RA yang sangat masyhur:

لَا تَنْظُرُوا إِلَى صَوْمِ امْرِئٍ وَلَا إِلَى صَلَاتِهِ، وَلَكِنِ ‌انْظُرُوا ‌إِلَى ‌مَنْ ‌إِذَا ‌حَدَّثَ ‌صَدَقَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ أَدَّى، وَإِذَا أَشْفَى وَرِعَ

“Janganlah kalian melihat (menilai) seseorang dari puasanya dan jangan pula dari shalatnya. Tetapi lihatlah kepada orang yang apabila berbicara ia jujur, apabila diberi amanah ia menunaikannya, dan apabila hampir tergelincir ia berhati-hati (menjaga diri dengan wara’).” (Ibnu Wahab, al-Jāmi’, 623).  Pesan ini mengingatkan kita bahwa kehormatan di mata Allah diukur dari bagaimana kita memperlakukan hak orang lain.

Lebih dari itu, Ramadhan sebagai bulan puasa mengandung nilai amanah. Orang yang berpuasa seharusnya semakin menegakkan nilai amanah. Terkait hal ini terdapat riwayat:

إِنَّمَا ‌الصَّوْمُ ‌أَمَانَةٌ، فَلْيَحْفَظْ أَحَدُكُمْ أَمَانَتَهُ

“Sesungguhnya puasa itu adalah sebuah amanah, maka hendaklah setiap orang di antara kalian menjaga amanahnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Kharaiti dalam kitab Makarimul Akhlaq dari jalur Ibnu Mas’ud dengan sanad yang dinilai Hasan oleh Al-Iraqi.

Riwayat ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah amanah besar yang dititipkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Sebagai amanah, puasa menuntut kejujuran spiritual karena hanya Allah dan orang yang berpuasa yang mengetahui apakah ia benar-benar menjaga puasanya atau tidak.

Oleh karena itu, menjaga amanah dalam puasa berarti menjaga seluruh anggota tubuh ‒terutama lisan dan hati‒ dari hal-hal yang dapat merusak esensi serta pahala ibadah tersebut di hadapan Allah.

Penekanan pada kalimat “hendaklah kalian menjaga amanahnya” berfungsi sebagai peringatan agar seorang mukmin tidak bersikap lalai atau berkhianat terhadap kewajiban agamanya. Dengan menjaga amanah puasa, seseorang melatih integritas dirinya agar tetap istiqamah dalam kejujuran dan tanggung jawab, baik dalam urusan ibadah ritual maupun dalam interaksi sosial sehari-hari.

Dalam kehidupan sosial kontemporer, penerapan amanah ini sering kali diuji dalam bentuk tanggung jawab profesi. Sering kali ditemukan oknum yang menggunakan dalih “sedang puasa” untuk bekerja setengah hati, padahal setiap detik gaji yang diterima adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Dari kisah imam yang “mati kutu” tersebut adalah pengingat bahwa Allah bisa membongkar pengkhianatan melalui ayat-Nya sendiri. Ramadhan hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki integritas. Jangan sampai kita fasih melantunkan firman Tuhan di dalam masjid, namun menjadi orang yang paling ingkar saat di luar masjid.

Puncak dari kesempurnaan iman seseorang adalah ketika ia mampu menjaga titipan ‒baik itu berupa botol minyak wangi, waktu kerja, maupun rahasia sesama‒ dengan penuh rasa takut kepada Allah SWT. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amanahbulan puasaKisah JenakaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Peresmian Kampung Inspirasi di Aceh Tamiang Jadi Tonggak Pemulihan Pascabencana
Tulisan selanjutnya Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal

Berita
9 Juli 2026 18:04
Polemik Kajian BEM Psikologi UI Soal LGBT Berlanjut, Kampus Beri Klarifikasi
Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

Terbaru

  • Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida
  • Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
  • Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
  • MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
  • MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
  • BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
  • Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
  • Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
  • Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM
  • Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaInspirasi Ramadhan

Dapur Ramadhan Hammad: 500 Ifthar Harian Plus 50.000 Dirham Lebaran

15 Maret 2026 17:00
Ramadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 8 : Saat Hitungan Sebulan Ramadhan Jadi 120 Hari

15 Maret 2026 11:30
KajianRamadhan

Selain yang Iktikaf, Siapa Saja yang Berpeluang Mendapat Lailatul Qadar?

15 Maret 2026 05:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa

14 Maret 2026 16:15
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?