Momentum kebahagiaan di hari raya Idul Fitri bisa mengharmonikan hubungan antara rakyat dan penguasa. Melalui jamuan lebaran, pemberian hadiah dan komunikasi jenaka, kerharmonisan keduanya kian terjaga.
Hidayatullah.com | SUATU ketika, pada momentum hari raya, Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi −seorang penguasa yang dikenal otoriter dan kejam− sedang menyiapkan jamuan makan untuk para tamunya. Kali ini ia ingin menghadirkan suasana berbeda: penjamuan dibuat dengan kondisi terkesan serius tapi jenaka.
Di antara para hadirin, yang menjadi pusat perhatian Al-Hajjaj adalah seorang pria Arab badui. Menjelang sajian dipersilakan untuk dinikmati, ia dengan tegas tapi dengan maksud bercanda berkata kepada para tamu, “Siapa pun yang makan dari makanan ini, maka akan aku penggal lehernya!”
Mendengar itu, si pria Badui terdiam. Ia memandang ke arah Al-Hajjaj sesekali, lalu beralih menatap makanan yang lezat itu berkali-kali. Ia berada di antara rasa takut akan pedang dan rasa lapar yang mendesak.
Namun, dengan kecerdikan yang luar biasa, ia justru menoleh kepada Al-Hajjaj dan berkata: “Kalau begitu, aku titipkan anak-anakku kepadamu agar engkau perlakukan mereka dengan baik (sebagai wasiat jika aku mati).”
Tanpa ragu, pria itu pun tetap lanjut makan dengan lahap. Melihat keberanian dan jawaban cerdas yang dibalut kepolosan tersebut, Al-Hajjaj pun tertawa terbahak-bahak. Kegarangannya luluh oleh humor si Badui. Akhirnya, Al-Hajjaj memerintahkan agar pria tersebut diberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi. (Muhammad Khalifah, Ajmalu ath-Tharā’if wa al-Ibtisāmāt, 2008: 48)
*****
Kisah jenaka tentang Al-Hajjaj dan si Badui pada momentum hari raya menyimpan beberapa kandungan hikmah yang bisa kita tarik untuk kehidupan sehari-hari dalam nuansa hari raya.
Pertama, hari raya adalah momen kegembiraan. Bahkan seorang penguasa yang dikenal keras seperti Al-Hajjaj pun bisa luluh oleh humor dan kepolosan rakyat kecil. Ini menunjukkan bahwa suasana Idul Fitri memang seharusnya dipenuhi dengan tawa, kehangatan, dan kebersamaan.
Kegembiraan ini tentu tidak lepas dari pesan Allah dalam Al-Qur’an:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58) Di antara makna karunia dan rahmat dalam beberapa tafsir Al-Ma’tsur adalah tidak lepas dari Al-Qur’an, Islam dan taufiq dari Allah.
Kegembiraan Idul Fitri tidak bisa dilepaskan dari nikmat Al-Qur’an dan Islam yang menyuruh umatnya bergembira dengan koridor yang jelas dan jauh dari hal berlebihan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dan amal saleh laiinya, maka hari raya merupakan momentum untuk menyalurkan kegembiraan dengan cara yang halal dan tidak berlebihan.
Kedua, kecerdikan dan keberanian adalah kunci menghadapi tekanan. Si Badui tidak larut dalam rasa takut, tetapi dengan tenang dan cerdas ia mengalihkan ancaman menjadi bahan candaan. Sikap ini selaras dengan sabda Nabi SAW:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, melainkan orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ath-Thibi dalam “Syarh al-Misykaat” (X/3243) menjelaskan makna hadits ini: “Sesungguhnya jika seseorang mampu menguasai dirinya, maka ia telah menundukkan musuh terkuat dan lawan terburuknya! Oleh karena itu dikatakan: ‘Musuh terbesarmu adalah nafsumu yang berada di antara kedua sisi tubuhmu.’” Penjelasan ini menegaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menundukkan hawa nafsu yang ada dalam diri.
Konteks hikmah ini sangat indah bila dikaitkan dengan suasana Hari Raya. Setelah sebulan berpuasa, umat Islam dilatih untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan menyalurkan energi pada kebaikan. Kisah si Badui yang berani menghadapi ancaman Al-Hajjaj dengan kecerdikan dan ketenangan adalah gambaran nyata dari orang yang mampu menguasai dirinya.
Ketiga, humor yang sehat bisa mencairkan suasana. Al-Hajjaj yang biasanya ditakuti, justru tertawa terbahak-bahak. Ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam interaksi sosial, senyum dan canda yang tepat bisa meruntuhkan sekat antara penguasa dan rakyat, antara yang kuat dan yang lemah.
Keempat, hari raya adalah saat berbagi hadiah dan kebaikan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj memberikan hadiah kepada si Badui. Hal ini sejalan dengan semangat Idul Fitri: berbagi rezeki, memuliakan tamu, dan menebarkan kasih sayang.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima, Hari Raya adalah momentum memperkuat kasih sayang keluarga. Ucapan si Badui yang menitipkan anak-anaknya kepada Al-Hajjaj jika ia mati menunjukkan betapa besar perhatian seorang ayah terhadap keluarganya, bahkan dalam situasi genting sekalipun. Ia tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga masa depan anak-anaknya. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. At-Tahrim: 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Ayat ini mengandung pesan penting bahwa tanggung jawab keluarga adalah prioritas utama. Hari Raya menjadi saat yang tepat untuk meneguhkan kasih sayang, memperhatikan kebutuhan anak-anak, dan memastikan mereka merasakan kebahagiaan. Idul Fitri bukan hanya tentang jamuan dan hadiah, tetapi juga tentang memperkuat ikatan keluarga dalam bingkai iman dan cinta.
Kisah ini bukan sekadar cerita jenaka, tetapi juga mengandung pesan: hari raya adalah momentum untuk menebarkan kegembiraan, keberanian, humor yang sehat, kasih sayang keluarga dan berbagi kebaikan. Nilai-nilai ini menjadikan Idul Fitri bukan hanya kegembiraan lahiriah, tetapi juga kegembiraan iman dan ukhuwah. (MBS)




