Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (5) : Senjata Makan Tuan

Mahmud
Terakhir diupdate: 25 Maret 2026 10:13 10:13 am
Mahmud
Dipublikasikan 25 Maret 2026 10:13
Bagikan
Bagikan

Pada momen hari raya yang identik dengan nuansa bahagia, boleh saja bercanda, tapi ada batasannya. Candaan yang mengandung body shaming, rasis dan semacamnya, meski niatnya guyon lebih baik dihindari supaya tidak merusak nuansanya.

Hidayatullah.com | PENYAIR modern kenamaan Mesir Bernama Mahmud Sami Al-Baroudi  suatu hari −dalam momen hari raya− bercanda dengan sahabatnya yang juga seorang penyair dari bumi kinanah yang dikenal dengan Imam Al-‘Abd.

Sapa Al-Baroudi , “Imam! Apa pendapatmu terkait syair dari Al-Mutanabbi yang awal baitnya demikian? :

عِيْدٌ بِأَيِّ حَالٍ عُدْتَ يَا عِيْدُ … بِمَا مَضَى أَمْ لأَمْرٍ فِيْهِ تَجْدِيْدُ

“Hari raya, dengan keadaan apa engkau kembali wahai hari raya… apakah dengan keadaan yang telah lalu, atau dengan sesuatu yang baru di dalamnya terdapat pembaruan.”

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

Sebenarnya, pertanyan awal dari Al-Baroudi  ini bukan tujuan utama. Justru, bait yang dikehendaki oleh dirinya adalah bait selanjutnya yang isinya ditujukan untuk mencandai Imam Al-‘Abd:

لَا تَشْتَرِ العَبْدَ إِلَّا وَالعَصَا مَعَهُ … إِنَّ العَبِيْدَ لأَنْجَاسٌ مَنَاكِيْدُ

“Janganlah engkau membeli budak kecuali bersama tongkatnya… sesungguhnya para budak itu kotor dan penuh tipu daya.”

Dalam bait ini tersebut kata “al-‘Abd” (budak) yang merupakan nama dari Imam. Melalui syair ini, seolah-olah Al-Baroudi  hendak berkata, “Jangan kau beli Imam Al-‘Abd!”

Lantas bagaimana respon Imam? Dia sadar sedang diroasting oleh Al-Baroudi , apalagi secara fisik kulitnya Imam hitam, hal ini mengingatkan pada konteks perbudakan di masa lalu.

Dengan kecerdasannya, Imam Al-‘Abd segera membalas Mahmud Sami Al-Baroudi  dengan jawaban yang cepat, seketika itu juga, “Memang tidak diragukan lagi, bait syair karya Mutanabbi itu sangat bagus,” lucunya, Imam Al’-‘Abd menyitir bait yang juga ada dalam syair itu, katanya, “Khususnya dalam bait yang berbunyi:

مَا كُنْتُ أَحْسَبَنِي أَحْيَا إِلَى زَمَنٍ … يُسِيْءُ بِي فِيْهِ كَلْبٌ وَهُوَ مَحْمُوْدُ

“Aku tidak pernah menyangka akan hidup sampai pada suatu masa di mana seekor anjing merendahkanku, sementara ia dipuji.” (Najib Al-Bi’aini, Tharāʾif al-Syuʿarāʾ fī Majālis al-ʾUdabāʾ, 1994: 49).

Jawaban ini seketika membungkam Al-Baroudi . Dengan syair ini, seakan Imam Al-‘Abd mengatakan bahwa Al-Baroudi  laksana anjing hina meski mahmud (dipuji orang). Sesuai dengan nama depan Al-Baroudi .

Seharusnya, sesuai arti nama Mahmud, hendaknya perilakunya sebagai orang Islam adalah terpuji: tidak mengejek orang hanya karena status atau kulitnya. Rupanya nama tak sesuai perilaku. Persis seperti syair balasannya: bagai seekor anjing hina yang dipuji.

Sebagai sahabat, tentu ini hanya sekadar bercanda dan sebagai bagian dari meramaikan hari raya.

Sebagai tambahan informasi: syair ini merupakan puncak amarah dan kekecewaan Al-Mutanabbi terhadap penguasa Mesir, Kafur al-Ikhshidi (mantan budak asal Ethiopia), yang ditulis tepat satu hari sebelum sang penyair melarikan diri secara sembunyi-sembunyi pada hari raya tahun 350 H. Konteks utamanya adalah janji palsu; Al-Mutanabbi datang ke Mesir dengan harapan diberikan jabatan gubernur atau wilayah kekuasaan, namun Kafur yang cerdik terus menunda janji tersebut karena menganggap ambisi politik sang penyair terlalu berbahaya. Merasa terhina karena telah merendahkan martabatnya demi memuji seorang mantan budak tanpa hasil, Al-Mutanabbi menggubah puisi ini sebagai bentuk balas dendam literer yang sangat tajam.

Inilah yang dijadikan materi roasting Al-Baroudi  yang awalnya hendak menyerang Imam Al-‘Abd, kemudian ternyata senjata makan tuan: mengenai dirinya sendiri. Syair dibalas dengan syair.

*****

Dari kisah jenaka ini, meski ini sebenarnya canda antar sahabat sastrawan, kita belajar bahwa candaan yang menyerang fisik (body shaming) atau rasisme tetaplah sebuah kesalahan meskipun dilakukan di hari raya yang penuh tawa dan bahagia.

Al-Baroudi mencoba mencandai warna kulit Imam Al-’Abd dengan menyitir syair Al-Mutanabbi yang rasis, padahal Islam telah menghapuskan segala bentuk sentimen warna kulit sebagai standar kemuliaan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersyukur dan mempertegas kesetaraan manusia dalam khotbahnya:

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَىٰ أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَىٰ عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَىٰ أَسْوَدَ وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَىٰ أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَىٰ

“Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas non-Arab, tidak pula kulit merah atas kulit hitam, kecuali dengan ketakwaannya.” (HR. Baihaqi)

Selain itu, peristiwa ini menunjukkan bahwa lisan yang tidak terjaga dapat berbalik melukai pemiliknya sendiri, terutama saat digunakan untuk merendahkan sesama Muslim. Niat Al-Baroudi untuk bercanda justru berujung pada rasa malu karena serangan baliknya yang sangat cerdik dari Imam Al-’Abd.

Hal ini mengingatkan kita pada nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya mengenai pentingnya menjaga kehormatan orang lain agar tidak dijatuhkan oleh lisan sendiri:

يَا بُنَيَّ، إِنَّ مِنَ الْكَلَامِ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنَ الْحَجَرِ، وَأَنْفَذُ مِنَ الْإِبَرِ، وَأَمَرُّ مِنَ الصَّبْرِ، وَأَحَرُّ مِنَ الْجَمْرِ. وَإِنَّ مِنَ الْقُلُوبِ مَزَارِعَ، فَازْرَعْ فِيهَا الْكَلِمَةَ الطَّيِّبَةَ، فَإِنْ لَمْ تَنْبُتْ كُلُّهَا نَبَتَ بَعْضُهَا»

“Wahai putraku, sesungguhnya ada perkataan yang lebih keras daripada batu, lebih menembus (tajam) daripada tusukan jarum, lebih pahit daripada jadam (pohon pahit), dan lebih panas daripada bara api. Sesungguhnya hati itu laksana ladang-ladang, maka tanamlah di sana perkataan yang baik; karena jika tidak tumbuh semuanya, niscaya akan tumbuh sebagian darinya.” (Al-Wathwath, Ghuraru al-Khashāish al-Wādhihah, 2008: 231).

Di sisi lain, ketenangan Imam al-‘Abd dalam membalas sindiran dengan kecerdasan sastra mengajarkan kita untuk tidak cepat terpancing emosi negatif saat dihina. Dibanding membalas dengan makian, ia menggunakan teknik tawriyah (makna ganda) yang elegan untuk membalikkan ejekan tersebut kepada nama Al-Baroudi sendiri. Inilah esensi dari perintah Allah SWT dalam menghadapi keburukan lisan dengan cara yang lebih beradab:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam.’” (QS. Al-Furqan [25]: 63).

Terakhir, kisah ini menjadi cermin bahwa hari raya seharusnya menjadi momentum untuk saling memuliakan, bukan mencari celah kekurangan saudara sendiri. Kegembiraan hari raya yang murni lahir dari hati yang bersih, bukan dari tawa di atas penderitaan orang lain. Sebagaimana perkataan Imam Hasan al-Bashri rahimahullah yang menekankan bahwa esensi hari raya adalah tentang ketaatan dan kebersihan hati, bukan sekadar baju baru atau candaan yang melampaui batas:

كُلُّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللَّهُ فِيهِ فَهُوَ عِيدٌ

“Setiap hari di mana Allah tidak didurhakai di dalamnya, maka hari itu adalah hari raya.” (Ibnu Rajab, Lathā’ifu al-Ma’ārif, 485). Silakan berbahagia di hari raya, tapi tidak lepas dari bingkai takwa. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hari rayaHeadlineKisah Jenaka
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Antara Qadha dan Syawal: Bolehkah Satu Kali Puasa Menggabungkan Dua Niat?
Tulisan selanjutnya Seorang siswa Palestina di Jalur Gaza mengais buku dari sekolah yang hancur Swedia Danai 400 Sekolah di Gaza Lewat Bantuan Senilai 1,2 Miliar Dolar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kibarkan Bendera Palestina, Ratusan Warga Yunani Hadang Kapal Pesiar Wisatawan ‘Israel’

Berita
15 Agustus 2026 05:00
Data Korban Gempa NTT: 68 Meninggal Dunia, 213 Luka-Luka
19 Kota di Dunia Gelar Aksi Demo, Desak Blokade Gaza Segera Dibuka
Kecam Pengakuan Kolombia atas Kedaulatan ‘Israel’ di Golan, Oman: Melanggar Hukum Internasional
Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah

Terbaru

  • 19 Kota di Dunia Gelar Aksi Demo, Desak Blokade Gaza Segera Dibuka
  • Data Korban Gempa NTT: 68 Meninggal Dunia, 213 Luka-Luka
  • Makin Banyak Warga ‘Israel’ Pergi, Hanya Sedikit yang Kembali
  • 7.968 Rumah dan 744 Fasum Rusak Akibat Gempa di NTT
  • ‘Israel’ dan Board of Peace Bentuk Dua Komite Gaza, Apa Tujuannya?
  • Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
  • Nasib Pengungsi Rohingya, Mau Pulang Harus Minta Izin Pemerintah Myanmar
  • Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China

Mungkin Anda Juga Suka

Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Kajian

Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh

24 Juni 2026 14:35
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?