Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juni 2026 17:06 5:06 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juni 2026 17:06
Bagikan
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Bagikan

Hidayatullah.com – Dalam politik, kemenangan besar itu candu. Sekaligus ilusi yang berbahaya. Begitu menang mutlak, orang langsung merasa kekuasaan akan langgeng. Ambyar. Sejarah dunia justru mencatat sebaliknya: mandat raksasa bisa menguap secepat kilat. Penyebabnya satu. Pemerintah gagal mengelola ekspektasi rakyat yang telanjur melambung tinggi.

Lihatlah Inggris. Tengok apa yang menimpa Perdana Menteri Keir Starmer dan Partai Buruh di sana.

Tahun 2024 lalu, Starmer adalah pahlawan. Dia memimpin Partai Buruh menang mutlak. Menumbangkan dominasi Partai Konservatif yang sudah berkuasa lebih dari satu dekade. Saat itu, Starmer dipuja sebagai simbol perubahan. Dialah oase bagi rakyat Inggris yang sudah lelah dengan drama politik dan cekikan ekonomi.

Tapi, itu cerita tahun lalu. Sekarang? Dukungannya merosot tajam. Kemenangan besar yang dikira awal era baru, kini berubah jadi beban sejarah yang teramat berat.

Saya langsung teringat pesan mendalam almarhum Mohammad Natsir. Tokoh besar bangsa kita. Pak Natsir pernah mengingatkan: banyak pejuang berhenti mendayung karena merasa perahunya sudah hampir sampai ke pantai. Padahal, mereka masih di tengah arus kuat. Begitu dayung dilepas, arus akan menyeret mereka ke arah yang tak terduga.

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

Itulah yang terjadi pada Starmer. Dia berhenti mendayung.

Memenangkan pemilu dan mengelola negara itu dua ilmu yang berbeda. Jauh berbeda.
Saat jadi oposisi, Partai Buruh sukses meyakinkan rakyat bahwa rezim Konservatif harus tumbang. Itu mudah. Tapi begitu kekuasaan di tangan, rakyat mulai menagih hal yang lebih besar. Bukan lagi soal siapa yang harus diusir dari Downing Street, tapi mau dibawa ke mana Inggris ini?
Di sinilah Starmer gagap.

Banyak pemilih melihat pemerintahannya memang efisien. Tapi dingin. Gagal menawarkan cetak biru masa depan. Manajemennya bagus, tapi tidak menginspirasi. Administrasinya rapi, tapi tidak menerbitkan harapan.

Ini penyakit universal bagi semua gerakan perubahan di dunia. Menang karena berhasil menelanjangi borok penguasa lama itu satu hal. Tapi merawat dukungan rakyat hanya bisa dilakukan jika Anda punya visi besar yang konkret.

Sebab, rakyat tidak cuma memilih perubahan. Rakyat memilih harapan.

Pelajaran kedua: harapan rakyat itu selalu mengendarai jet pribadi, sementara kebijakan pemerintah naik kereta ekonomi. Selalu lebih cepat harapan rakyat.

Starmer memang ketiban sial. Dia mewarisi ekonomi yang keropos, utang mengunung, dan biaya hidup yang mencekik. Itu semua dosa rezim lama. Tapi, mana mau rakyat tahu? Rakyat jarang memilah mana masalah warisan masa lalu dan mana masalah yang gagal diselesaikan hari ini.
Ukuran rakyat itu sederhana saja. Sangat sederhana.

Apakah hari ini perut mereka lebih kenyang? Apakah hidup mereka lebih mudah?

Jika jawabannya belum jelas, maka berubahlah tepuk tangan menjadi makian.
Ini hukum alam di semua negara demokrasi. Reformasi ekonomi dan perbaikan tata kelola itu butuh waktu tahunan. Tapi isi dompet rakyat dinilai setiap hari. Harga telur, tarif listrik, lapangan kerja, dan cicilan bulanan akan selalu menjadi rapor utama sebuah pemerintahan.

Maka, kerja benar saja tidak cukup. Pemerintah harus cerewet menjelaskan kepada rakyat mengapa sebuah kebijakan pahit harus diambil, dan kapan manisnya bisa dirasakan.

Pelajaran ketiga: Starmer kalah dalam perang narasi.

Dalam banyak badai isu, pemerintahannya selalu defensif. Lebih banyak bereaksi terhadap serangan lawan politik ketimbang menyetir agenda nasional. Akibatnya, oposisi sukses merebut panggung sebagai pembela kemarahan rakyat. Sementara Starmer terpojok di sudut ring.
Di era modern, fakta saja tidak mempan. Fakta butuh narasi.

Rakyat tidak akan ingat angka-angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Rakyat hanya ingat cerita. Cerita yang memberi makna bagi hidup mereka. Biar saja investasi naik triliunan rupiah, tapi kalau gagal diterjemahkan ke dalam bahasa pasar, manfaat politiknya nol besar.

Pelajaran keempat: penyakit dalam selimut.

Kemerosotan Starmer dipercepat oleh gaduh di rumahnya sendiri. Konflik internal Partai Buruh bocor ke mana-mana. Perbedaan faksi dipamerkan secara telanjang. Publik menangkap kesan: Perdana Menteri kehilangan kendali atas timnya sendiri.

Rakyat mafhum kalau ada beda pendapat di kabinet. Tapi rakyat benci melihat pemimpin yang tidak tegas mengelola anak buahnya. Sering kali, sebuah takhta jatuh bukan karena hantaman palu godam musuh, melainkan karena rayap di tiang penyangga sendiri.

Terakhir, politik ternyata bukan cuma soal kompetensi.

Starmer itu orang serius. Berwibawa. Administrator yang jempolan. Tapi sayang, dia kering. Rakyat gagal menangkap getaran cita-cita besar dari dadanya. Tidak ada ikatan emosional yang kuat antara pemimpin dan yang dipimpin.

Di sinilah relevansi kedua dari pesan Pak Natsir. Setelah merebut kemenangan, tugas sejati seorang pemimpin bukanlah sibuk mengagumi kemenangan itu. Tugas sebenarnya adalah membangun masyarakat. Kekuasaan itu cuma alat, bukan tujuan. Tujuannya adalah menghadirkan perubahan nyata yang bisa dirasakan sampai ke dapur-dapur rakyat.

Kisah Keir Starmer di Inggris bukan sekadar dongeng dari negeri seberang. Ini adalah peringatan keras bagi semua politisi di tanah air.

Bahwa ketukan palu hasil pemilu bukanlah garis finish. Kemenangan hanyalah tiket masuk menuju ruang ujian yang sesungguhnya.
Rakyat bisa memberi Anda mandat hari ini karena mereka ingin nasibnya berubah. Tapi mereka tidak akan ragu menarik kembali mandat itu esok hari, jika Anda hanya duduk manis di kursi empuk kekuasaan.

Pinjam istilah Pak Natsir: kita ini belum sampai ke pantai.

Maka, jangan pernah berhenti mendayung.

Sebab dalam politik, persis di saat seseorang merasa perjuangannya sudah selesai, di titik itulah lonceng kematian politiknya mulai berbunyi.*Didi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:inggrisKeir StarmerMohammad Natsirpolitik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
Tulisan selanjutnya Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pemerintahan Baru Kolombia Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’

Berita
8 Agustus 2026 16:00
Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
Ukraina Tidak akan Pernah Bergabung dengan NATO, Kata Mantan Jenderal Ternama
Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG
Presiden Iran Kesulitan Berkomunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei

Terbaru

  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi
  • Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
  • Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
  • Militer Uganda Beri Penghormatan Abang Benyamin Netanyahu dengan Patung Memorial di Entebbe
  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
  • Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
  • Pelajar Pelaku Penembakan di Sekolah Bergengsi Thailand Pendiam dan Kerap Main Game Kekerasan

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?