oleh: Ridwan Ma’ruf
Frasa “pena muballigh menentukan masa depan peradaban Islam” adalah metafora yang menekankan bahwa tulisan, karya intelektual, dan dakwah berbasis literasi dari para ulama/pendakwah memiliki peran krusial dalam membentuk arah, kemajuan, dan kejayaan umat Islam di masa depan.
Dalam sejarah Islam, ungkapan ini sejalan dengan tradisi keilmuan para ulama besar yang karya tulisnya (kitab-kitab) terbukti mampu menjaga peradaban Islam hingga hari ini.
Pemikiran cendekiawan masa lalu diabadikan melalui pena, menjadikannya fondasi bagi peradaban modern. Tulisan para muballigh atau cendekiawan muslim menjadi rujukan dalam memahami agama, moralitas, sains, dan sosial.
Pemikiran yang tertuang dalam buku atau artikel akan terus memandu generasi penerus. Oleh karenanya diharapkan Peradaban Islam akan terus berkembang, melalui pena, para muballigh dapat merumuskan ijtihad dan solusi atas masalah-masalah modern (seperti ekonomi syariah, etika politik, dan teknologi), sehingga Islam tetap relevan, progresif, dan sesuai dengan intelektual kritis yang konstruktif pada setiap jamannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Az Zumar ayat 9:
أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
Ayat ini adalah landasan teologis utama bagi jihad literasi, yaitu membaca, menulis, dan menyebarkan ilmu. Dan ayat ini juga menegaskan keutamaan kedudukan orang yang berilmu (memiliki literasi dan pengetahuan) dibandingkan yang tidak.
Dalam konteks pena Muballigh jika dihubungkan dengan ayat tersebut, maka terkandung makna perintah kepada para Dai disamping melakukan berdakwah Bil Hal, juga pentingnya untuk melakukan dakwah Bil Qolam (Pena Tulisan). Sebagaimana Sebuah Analogi sedehana seperti menulis resep dokter. Resep itu ditulis agar pasien tahu obat apa yang harus diminum untuk sembuh. Sama seperti dakwah dengan media, maka tulisan-tulisan Muballigh dalam bentuk artikel, dan atau buku itu diibaratkan seperti “resep” agar manusia tahu jalan kebaikan menuju surga.
Mengapa demikian? karena berdakwah Bil Qolam itu dipandang cukup efektif dan efisien sebagai media dakwah dalam menyampaikan pesan-pesan suci dari Ilahi kepada umat alam semesta. Oleh karenanya ayat di atas memotivasi umat Islam pada umumnya, dan Muballigh pada khususnya untuk terus menghidupkan semangat membaca, menulis, melakukan observasi (tadabur) terhadap kondisi terkini keumatan, dan menyebarkan ilmu yang diiringi dengan keimanan dan akhlak mulia.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Ankabut ayat 18 :
وَإِن تُكَذِّبُوا۟ فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِّن قَبْلِكُمْ ۖ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ
“Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”.
Ayat ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kebenaran adalah sebagai bentuk ujian dakwah para Da’i, sedangkan tugas utama setiap para Da’i hanyalah menyampaikan ajaran Allah dengan jelas di atas landasan Ilmu dan Akhlakul Karimah. Ini berarti dakwah berlandaskan bukti, logika, dan pemahaman lewat pena adalah cara atau metode yang paling efektif untuk menentukan arah peradaban Islam yang akan datang.
Di era digital saat ini, maka pena mewakili literasi, karya tulis, dan konten positif. Berdakwah dengan pena digunakan untuk meluruskan narasi yang menyimpang dan memberikan kritik yang konstruktif sekaligus solusi atas berbagai persoalan sosial.
Maka jelaslah dalam hal Dakwah Bil Qolam, adalah merupakan pilihan bagi para Muballigh yang tidak atau belum terbiasa berdakwah dari mimbar ke mimbar.
Dengan begitu Dakwah dengan pena yang disampaikan dengan hikmah (kebijaksanaan) akan memberikan kesan yang mendalam dan terpatri kuat dihati para pembaca (Mad’u) untuk melakukan perubahan sikap, dan perbuatan kearah yang lebih baik dari sebelumnya.
Oleh karenanya berdakwah melalui tulisan sangat penting karena tulisan bersifat abadi, dapat menembus batas ruang dan waktu, serta mampu menjangkau jutaan pembaca.
Dakwah ini menjadi sarana dakwah yang efektif, mengabadikan ilmu, dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Berikut adalah faktor-faktor yang menjadikan dakwah dengan tulisan ( Pena atau Digital ) yang akan menentukan arah peradaban Islam yang akan datang , yaitu:
Menghidupkan Tradisi Observasi (Tadabur)
Tulisan memungkinkan pembaca untuk membaca ulang, merenungkan (mentadaburi) isi pesan, dan menjadikannya rujukan kapan saja mereka membutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam surat shad ayat 29:
كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS: Shad: 29)
Dalam ayat ini terkandung makna agar dai yang berdakwah melalui literasi (membaca dan menulis), untuk memperhatikan materi dakwahnya. Hal itu agar masyarakat dapat mengikuti seruan dakwah secara sukarela tanpa paksaan.
Ilmu Pengetahuan dengan Kesantunan Pena
Bagi para muballigh yang memilih jalan berdakwah dengan pena dan mengedepankan watak, dan karakter yang ramah, serta santun kepada obyek dakwahnya, adalah cara utama untuk melestarikan ajaran dan pemikiran Islam agar tidak mudah diubah oleh zaman.
Sedangkan berdakwah tanpa pena dan keramah tamahan (budaya santun), maka sejarah dan ilmu agama akan hilang, dan ditinggalkan oleh followersnya (pengikutnya).
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Ayat ini menegaskan, dakwah dengan pena adalah media dakwah yang efektif dalam membangun peradaban Islam berkemajuan. Dan peradaban itu sendiri haruslah dimaknai dengan dakwah berdasarkan Ilmu dan Akhlak yang baik dalam menyampaikan pesan wahyu dari Allah Ta’ala kepada semua manusia.
Menjawab Perang Pemikiran
Disamping tulisan adalah media dakwah yang efektif, juga sebagai senjata efektif dan efisien untuk membendung hoaks atau pemikiran menyimpang.
Aktivitas ini juga menjadi sarana untuk meluruskan kesalahpahaman tentang ajaran Islam di ruang publik. Allah Ta’ala berfirman dalam surat An Nahl ayat 125:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini mengandung arti, bahwa Allah memerintahkan kepada para Da’i agar menyeruh manusia menuju agama Islam dengan cara yang penuh kebijaksanaan dan memberi mereka pelajaran yang bermanfaat dengan penuh kelembutan, serta mendebat orang-orang yang menyelisihinya dengan cara yang baik dan dengan dalil-dalil yang kuat.
Kesimpulan
Dakwah dengan pena adalah sarana abadi yang melestarikan ilmu, membentuk pola pikir masyarakat, dan menjadi fondasi utama kemajuan peradaban. Karya tulis seorang muballigh menjadi referensi yang bertahan melintasi zaman, menjangkau audiens yang lebih luas dan terdidik, serta menjadi penentu arah masa depan umat Islam. Wallaahu ‘Alamu Bish Shawwab.*
Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Sidoarjo (2024–2029).
Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf PDM Kab. Sidoarjo (2022–2027)




