Jawad, seorang bayi Palestina kembali ke rumah di Jalur Gaza dengan tubuh terluka, sementara ayahnya belum juga ditemukan karena ditangkap tentara penjajah ‘Israel’
Hidayatullah.com | TANGIS Jawad pecah begitu tubuh kecilnya dipeluk kembali oleh keluarga. Bayi itu belum cukup umur untuk memahami apa yang telah menimpanya, tetapi luka di kakinya, demam yang tak reda, dan malam-malam yang dipenuhi tangisan telah cukup menjadi bahasa duka bagi rumah kecil mereka di Gaza tengah.
Di hari yang seharusnya diisi tawa Idul Fitri, keluarga Abu Nassar justru menyambut pulang seorang anak dengan tubuh terluka—tanpa sang ayah yang membawanya pergi.
Apa yang terjadi bermula pada hari kedua Idul Fitri, ketika Osama Abu Nassar keluar rumah sambil menggendong putranya, Jawad. Menurut keterangan keluarga, Osama semula berpamitan untuk membeli permen bagi anaknya.
Namun bukannya menuju tempat keramaian, ia justru berjalan ke arah timur, mendekati kawasan terbuka dekat kamp pengungsi Al-Maghazi, wilayah yang dikenal warga sebagai area berbahaya di dekat garis militer penjajah ‘Israel’.
Keluarga yang menyadari arah langkahnya segera panik. Dari kejauhan, mereka mengaku melihat Osama terus berjalan sambil membawa Jawad di pundaknya, tanpa menghiraukan ancaman di sekelilingnya.
Menurut penuturan keluarga, kondisi kejiwaan Osama belakangan memburuk setelah kehilangan sumber penghidupannya akibat serangan beberapa waktu sebelumnya. Hari itu, mereka tak sempat menghentikannya.
Di sekitar lokasi, menurut keterangan saksi yang dikutip media Palestina dan Anadolu Agency, tembakan terdengar meletus. Osama dilaporkan terluka di bahu.
Dalam situasi itu, sebuah drone disebut memberi perintah agar ia meletakkan bayinya di tanah, menanggalkan pakaiannya, lalu mendekati posisi tentara Israel. Sejak saat itu, ayah dan anak tersebut hilang dari pandangan keluarga.
Berjam-jam kemudian, keluarga menerima kabar dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) bahwa sang bayi akan dikembalikan. Tetapi Osama tidak ikut pulang.
Jawad diserahkan kepada keluarganya dalam keadaan lemah. Menurut keluarganya, pakaian bayi itu berlumur darah, sementara tubuhnya terus bergetar karena tangis yang tak berhenti.
Saat diperiksa lebih lanjut, keluarga mendapati luka pada kakinya. Laporan medis yang dikutip sejumlah media menyebut terdapat luka bakar dan luka tusuk pada bagian kaki anak tersebut.
Dokter di RS Al-Aqsa Martyrs, sebagaimana dikutip dalam laporan itu, menilai luka yang dialami Jawad tidak tampak seperti cedera akibat serpihan atau tembakan. Keluarga menduga bayi itu mengalami penyiksaan saat berada dalam penahanan.
Namun hingga kini, rincian kejadian tersebut belum diverifikasi secara independen oleh lembaga internasional.
Sejak kembali ke rumah, kondisi Jawad disebut terus menurun. Ia mengalami demam, muntah, sulit tidur, dan sering menangis pada malam hari. Ibunya kini menjaganya hampir tanpa henti, merawatnya dengan segala keterbatasan yang ada.
Di tengah blokade, rumah sakit yang kewalahan, dan kehidupan yang telah lama dipenuhi kehilangan, keluarga itu kini hanya berusaha menjaga agar Jawad tetap bertahan.
Sementara itu, keberadaan Osama Abu Nassar masih belum diketahui. Keluarga mendesak adanya campur tangan organisasi internasional untuk menelusuri nasibnya dan memastikan penyelidikan atas apa yang menimpa ayah dan anak tersebut.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari militer Israel terkait tuduhan dalam kasus ini.
Kasus Jawad muncul di tengah sorotan yang lebih luas mengenai dugaan kekerasan terhadap tahanan Palestina selama perang berlangsung.
Committee to Protect Journalists (CPJ), serta sejumlah laporan internasional yang juga dikutip media seperti The Guardian, sebelumnya menyoroti kesaksian para tahanan yang mengaku mengalami kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi selama penahanan.
PBB dan sejumlah organisasi hak asasi manusia juga telah menyuarakan kekhawatiran atas dugaan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter di Gaza.
Namun bagi keluarga Abu Nassar, semua itu kini terasa sangat dekat dan sangat pribadi. Perang yang selama ini hadir dalam suara ledakan, laporan korban, dan deretan statistik, mendadak menjelma menjadi luka di kaki seorang bayi—dan kursi kosong yang ditinggalkan ayahnya di rumah.*




